Transformasi Berbuah Manis, Laba BRI Tembus Rp31,2 T di Semester I-2026

- BRI membukukan laba bersih konsolidasi Rp31,2 triliun pada semester I-2026, tumbuh 17,5 persen secara tahunan dari Rp26,53 triliun pada periode sama 2025.
- Manajemen menyebut transformasi bisnis, efisiensi, digitalisasi, dan penguatan manajemen risiko menopang kinerja, sambil menjaga pembiayaan produktif serta ekonomi kerakyatan secara prudent.
- Kredit dan pembiayaan naik 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun; aset mencapai Rp2.352 triliun, sementara NPL gross turun 3,15 persen dan DPK tumbuh menjadi Rp1.581 triliun.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp31,2 triliun pada semester I-2026.
Capaian tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan Rp26,53 triliun pada semester I-2025.
1. Faktor penopang pertumbuhan laba

Ilustrasi Laba Perusahaan. (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari transformasi menyeluruh yang dilakukan manajemen secara konsisten.
Menurut Hery, kinerja tersebut ditopang oleh fundamental bisnis yang sehat, efisiensi operasional, digitalisasi, serta penguatan manajemen risiko yang dilakukan secara pruden.
"Transformasi ini adalah buah dari apa yang kita lakukan. Kita melihat bahwa laba ini merupakan hasil transformasi yang dilakukan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI. Kita sudah mencanangkan transformasi, baik dari sisi penguatan bisnis, penguatan budaya efisiensi, digitalisasi maupun pengelolaan manajemen risiko yang tetap kuat," ujarnya dalam konferensi pers pemaparan kinerja BRI di Jakarta, Senin (31/8/2026).
2. Kualitas pertumbuhan BRI juga semakin meningkat

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Hery menuturkan, BRI tidak hanya berfokus mengejar pertumbuhan yang cepat, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan tersebut tetap terjaga secara berkelanjutan.
Akselerasi pembiayaan pada sektor produktif dan ekonomi kerakyatan, kata dia, tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian ( ).
"Jadi BRI tidak hanya tumbuh lebih cepat, tetapi kualitas pertumbuhannya juga semakin baik. Bagi BRI, mendukung program pemerintah dan menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan bersama agar pertumbuhan yang kami hasilkan hari ini dapat menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang," kata Hery.
3. Kinerja semester I juga ditopang fungsi intermediasi

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama) Kinerja laba bersih BRI juga ditopang oleh pertumbuhan fungsi intermediasi dan perbaikan struktur pendanaan sepanjang enam bulan pertama 2026.
Secara konsolidasi, total kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Penyaluran kredit ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih mendominasi dengan porsi 75,1 persen, tumbuh 8,6 persen yoy.
Seiring dengan ekspansi kredit tersebut, kualitas aset tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 3,15 persen, sedangkan NPL net berada di level 1,04 persen.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy. Dana murah atau current account savings account (CASA) mendominasi struktur pendanaan dengan porsi 67,6 persen dan tumbuh 10,1 persen yoy.
4. Total kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun

Gedung BRI (Dok. BRI) Kinerja laba bersih BRI juga ditopang oleh pertumbuhan fungsi intermediasi dan perbaikan struktur pendanaan sepanjang enam bulan pertama 2026.
Secara konsolidasi, total kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Penyaluran kredit ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih mendominasi dengan porsi 75,1 persen, tumbuh 8,6 persen yoy.
Seiring dengan ekspansi kredit tersebut, kualitas aset tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 3,15 persen, sedangkan NPL net berada di level 1,04 persen.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy. Dana murah atau current account savings account (CASA) mendominasi struktur pendanaan dengan porsi 67,6 persen dan tumbuh 10,1 persen yoy.
"Pertumbuhan kredit dan pendanaan tersebut turut mendorong total aset BRI naik 11,57 persen yoy menjadi Rp2.352 triliun," jelasnya.




















![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin Ini, Kami Tebak Potensi Kariermu](https://image.idntimes.com/post/20260418/1000232033_f37515da-3b65-41de-a721-1bb5306f1320.jpg)