Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pertamina Gandeng MIND ID Sulap Batu Bara Jadi Pengganti LPG

Kantor Pusat Pertamina di Gambir, Jakarta Pusat. (dok. Pertamina)
Kantor Pusat Pertamina di Gambir, Jakarta Pusat. (dok. Pertamina)
Intinya sih...
  • Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa menekankan pentingnya kerja sama antar-BUMN dalam pembangunan sistem energi nasional.
  • Pertamina berperan sebagai offtaker dan pengelola distribusi produk hilirisasi batu bara, seperti DME, SNG, dan metanol, untuk menggantikan impor LPG.
  • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memproyeksikan konsumsi LPG nasional akan mencapai 10 juta ton pada 2026, sementara produksi domestik hanya di kisaran 1,3–1,4 juta ton.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Pertamina (Persero) bersama MIND ID memperkuat kerja sama dalam pengembangan hilirisasi batu bara untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional, sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Kerja sama tersebut difokuskan pada pengolahan batu bara menjadi energi alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG). Batu bara akan diubah melalui proses gasifikasi menjadi Synthetic Natural Gas (SNG), lalu diproses lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME). DME dirancang sebagai bahan bakar substitusi LPG.

Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan kerja sama strategis antara Pertamina dan MIND ID yang disaksikan Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santoso, pada Jumat (9/1/2026).

Kolaborasi tersebut diklaim sebagai bagian dari peran badan usaha milik negara (BUMN) energi dan pertambangan dalam menjalankan agenda hilirisasi dan industrialisasi yang ditetapkan pemerintah.

1. Danantara tekankan pentingnya kerja sama antar-BUMN

WhatsApp Image 2025-06-30 at 11.30.02.jpeg
Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Sigit menjelaskan, kerja sama Pertamina dan MIND ID mencerminkan pendekatan terintegrasi dalam pembangunan sistem energi nasional. Menurutnya, Indonesia membutuhkan diversifikasi sumber energi untuk menopang pembangunan jangka panjang.

"Kolaborasi dan sinergi antar-BUMN strategis dapat memperkuat fondasi energi nasional. Hilirisasi berbasis teknologi menjadi instrumen penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus membangun sistem energi yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi jangka panjang," kata Sigit dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/1/2026).

2. Pertamina jadi offtaker

20251110_144108.jpg
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri. (IDN Times/Trio Hamdani)

Dalam kerja sama ini, Pertamina berperan sebagai offtaker sekaligus pengelola distribusi. Dengan jaringan infrastruktur yang dimiliki, Pertamina akan menyalurkan produk hilirisasi batu bara, seperti DME, SNG, dan metanol, kepada masyarakat dan industri sebagai pengganti energi yang selama ini dipenuhi melalui impor.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan kerja sama tersebut sebagai langkah penting dalam upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Pertamina, dijelaskannya, akan memanfaatkan infrastruktur distribusinya untuk mendukung penyerapan produk hilirisasi batu bara tersebut.

"Sebagai tulang punggung energi nasional, kami berkomitmen mengoptimalkan infrastruktur distribusi Pertamina untuk mendukung hilirisasi ini melalui kerja sama dengan MIND ID. Ini adalah langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah," kata Simon.

Sementara itu, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyatakan kerja sama dengan Pertamina merupakan bagian dari penguatan struktur industri nasional. Menurutnya, pengembangan rantai nilai mineral, batu bara, dan energi di dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dan daya saing industri nasional.

"Melalui kerja sama dengan Pertamina, MIND ID berkomitmen mendorong hilirisasi yang memberikan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang," kata Maroef.

3. Konsumsi LPG tembus 10 juta ton

IMG-20251204-WA0005.jpg
Pengecekan LPG oleh petugas Pertamina. Dok. Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan konsumsi LPG nasional akan mencapai 10 juta metrik ton pada 2026. Sementara itu, produksi domestik diperkirakan hanya berada di kisaran 1,3–1,4 juta metrik ton.

Dengan kondisi tersebut, pengembangan coal to DME dan coal to SNG oleh Pertamina, serta MIND ID diposisikan sebagai upaya untuk menutup selisih kebutuhan LPG nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More

Love Scam Marak di Mana-mana, OJK Minta Publik Waspada

11 Jan 2026, 09:01 WIBBusiness