Pelaku Usaha Tekankan Pentingnya Industri Alat Berat di Proyek WTE

- Industri alat berat terlibat dalam proyek WTE
- WTE adaptasi sistem feeding dan handling
- Pemerintah bidik operasi perdana pembangkit sampah 2027
Jakarta, IDN Times - Keberhasilan proyek Waste to Energy (WTE) dinilai tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembangkit atau tungku pembakaran. Pelaku industri menilai sistem penanganan dan pergerakan limbah justru menjadi fondasi utama operasional fasilitas WTE.
Tanpa dukungan alat berat yang tepat, proyek WTE berisiko menghadapi pasokan limbah yang tidak stabil, tingkat gangguan operasional tinggi, hingga lonjakan biaya yang memengaruhi kelayakan ekonomi.
Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa (MCP) Adrianus Hadiwinata menyampaikan dukungan terhadap agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan perlu dibarengi kesiapan sistem operasional di lapangan.
"Kami melihat bahwa keberhasilan proyek Waste To Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).
1. Industri alat berat ikut masuk proyek WTE

Adrianus menyatakan terlibat dalam penguatan sistem operasional proyek WTE, khususnya pada aspek penanganan dan pergerakan limbah. Perusahaan alat berat itu menyasar peran di sepanjang rantai pengelolaan limbah, mulai dari tahap awal pengolahan hingga proses feeding ke fasilitas WtE.
Sejumlah proyek disebut telah berjalan, salah satunya pengembangan WTE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta. Selain itu, MCP juga terlibat dalam inisiatif Refuse-Derived Fuel (RDF) yang telah dimulai sejak Juli 2025.
Pengalaman penerapan RDF di tingkat regional, termasuk untuk kebutuhan industri semen di Thailand, menjadi rujukan kesiapan operasional di lapangan berpengaruh terhadap keberlanjutan proyek pengolahan limbah menjadi energi.
2. WTE manfaatkan sistem feeding dan handling

Pada tahap feeding limbah, MCP menggunakan sistem berbasis crane melalui Hiab 19000 yang dioperasikan sebagai electric waste feeder. Dua unit alat tersebut telah ditempatkan di proyek WTE Sukabumi untuk menjaga aliran limbah ke lini WTE atau RDF tetap stabil.
Sistem feeding elektrik itu disebut lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel, terutama dalam menekan gangguan operasional.
Selain feeding, pihaknya juga menyiapkan peralatan untuk kebutuhan pemindahan dan penanganan limbah dalam skala lebih besar. Salah satunya melalui penggunaan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang untuk operasi penanganan limbah curah secara berkelanjutan, termasuk menjaga pasokan limbah ke bunker atau conveyor.
"Kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan," ujar Adrianus.
3. Pemerintah bidik operasi perdana pembangkit sampah 2027

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Dia menjelaskan, proses konstruksi umumnya memerlukan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun sejak peletakan batu pertama (groundbreaking), terutama jika kesiapan lahan sudah terpenuhi.
"Jadi pada groundbreaking kan biasanya penyelesaian sekitar 1,5 tahun sampai dengan 2 tahun apabila lahannya sudah tersedia. Jadi diharapkan itu nanti sekitar 2027 sudah ada yang mulai beroperasi," kata dia di JS Luwansa, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Yuliot mengatakan, pemerintah telah menetapkan PLTSa sebagai proyek prioritas di 34 kabupaten dan kota. Untuk seluruh lokasi tersebut, proses evaluasi telah dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).















