Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AFTECH Rilis White Paper Kolaborasi Bank-Pindar untuk Perluas Akses Kredit

Peluncuran White Paper kolaborasi AFTECH dan Mandala Consulting
Peluncuran White Paper kolaborasi AFTECH dan Mandala Consulting (dok. AFTECH)
Intinya sih...
  • Peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan.
  • OJK menyambut baik inisiatif kolaborasi perbankan dan industri pindar untuk memperluas akses pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM.
  • Temuan studi White Paper. Kesenjangan akses kredit di Indonesia dipengaruhi oleh ketatnya persyaratan kredit formal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting resmi meluncurkan White Paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar.” White Paper ini mengeksplorasi kesenjangan akses kredit formal di Indonesia sekaligus potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending.

Peluncuran White Paper tersebut juga sejalan dengan upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperluas inklusi keuangan nasional serta akses terhadap pembiayaan formal.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto mengatakan, stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang terjadi saat ini mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama segmen underbanked. Pendekatan kolaboratif antara perbankan dan pindar saat ini menjadi semakin penting dalam rangka memperluas akses pembiayaan guna mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” tutur Firlie, dikutip Senin (16/2/2026).

1. Meningkatnya kemitraan perbankan dan pindar

Sekjen AFTECH, Firlie Ganinduto
Sekjen AFTECH, Firlie Ganinduto (dok. AFTECH)

Penyusunan white paper ini juga dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan, dari hanya Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.

“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang,” tambah Firlie.

Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi menyampaikan, OJK menyambut baik setiap inisiatif konkret untuk mewujudkan kolaborasi perbankan dan industri pindar yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara inklusif dan bertanggung jawab.

"Dengan tetap mengedepankan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan, dan perlindungan konsumen. Sinergi lintas lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM," ujar dia.

2. Temuan studi White Paper

ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.

Namun, tidak dipungkiri tantangan akses kredit di Indonesia belum bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal. Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sedangkan data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih financially excluded.

Data dari Bank Dunia (World Bank) juga menunjukkan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih relatif rendah dan cenderung stagnan di kisaran 36,4 persenpada periode 2024–2025. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46 persen, maupun negara berpendapatan menengah bawah di 62,72 persen.

Menurut Manggala, kesenjangan ini antara lain dipengaruhi oleh ketatnya persyaratan kredit formal, serta masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional.

Sejalan dengan hasil temuan terkait keterbatasan akses masyarakat terhadap produk keuangan formal di tengah penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75 persen, hasil studi White Paper mengungkap mulai adanya pergeseran pertumbuhan kanal pembiayaan.

Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman yang besar, tetapi pindar menjadi kanal yang tumbuh paling cepat, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 34 persen pada periode 2019-2024. Hal ini lantaran pindar menawarkan dua nilai tambah utama, yaitu membuka akses ke segmen yang selama ini belum tergarap optimal dan mendorong inovasi melalui underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih agile.

"Jadi ini bukan semata persoalan kemampuan ekonomi, melainkan keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya dirancang untuk membaca profil mereka. Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, tetapi belum sepenuhnya tergarap. Pipanya sudah terpasang dan konektivitas sudah tersedia, tapi pembiayaan formal belum sepenuhnya mengalir. Dengan demikian tantangan utamanya terletak pada aspek kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas operasional dan kecepatan untuk merangkul mereka,” tutur Manggala.

Dengan terus meningkatnya penggunaan layanan pindar, disertai penguatan ekosistem industri fintech, tata kelola, model bisnis, serta kapabilitas teknologi yang dimiliki, tingkat kepercayaan institusi keuangan terhadap kanal pembiayaan ini turut mengalami peningkatan.

Studi pun menemukan, bank secara bertahap telah berkembang menjadi penyedia likuiditas utama bagi industri pindar, dengan porsi pendanaan dari perbankan meningkat signifikan dari hanya 15 persenatau sekitar Rp1,5 triliun pada Januari 2021, menjadi 71 persen atau Rp46,6 triliun pada Januari 2025.

Lebih lanjut, Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35 persen mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan pinjaman dari platform pindar.

3. Faktor keberhasilan kolaborasi perbankan dan P2P Lending

ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari sisi industri, Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo mengatakan, percepatan peran pindar dalam ekosistem pembiayaan perlu diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan.

Dalam konteks ini, kesiapan platform pindar untuk beradaptasi dengan standar tersebut menjadi faktor utama agar kolaborasi bank–pindar berhasil dan dapat berkontribusi positif terhadap perluasan akses pendanaan yang berkelanjutan.

“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri. Temuan riset AFTECH bersama Mandala Consulting juga menunjukkan, beberapa bank internasional di Indonesia aktif bekerja sama dengan pindar. Artinya, pindar di Indonesia sudah memiliki tata kelola dan kapabilitas yang dipercaya oleh perbankan, bahkan di level internasional,” tutur Nucky.

Nucky meyakini, nilai dari kemitraan bank dan pindar sangat besar dan dampaknya secara signifikan positif bagi masyarakat, terutama karena model ini berpotensi menutup kesenjangan akses kredit yang dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

Sebagai contoh dampak positif dari penyaluran kredit yang lebih luas berdasarkan riset IMF adalah penyaluran kredit baik multiguna maupun produktif dapat mendorong produktivitas, memperkuat konsumsi, dan memberi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

“Tentunya, kolaborasi bank dan pindar tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kredit. Namun, hal ini membuka ruang pembiayaan baru yang selama ini belum tergarap. Pindar dapat berperan sebagai sandbox bagi peminjam yang baik, dan menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan. Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi salah satu batu loncatan penting menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh,” tutur Nucky.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in Business

See More

AS Desak Kuba Reformasi Ekonominya agar Hindari Kebangkrutan

16 Feb 2026, 13:01 WIBBusiness