Prabowo Kritik Teori Neoliberalisme, Soroti 0,1 Persen Orang Kaya

- Prabowo kritik teori neoliberalisme yang membiarkan kekayaan menumpuk di tangan segelintir orang kaya dengan harapan akan "menetes ke bawah" tidak sesuai dengan kondisi dan sejarah Indonesia.
- Prabowo menyoroti pemikiran pembangunan konvensional yang terlalu menekankan angka pertumbuhan, meragukan realisasi teori tersebut dalam praktiknya, dan menilai pendekatan tersebut tidak tepat diterapkan di Indonesia.
- Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemerataan, sistem yang tidak secara serius mengupayakan pemerataan akan kehilangan manfaat bagi bangsa, negara harus hadir untuk melindungi rakyat dari berbagai ancaman mendasar.
Jakarta, IDN Times - Presiden RI, Prabowo Subianto mengkritik cara pandang pembangunan ekonomi yang bertumpu pada teori neoliberal. Ia menilai, pendekatan yang membiarkan kekayaan menumpuk di tangan segelintir orang kaya dengan harapan akan “menetes ke bawah” ini tidak sesuai dengan kondisi dan sejarah Indonesia. Ia pun menegaskan, pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup jika tidak dirasakan oleh rakyat, terutama kelompok paling bawah.
Prabowo menyoroti pemikiran pembangunan konvensional yang selama ini terlalu menekankan angka pertumbuhan. Menurut dia, ada anggapan bahwa tidak masalah jika kekayaan hanya dinikmati oleh 0,1 persen kelompok kaya.
“Dan ada pemikiran selama ini ya, pemikiran neoliberal biar yang kaya nggak apa-apa biar 0,1 persen, lama-lama menurut teori ini karena pertumbuhan, kekayaan menumpuk nggak apa-apa menumpuk di atas, lama-lama akan menetes ke bawah,” ujar Prabowo dalam pidatonya saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Namun, Prabowo pun meragukan realisasi teori tersebut dalam praktiknya. Ia menyebut realisasinya bisa diimplementasikan sangat lama.
“Ah ini teori, tapi nyatanya netesnya kapan sampai ke bawah, jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua,” tuturnya.
Prabowo menilai pendekatan tersebut tidak tepat diterapkan di Indonesia, negara yang lahir dari perjuangan panjang melawan penjajahan dan dimulai dari kondisi rakyat yang serba kekurangan.
“Ini menurut saya tidak tepat untuk kita, untuk negara seperti kita yang pernah dijajah, yang merdeka karena perjuangan, merdeka karena ratusan tahun perjuangan, di mana waktu kita merdeka ya sebagian besar rakyat kita ya tidak punya apa-apa,” kata dia.
Ia tak memungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang penting. Namun Prabowo menekankan perlunya keberanian para pemimpin untuk melihat apakah pertumbuhan itu benar-benar dirasakan oleh rakyat.
“Ternyata kalau kita hanya mengejar pertumbuhan dan tidak melihat, tidak berani melihat pertumbuhan ini benar-benar dirasakan enggak oleh rakyat yang paling bawah? Di situ, di situ tugas para pemimpin,” ujarnya.
Prabowo menegaskan, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemerataan. Menurutnya, sistem yang tidak secara serius mengupayakan pemerataan akan kehilangan manfaat bagi bangsa.
“Saudara-saudara, pertumbuhan harus disertai oleh pemerataan. Suatu sistem yang tidak cepat mengusahakan, mengupayakan pemerataan, sistem itu kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa,” tegas Prabowo.
Ia mengingatkan kembali tujuan kemerdekaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. “Tujuan kita merdeka adalah untuk membawa kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik untuk seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Prabowo menambahkan, negara harus hadir untuk melindungi rakyat dari berbagai ancaman mendasar seperti kelaparan, kemiskinan, penderitaan, dan penyakit. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para elite dan kaum terpelajar, untuk kembali memahami makna kemerdekaan secara substantif, bukan sekadar simbolik.
















