Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Ditutup Lesu ke Rp16.855 per Dolar AS Dipicu Data AS

Rupiah Ditutup Lesu ke Rp16.855 per Dolar AS Dipicu Data AS
ilustrasi rupiah (pexels.com/Robert Lens)
Intinya sih...
  • Mayoritas mata uang bergerak variatif, di antaranya Bath Thailand menguat 0,13 persen, Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, Won Korea melemah 0,19 persen
  • Data AS picu pelemahan rupiah karena penguatan dolar AS merespons data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Pelaku pasar juga menantikan data penjualan ritel Indonesia sebagai indikator kekuatan konsumsi domestik dan arah ekonomi nasional.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan, Senin (12/1/2026) sore. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.855 per dolar AS per dolar AS.

Mata uang Garuda tercatat terdepresiasi 36 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Mayoritas mata uang bergerak variatif

Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif, dengan ricnian:

  • Bath Thailand menguat 0,13 persen
  • Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen
  • Yuan China menguat 0,03 persen
  • Won Korea melemah 0,19 persen
  • Dolar Taiwan melemah 0,02 persen

2. Data AS picu pelemahan rupiah

Pengamat pasar uang Lukman Leong menyampaikan pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang merespons rilis sejumlah data ekonomi AS pada Jumat pekan lalu. Data tersebut dinilai secara umum lebih kuat dari perkiraan.

Selain sentimen global, pelaku pasar juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang dirilis pagi ini. Data tersebut menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan konsumsi domestik dan arah ekonomi nasional.

3. Isu Trump-Powell tekan indeks dolar AS

Lukman menambahkan, perkembangan terbaru dari AS berpotensi mempengaruhi arah pergerakan rupiah. Presiden AS Donald Trump disebut membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.

Kabar tersebut memicu penurunan indeks dolar AS, yaitu ukuran kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia. Pelemahan indeks dolar membuka peluang bagi rupiah untuk bergerak menguat karena tekanan dari dolar AS mulai berkurang.

"Perkembangan terbaru, Trump membuka penyelidikan kirminal atas Powell, ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam sehingga rupiah berpotensi menguat," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Laju Bullish IHSG Diproyeksikan Berlanjut, IPOT Rekomendasikan 3 Saham

13 Jan 2026, 05:03 WIBBusiness