Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta
ilustrasi biji kopi (unsplash.com/Tina Guina)
Intinya sih...
  • Perubahan iklim dorong produksi robusta tumbuh lebih cepat: Produksi robusta di Brasil meningkat lebih dari 81 persen dalam satu dekade.
  • Robusta catat rekor panen 22 persen dan lebih tahan cuaca ekstrem: Produksi arabika di Brasil hanya tumbuh sekitar 2 hingga 2,5 persen per tahun, sementara robusta meningkat sekitar 4,8 persen per tahun.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Dalam beberapa tahun ke depan, cita rasa kopi dari Brasil diperkirakan akan berubah. Negara tersebut selama ini dikenal sebagai produsen terbesar arabika, jenis kopi yang memiliki karakter rasa lebih lembut.

Namun, perubahan iklim yang membuat penanaman arabika semakin sulit mendorong sebagian petani beralih ke robusta. Varietas ini lebih pahit, tetapi tahan terhadap suhu tinggi serta lebih resisten terhadap penyakit.

1. Perubahan iklim dorong produksi robusta tumbuh lebih cepat

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta
Ilustrasi proses penyangraian atau roasting, salah satu tahap penting dalam produksi kopi. (unsplash.com/Guilherme Braga)

Wilayah pertanian kopi tradisional di Brasil, yang mayoritas menghasilkan arabika, menghadapi kekeringan lebih sering dan suhu yang makin panas. Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), produksi robusta di Brasil meningkat lebih dari 81 persen dalam satu dekade, bahkan tumbuh lebih cepat dibanding arabika.

Coffee Market Intelligence Manager di StoneX, Fernando Maximiliano mengatakan, robusta membuka peluang bagi Brasil untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai pemasok kopi terbesar dunia di tengah perubahan iklim.

“Bukan permintaan yang menjadi penyebab utama pertumbuhan produksi robusta… Kenyataannya, masalah iklim dan kerugian pada arabika adalah faktor utama yang mendorong pertumbuhan robusta,” ujar Maximiliano, dilansir Bloomberg.

2. Robusta catat rekor panen 22 persen dan lebih tahan cuaca ekstrem

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta
ilustrasi robusta (unsplash.com/Khoiru Abdan)

Dalam tiga tahun terakhir, produksi arabika di Brasil hanya tumbuh sekitar 2 hingga 2,5 persen per tahun. Sebaliknya, robusta meningkat sekitar 4,8 persen per tahun, bahkan mencapai lonjakan hampir 22 persen pada musim tanam tahun ini—menjadi rekor panen menurut StoneX. Analis menyebut robusta menonjol karena mampu beradaptasi dengan cuaca ekstrem dan memberikan keuntungan yang lebih stabil.

Di wilayah yang terlalu panas untuk arabika, produsen mulai menanam robusta dengan teknik agroforestri, seperti menanam pohon kopi di bawah naungan pohon asli.

“Dengan cara ini tanaman tetap produktif, tetap sedikit lebih lembap, sehingga tidak mudah rusak,” ujar Commercial Director Café Apuí, Jonatas Machado.

3. Brasil berpotensi salip Vietnam sebagai pemasok robusta terbesar

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta
Bendera Vietnam (unsplash.com/Sam Williams)

Vietnam masih menjadi produsen robusta terbesar dunia, tetapi analis Rabobank menilai Brasil bisa melampauinya berkat rantai pasok yang lebih terstruktur. Robusta memiliki kandungan kafein lebih tinggi dan rasa lebih kuat dibanding arabika.

Matthew Barry dari Euromonitor International mengatakan, generasi muda lebih tertarik pada kopi yang bisa dipersonalisasi dengan tambahan susu, krimer, atau sirup. I

“Mereka tidak terlalu memperhatikan asal-usul maupun catatan rasa,” katanya.

Jika harga kopi terus meningkat, konsumen diperkirakan akan beralih ke robusta karena harganya lebih murah.

4. Regulasi baru Uni Eropa bisa tingkatkan permintaan robusta

Produsen Kopi Terbesar Dunia Mulai Alihkan Fokus ke Robusta
Uni Eropa (europa.eu)

Di Eropa, selisih harga antara arabika dan robusta kemungkinan akan melebar. Regulasi baru mengharuskan komoditas impor memiliki sertifikat bebas dari deforestasi, meski aturan ini belum memiliki tanggal implementasi jelas. Produk kopi instan—yang umumnya berbahan robusta—dikecualikan dari aturan tersebut, sehingga potensi permintaannya meningkat menurut Rabobank.

Uni Eropa merupakan konsumen kopi instan terbesar, mencapai hampir 50 persen pendapatan global. Meski robusta biasanya lebih murah, harganya ikut melesat mencapai rekor tertinggi.

Peralihan sebagian produsen Brasil dari arabika ke robusta menunjukkan bagaimana perubahan iklim, kondisi pasar, dan regulasi global mulai membentuk kembali industri kopi dunia. Pergeseran ini juga berpotensi mengubah preferensi konsumen dan peta produksi kopi dalam beberapa tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Tips Mengatur Keuangan untuk Freelancer

30 Nov 2025, 22:00 WIBBusiness