Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PTPP-ADHI Komunikasi Intens soal Merger BUMN Karya

PTPP-ADHI Komunikasi Intens soal Merger BUMN Karya
Kantor Pusat PT PP (ptpp.co.id)
Intinya Sih
  • PTPP dan ADHI tengah berkomunikasi intens membahas kerangka merger BUMN karya yang akan menggabungkan tujuh perusahaan menjadi tiga klaster besar dengan fokus bisnis berbeda.
  • Danantara meminta seluruh BUMN karya melakukan evaluasi kinerja keuangan serta penyehatan dan transparansi laporan sebelum proses merger dimulai pada periode 2025–2026.
  • Sebelum merger, perusahaan wajib menyelesaikan penurunan nilai aset agar laporan keuangan mencerminkan nilai wajar dan tidak meninggalkan beban setelah restrukturisasi selesai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan (Persero) TBk (PTPP), Novel Arsyad mengungkapkan perusahaan sedang berkomunikasi dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) terkait kerangka merger BUMN karya.

Merger BUMN karya akan menggabungkan tujuh perusahaan menjadi tiga klaster besar.

Selain PTPP dan ADHI, perusahaan lainnya adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

“Kalau sampai sejauh ini yang kami menyusun bersama, dalam hal ini kami bersama dengan Adhi Karya dalam penyusunan proses menuju merger,” kata Novel dalam acara Earnings Call tahun buku 2025, Selasa (7/4/2026).

1. BUMN karya diminta evaluasi kinerja keuangan perusahaan

Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk (PTPP), Novel Arsyad. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk (PTPP), Novel Arsyad. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Novel mengatakan, proses merger BUMN karya sudah disusun sejak tahun lalu. Perusahaan-perusahaan karya pelat merah diminta Danantara melakukan evaluasi kinerja keuangan sebelum merger.

"Ini pun karena kami diminta untuk melakukan evaluasi sehingga saat ini konsentrasinya terhadap buku masing-masing," ujar Novel.

Hal itu sebelumnya juga diungkapkan oleh Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito.

“Danantara mengutamakan di 2025-2026 ini semuanya BUMN karya untuk fokus kepada dua hal, yaitu yang pertama bagaimana supaya penyehatan daripada semua karya didahulukan, termasuk di dalamnya jika ada restrukturisasi keuangan. Yang kedua bagaimana supaya pelaporan lebih transparan dan lebih baik dibanding sebelumnya,” tutur Agung di kantor proyek tol HBR 2, Jakarta Utara, Senin (6/4).

2. BUMN karya bakal dimerger jadi 3 klaster

Kantor pusat PT Wijaya Karya (Persero Tbk (WIKA). (dok. WIKA)
Kantor pusat PT Wijaya Karya (Persero Tbk (WIKA). (dok. WIKA)

Kabarnya, tujuh perusahaan BUMN karya akan dimerger menjadi tiga perusahaan besar dengan bisnis inti yang berbeda-beda, yakni spesialisasi gedung, infrastruktur, dan engineering procurement and construction (EPC).

Waskita Karya dan WIKA dikabarkan akan bergabung dengan Hutama Karya, kemudian PTPP dan ADHI, serta Nindya Karya dengan Brantas Abipraya.

Namun, Novel mengatakan, keputusan akhir terkait skema peleburan dan penetapan klaster utama akan ditetapkan Danantara.

Dia juga belum mengetahui apakah merger akan dilakukan sebelum atau sesudah restrukturisasi BUMN karya selesai.

"Apakah nanti merger ini akan dilakukan sebelum atau setelah restrukturisasi ini tentunya kita kembali lagi ke Danantara," ucap Novel.

3. Tak mau merger meninggalkan beban

Kantor pusat Kementerian BUMN. (IDN Times/VadhiaLidyana)
Kantor pusat Kementerian BUMN. (IDN Times/VadhiaLidyana)

Sebelum merger, BUMN karya juga kompak menyelesaikan proses impairment atau penurunan nilai aset, yang merupakan bagian dari bersih-bersih laporan keuangan.

Direktur Keuangan PTPP, Agus Purbianto mengatakan, penyesuaian nilai buku ini adalah fase kritis yang harus dilalui sebelum restrukturisasi dan konsolidasi dilakukan.

Sebab, perusahaan ingin menyajikan nilai aset yang wajar, dengan harapan setelah merger tak ada beban yang harus ditanggung BUMN karya.

“Setelah buku mencerminkan nilai wajarnya, tahap berikutnya adalah restrukturisasi. Tentunya setelah restrukturisasi selesai, kami akan dimerger. Ini adalah bagian dari tahapan awal,” tutur Agus.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in Business

See More