Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Purbaya: Harga Minyak Turun, Ruang Fiskal Makin Longgar
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Rehia Sebayang)
  • Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal Indonesia aman dengan defisit APBN 2026 dipastikan tidak melebihi 3 persen dari PDB berkat ruang fiskal yang semakin longgar.
  • Penurunan harga minyak dunia hingga sekitar 73 dolar AS per barel membantu meringankan beban subsidi energi dan memperkuat posisi fiskal pemerintah.
  • Defisit APBN hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB karena belanja negara tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga meski ketidakpastian global masih berlangsung. Ia memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tidak akan melampaui batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Yang jelas, kondisi fiskal aman. Defisit tidak akan melebihi 3 persen, hampir pasti. Kita bisa kendalikan dengan baik karena ruang fiskal semakin terbuka lebar," ujar Purbaya dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

1. Tren penurunan harga minyak bikin ruang fiskal melonggar

Media Brefing bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Triyan).

Menurut Purbaya, ruang fiskal yang semakin longgar antara lain ditopang oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut dinilai akan membantu menekan beban belanja negara, terutama yang berkaitan dengan subsidi energi.

Adapun harga minyak mentah Brent turun 19 sen atau 0,25 persen menjadi 75,07 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (26/6). Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 13 sen atau 0,18 persen menjadi 71,79 dolar AS per barel.

"Harga minyak dunia sekarang sudah mendekati 70 per barel, sekitar 73 dolar AS per barel. Saya pikir akan terus turun. Jadi aman, kita selamat," kata Purbaya.

2. Pelemahan rupiah jadi ranah BI

Ilustrasi lembaran uang rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)

Saat ditanya mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), Purbaya enggan memberikan komentar lebih jauh. Ia menegaskan, urusan stabilisasi nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI).

Meski demikian, Purbaya memastikan pelemahan rupiah tidak akan menyebabkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) membengkak. Menurutnya, pemerintah telah menggunakan asumsi kurs yang lebih konservatif dalam perhitungan APBN.

"Waktu itu kan sudah kita hitung dengan kurs yang bukan Rp16.500. Jadi enggak (membengkak), masih aman. Nanti kalau saya sebut angkanya, Anda akan bilang, 'Oh pemerintah menentukan rupiah sekian.' Padahal tidak, kita sudah menghitungnya dengan hati-hati," ujar Purbaya.

3. Defisit APBN per Mei tembus Rp180,4 triliun

Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Mei 2026.

Defisit terjadi karena realisasi belanja negara masih lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Hingga akhir Mei 2026, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Di sisi lain, pendapatan negara tercatat sebesar Rp1.185 triliun, naik 19,1 persen secara tahunan. Meski mengalami pertumbuhan, realisasi pendapatan tersebut masih lebih rendah dibandingkan belanja negara sehingga APBN tetap mengalami defisit.

Editorial Team

Related Article