Purbaya Jamin BUMN Ekspor Bakal Berdampak Positif ke Emiten, Kok Bisa?

- Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan pelemahan IHSG terjadi karena investor masih menunggu kejelasan dampak pembentukan BUMN ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
- Pembentukan DSI diharapkan menutup praktik under-invoicing ekspor sehingga laporan penjualan emiten menjadi lebih transparan dan meningkatkan keuntungan perusahaan di bursa.
- Purbaya optimistis valuasi perusahaan akan meningkat seiring perbaikan pencatatan ekspor, meski IHSG sempat melemah ke level 6.245,71 pada perdagangan Kamis pagi.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus ekspor, dipicu ketidakpastian yang masih dibaca pelaku pasar.
Menurut dia, investor cenderung memilih melepas saham lebih dulu ketika belum memahami dampak kebijakan baru pemerintah. Dia mengatakan kondisi tersebut bisa berubah setelah pasar memahami tujuan pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
"Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau pasar kan kalau ada ketidakpastian biasanya takut, jual dulu," kata Purbaya kepada jurnalis di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
1. Penutupan under-invoicing disebut bikin kinerja emiten lebih baik

Purbaya menyebut, lembaga di bawah Danantara itu akan menutup praktik under-invoicing dalam kegiatan ekspor. Itu merupakan praktik kecurangan berupa pemalsuan dokumen yang melaporkan harga barang lebih rendah dari nilai transaksi sebenarnya.
Selama ini, kata dia, ada keuntungan yang dinikmati pemilik perusahaan melalui entitas di luar negeri. Dengan adanya badan ekspor, transaksi penjualan diharapkan dapat tercermin langsung pada laporan penjualan perusahaan secara murni.
Menurut dia, kondisi tersebut akan membuat perusahaan yang tercatat di bursa memperoleh keuntungan lebih besar dari sisi laporan keuangan. Dengan begitu, perusahaan bisa mendapat keuntungan ganda dari perbaikan pencatatan penjualan.
"Jadi yang tadinya uangnya dimainkan oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan? Sekarang bisa harusnya terefleksi langsung di penjualan mereka yang murni. Jadi penjualan perusahaannya juga akan untung. Jadi harusnya bisa double untungnya yang listed di bursa, yang dilaporkan ya," paparnya.
2. Purbaya yakin valuasi perusahaan di bursa meningkat

Purbaya menilai langkah tersebut pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan valuasi perusahaan yang melantai di bursa saham. Dia pun meyakini pergerakan pasar bakal berangsur membaik dan mengalami kenaikan secara signifikan.
"Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang di bursa. Jadi pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan kalau menurut saya," ujar dia.
3. IHSG masih betah di zona merah pagi ini

IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis pagi (21/5/2026). Meski begitu, data RTI Business menunjukkan, IHSG dibuka menguat pada level 6.366,48 pada perdagangan hari ini.
Kemudian, berdasarkan data RTI per pukul 09.20 WIB, IHSG langsung turun ke zona merah dan ada pada level 6.245,71 atau melemah 72,79 poin (-1,15 persen). Sebelumnya pada perdagangan Rabu (20/5/2026), IHSG ditutup melemah 52,18 poin (-0,82 persen) ke level 6.318,50.
















