Luhut Ungkap Kekhawatiran Investor soal Gejolak Pasar

- Luhut menyampaikan kekhawatiran investor terhadap volatilitas pasar akibat fluktuasi nilai tukar, arus modal, dan ketegangan geopolitik saat bertemu dengan investor global di Singapura.
- Pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen PDB serta menyiapkan langkah efisiensi dan transformasi digital untuk memperkuat kredibilitas fiskal nasional.
- Luhut menekankan pentingnya kepercayaan dan kepastian investasi selain pertumbuhan ekonomi, dengan fokus kebijakan menuju ekonomi yang kompetitif, transparan, dan efisien.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan pemerintah terus menjaga kepercayaan investor di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar akibat volatilitas nilai tukar, arus modal, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Hal itu disampaikan Luhut saat memulai rangkaian kunjungan di Singapura dengan menemui investor global dan jajaran perusahaan pengelola aset.
Dalam pertemuan tersebut, dia menyebut pemerintah memanfaatkan kesempatan untuk mendengar masukan sekaligus menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia guna meningkatkan keyakinan investor.
"Dari diskusi kami hari ini, memang ada kekhawatiran mengenai volatilitas pasar. Mulai dari fluktuasi nilai tukar, hingga arus modal akibat tingginya suku bunga dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah," kata Luhut melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (21/5/2026).
1. Fundamental ekonomi dinilai tetap kuat

Luhut mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi di level 5,61 persen pada kuartal I-2026 dan inflasi yang tetap terkendali di kisaran 2,4 persen.
Meski demikian, dia menilai kondisi fundamental ekonomi saja belum cukup karena pelaku pasar juga mempertimbangkan aspek kepercayaan dan kepastian dalam mengambil keputusan investasi.
"Saya sepakat bahwa fundamental saja tidak cukup, karena pasar juga menilai aspek kepercayaan dan kepastian," kata mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) itu.
2. Pemerintah jaga defisit APBN di bawah 3 persen

Luhut mengatakan, pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Kredibilitas fiskal adalah aset berharga yang tidak akan kami pertaruhkan," ujar Luhut.
DEN juga telah menyiapkan simulasi apabila harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel. Kajian tersebut sudah disampaikan kepada Prabowo lengkap dengan rekomendasi stimulus ekonomi dan langkah efisiensi melalui transformasi digital berbasis Gov Tech.
"Sistem inilah yang sedang kita persiapkan untuk mentransisikan subsidi energi (seperti BBM) dari berbasis barang menjadi bantuan tunai langsung tepat sasaran," ujar dia.
Di sektor pasar modal, kata Luhut, pemerintah mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam sistem pengawasan agar lebih transparan dan bersih.
Pemerintah juga terus mematangkan ekosistem Indonesia Financial Center (IFC) di kawasan ekonomi khusus sebagai pusat kolaborasi strategis yang menawarkan iklim usaha setara pusat keuangan global dengan dukungan kemudahan operasional serta kepastian hukum.
3. Kepercayaan dinilai sama pentingnya dengan pertumbuhan

Luhut menilai, kepercayaan dan kepastian memiliki peran yang sama penting dengan pertumbuhan ekonomi. Dia menyebut arah kebijakan pemerintah saat ini difokuskan untuk menciptakan ekonomi yang lebih baik.
"Arah kebijakan bangsa sudah sangat jelas: ekonomi yang lebih kompetitif, transparan, dan efisien. Dengan eksekusi yang kuat, peluang investasi jangka panjang di Indonesia tetap masih menjanjikan," kata Luhut.


















