Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Dampak Kenaikan BI Rate bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

7 Dampak Kenaikan BI Rate bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
ilustrasi suku bunga (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
Intinya Sih
  • Kenaikan BI Rate bikin bunga pinjaman naik, sehingga cicilan rumah, kendaraan, dan kartu kredit jadi lebih mahal bagi masyarakat.
  • Suku bunga tinggi membuat tabungan dan deposito lebih menguntungkan, tapi juga mendorong harga barang serta biaya usaha ikut naik.
  • Dunia usaha menahan ekspansi dan rekrutmen karena biaya modal meningkat, sementara rupiah cenderung stabil dan pasar saham jadi fluktuatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sering kali terdengar seperti isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, keputusan yang diumumkan Bank Indonesia ini bisa berdampak langsung ke isi dompet masyarakat, biaya cicilan, sampai kondisi dunia kerja.

BI Rate sendiri adalah suku bunga acuan yang digunakan bank sentral untuk menjaga inflasi dan stabilitas ekonomi. Ketika inflasi dianggap terlalu tinggi atau nilai tukar rupiah melemah, BI biasanya menaikkan suku bunga agar peredaran uang di masyarakat tidak terlalu besar.

Lalu, apa saja dampaknya buat masyarakat dan pelaku usaha? Ternyata pengaruhnya banyak sekali yang terasa dalam kehidupan sehari-hari mulai dari jumlah cicilan kredit hingga peluang kerja. Berikut penjelasannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

1. Cicilan kredit jadi lebih mahal

ilustrasi suku bunga
ilustrasi suku bunga (freepik.com/rawpixel.com)

Ini dampak yang paling cepat terasa. Ketika BI Rate naik, bunga pinjaman perbankan biasanya ikut naik. Akibatnya, cicilan rumah alias kredit pemilikan rumah (KPR) bisa meningkat. Bagi kamu yang sedang mencicil motor atau mobil, bunga kredit kendaraan pun bisa bertambah.

Tak lupa tagihan kartu kredit pun semakin besar. Jadi, buat anak muda yang baru mulai mencicil rumah atau kendaraan, kenaikan bunga bisa bikin pengeluaran bulanan makin berat.

2. Nabung jadi lebih menguntungkan

ilustrasi suku bunga (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi suku bunga (pexels.com/RDNE Stock project)

Di sisi lain, kenaikan BI Rate bisa membuat bunga tabungan dan deposito ikut naik. Artinya, orang yang menyimpan uang di bank bisa mendapat imbal hasil lebih besar dibanding sebelumnya.

Karena itu, saat suku bunga naik, banyak orang mulai memilih menyimpan uang dibanding terlalu agresif belanja atau investasi berisiko tinggi.

3. Harga barang bisa ikut naik

Ilustrasi harga barang di supermarket (Pexels.com/Pixabay)
Ilustrasi harga barang di supermarket (Pexels.com/Pixabay)

Ketika biaya pinjaman naik, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar. Banyak pelaku usaha akhirnya menaikkan harga produk agar tetap untung.

Dampaknya bisa terasa pada harga makanan dan minuman, barang elektronik, hinga biaya layanan tertentu. Jadi walaupun kenaikan BI Rate terlihat “urusan bank”, efeknya bisa sampai ke harga barang sehari-hari.

4. Dunia usaha jadi lebih hati-hati ekspansi

ilustrasi pencari kerja (pexels.com/Lina Kivaka)
ilustrasi pencari kerja (pexels.com/Lina Kivaka)

Bagi perusahaan, bunga pinjaman yang tinggi membuat biaya mencari modal jadi lebih mahal. Akibatnya, pembukaan cabang baru bisa ditunda. Kalau sudah begini, dampaknya bisa ke perekrutan karyawan baru yang melambat atau bahkan terhenti.

Selain itu, investasi perusahaan juga bisa berkurang. Karena itu, kenaikan suku bunga kadang membuat pertumbuhan bisnis ikut melambat.

5. Peluang kerja bisa terpengaruh

Ilustrasi pencari kerja (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)
Ilustrasi pencari kerja (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Kalau perusahaan mengurangi ekspansi karena bunga tinggi, efek lanjutannya bisa terasa ke pasar kerja. Seperti dibahas di poin sebelumnya, rekrutmen karyawan baru bisa berkurang.

Efek lainnya, kenaikan gaji bisa menjadi lebih lambat. Bisa juga perusahaan membatasi freelance dan proyek tambahan. Meski dampaknya tidak selalu langsung, kondisi suku bunga tinggi biasanya membuat dunia usaha lebih konservatif dalam mengeluarkan uang.

6. Rupiah bisa lebih stabil

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah (pixabay.com/IqbalStock)

Salah satu alasan BI menaikkan suku bunga adalah menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu melemah terhadap dolar AS. Sebab, ketika bunga di Indonesia naik, investor asing lebih tertarik menyimpan dana di Indonesia.

Dengan demikian, BI berharap aliran modal masuk bertambah dan rupiah bisa lebih stabil. Dengan membuat rupiah bisa sedikit lebih "napas", makan sederet dampak akibat pelemahannya, bisa diatasi.

7. Investasi saham bisa jadi lebih fluktuatif

ilustrasi pengaruh suku bunga terhadap investasi (pexels.com/energepic.com)
ilustrasi pengaruh suku bunga terhadap investasi (pexels.com/energepic.com)

Meski demikian, saat suku bunga naik, sebagian investor memilih memindahkan uangnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti deposito atau obligasi.

Akibatnya, pasar saham bisa melemah. Harga saham lebih naik-turun alias fluktuatif. Oleh karena itu, kita sebagai investor pemula jadi lebih waspada. Sektor yang paling sensitif biasanya properti, teknologi, dan bisnis yang bergantung pada utang besar.

8. Kenapa BI tetap naikkan suku bunga?

Ilustrasi suku bunga
Ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Walau punya banyak dampak, kenaikan BI Rate biasanya dilakukan untuk tujuan besar:

  • Menekan inflasi
  • Menjaga rupiah
  • Mengontrol stabilitas ekonomi

Ibaratnya, BI mencoba “mendinginkan” ekonomi agar harga-harga tidak naik terlalu cepat dan kondisi keuangan tetap stabil. Karena itu, memahami BI Rate penting bukan cuma buat investor atau pebisnis, tetapi juga masyarakat biasa. Sebab pada akhirnya, perubahan suku bunga bisa memengaruhi cara orang belanja, menabung, bekerja, hingga merencanakan masa depan finansial mereka.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More