Jakarta, IDN Times - Pernah melihat harga barang yang berakhir dengan angka Rp9.999 atau Rp49.999? Penetapan harga seperti itu bukan sekadar kebetulan. Strategi tersebut dikenal sebagai charm pricing, yakni metode penetapan harga yang memanfaatkan psikologi konsumen dalam melihat angka.
Dilansir Prisync, charm pricing merupakan strategi harga yang membuat konsumen melihat harga dalam bentuk desimal, seperti .99 atau .95, untuk mempengaruhi persepsi mereka terhadap nilai suatu produk.
Strategi ini memanfaatkan bias kognitif manusia yang cenderung melihat harga 49,99 sebagai angka 49 sekian, bukan sebagai harga yang mendekati 50. Karena itu, pelaku usaha sering menggunakan angka ganjil di akhir harga untuk memberikan kesan produk lebih terjangkau.
