ilustrasi industri, perkotaan di China (pexels.com/ainc T)
Model pembangunan China bukannya tanpa risiko, lho. Negara itu masih menghadapi masalah utang, kelebihan kapasitas produksi, lemahnya konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Selain itu, perusahaan-perusahaan China juga sering menghasilkan keuntungan yang lebih kecil dibandingkan perusahaan Amerika Serikat.
Meski demikian, strategi China menunjukkan uang dapat digunakan untuk tujuan yang lebih luas daripada sekadar menjaga kekayaan. Tabungan nasional bisa dipakai untuk membangun teknologi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan industri baru yang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di masa depan. Dengan kata lain, China berusaha memastikan bahwa modal yang dimilikinya terus bekerja untuk meningkatkan daya saing nasional.
Perkembangan beberapa dekade terakhir memperlihatkan kemampuan industri yang terus bertambah dapat memberikan pengaruh strategis yang besar. Jepang tetap menjadi negara maju yang kaya dan stabil, tapi China menunjukkan negara yang terus menambah kapabilitas memiliki peluang lebih besar untuk mengubah keseimbangan ekonomi dunia.
Perjalanan Jepang dan China menunjukkan cara menggunakan uang sama pentingnya dengan jumlah uang yang dimiliki. Jepang memilih menjaga stabilitas dan mempertahankan kekayaan yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Sementara itu, China lebih agresif mengarahkan tabungan nasional untuk membangun pabrik, teknologi, dan ekosistem industri baru.
Keduanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing, tapi pengalaman China memperlihatkan kemampuan produktif yang terus berkembang sering kali memberikan keuntungan strategis yang lebih tahan lama. Pada akhirnya, negara yang hanya menjaga kekayaan mungkin tetap makmur, tapi negara yang terus membangun kapabilitas berpeluang menentukan arah ekonomi global di masa depan.