Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Restoran di Singapura Berguguran, 1.267 Tutup Hanya dalam 4 Bulan
ilustrasi chinatown di Singapura (pexels.com/Christian Alemu)
  • Dalam empat bulan pertama 2025, sebanyak 1.267 restoran di Singapura tutup akibat tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen yang membuat banyak bisnis sulit bertahan.
  • Kenaikan biaya sewa, energi, dan tenaga kerja mempersempit margin keuntungan, sementara pelanggan lokal makin sering berbelanja di luar negeri karena nilai tukar dolar Singapura yang kuat.
  • Meski banyak restoran gulung tikar, tercatat 1.436 bisnis kuliner baru bermunculan pada periode yang sama, menandakan industri ini tetap dinamis dan menarik bagi investor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Singapura selama ini dikenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Berdasarkan HelloSafe Prosperity Index 2025 yang dikutip Time Out Singapore, Singapura menempati peringkat ke-6 negara terkaya di dunia dan menjadi yang terkaya di Asia. Meski memiliki tingkat kemakmuran yang sangat tinggi, kekuatan ekonomi nasional ternyata gak menjamin seluruh sektor bisnis berjalan mulus.

Industri kuliner Singapura saat ini justru sedang menghadapi tantangan besar yang membuat banyak pelaku usaha kesulitan bertahan. Dalam empat bulan pertama tahun 2025, sebanyak 1.267 bisnis makanan dan minuman dilaporkan tutup. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor restoran di Singapura sedang mengalami tekanan yang cukup serius.

1. Gelombang penutupan restoran terjadi dalam waktu singkat

ilustrasi Singapura (pexels.com/CK Seng)

Berdasarkan data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) yang dikutip The Straits Times, sebanyak 1.267 bisnis makanan menghentikan operasionalnya sepanjang Januari hingga April 2025. Jumlah ini hampir mencapai setengah dari total penutupan bisnis makanan sepanjang tahun 2024. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi dalam periode yang relatif singkat.

Beberapa nama yang cukup dikenal juga ikut terdampak. Restoran Prancis Encore by Rhubarb dan kafe Prancis The Black Sheep termasuk dalam daftar usaha yang terpaksa menghentikan operasionalnya. Kehilangan sejumlah restoran yang sudah memiliki pelanggan tetap menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi industri ini gak bisa dianggap sepele.

Gelombang penutupan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. Peranakan café Nana Dolly's dan restoran warisan kuliner Wing Seong Fatty's juga telah mengumumkan rencana penutupan dalam waktu dekat. Situasi ini memperlihatkan bahwa tekanan bisnis masih dirasakan oleh banyak pelaku usaha makanan di Singapura.

2. Restoran yang sudah lama berdiri pun ikut tumbang

ilustrasi burger, fast food (pexels.com/Flo Dahm)

Gak hanya bisnis baru yang mengalami kesulitan bertahan. Beberapa restoran yang telah beroperasi selama bertahun-tahun juga mulai menyerah menghadapi kondisi pasar saat ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengalaman panjang sekalipun gak selalu cukup untuk menghadapi perubahan ekonomi dan perilaku konsumen.

Salah satu contohnya adalah restoran burger Working Title yang resmi tutup pada 30 April 2025. Restoran tersebut telah beroperasi selama 13 tahun dan memiliki basis pelanggan yang cukup loyal. Penutupan ini menjadi salah satu simbol bagaimana tekanan industri kuliner kini dirasakan oleh berbagai jenis usaha.

Fenomena tersebut sejalan dengan laporan pemerintah Singapura yang menunjukkan tingginya tingkat kegagalan bisnis makanan dan minuman. Bahkan sebagian besar usaha F&B yang tutup pada tahun 2025 diketahui belum mampu bertahan hingga lima tahun. Fakta ini memperlihatkan bahwa industri kuliner Singapura menjadi salah satu sektor dengan tingkat persaingan yang sangat ketat.

3. Warga Singapura semakin sering menghabiskan uang di luar negeri

ilustrasi maskapai penerbangan Singapore Airlines, pesawat (pexels.com/Fabrian Pradanaputra)

Salah satu penyebab yang banyak dibahas adalah perubahan pola konsumsi masyarakat setelah pandemi Covid-19. Ketika sektor pariwisata kembali pulih, semakin banyak warga Singapura memilih bepergian ke luar negeri saat liburan sekolah maupun akhir pekan panjang. Pilihan tersebut membuat sebagian pengeluaran yang sebelumnya berputar di dalam negeri berpindah ke negara lain.

Nilai tukar dolar Singapura yang kuat juga membuat perjalanan ke luar negeri terasa lebih menarik. Banyak masyarakat merasa biaya liburan ke negara tetangga menjadi lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya. Dampaknya, restoran lokal harus bersaing lebih keras untuk menarik pelanggan agar tetap berbelanja di dalam negeri.

Laporan Reuters juga menunjukkan bahwa berkurangnya pengeluaran masyarakat di restoran lokal menjadi salah satu faktor yang menekan pendapatan pelaku usaha. Ketika jumlah pelanggan menurun sementara biaya operasional tetap tinggi, kemampuan bisnis untuk bertahan menjadi semakin terbatas. Situasi ini membuat banyak restoran harus melakukan berbagai langkah efisiensi supaya gak mengalami kerugian lebih besar.

4. Kenaikan biaya operasional menjadi tantangan terbesar

ilustrasi usaha kuliner di Singapura (pexels.com/Robert Stokoe)

Selain menghadapi perubahan perilaku konsumen, pemilik restoran juga harus berhadapan dengan kenaikan berbagai biaya usaha. Sewa tempat, biaya energi, hingga pengeluaran untuk tenaga kerja mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan bisnis menjadi semakin tipis.

Geoffrey Tai, manajer di School of Business Temasek Polytechnic, menjelaskan bahwa biaya sewa, tenaga kerja, dan energi kini berada pada level yang lebih tinggi. Ia juga mengungkapkan bahwa konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan tekanan yang cukup besar bagi pelaku usaha makanan.

Menurut penjelasan Geoffrey Tai, banyak operator restoran yang sebelumnya mampu bertahan dengan cadangan kas atau bantuan utang kini mulai menghadapi tekanan yang semakin berat. Ketika dana cadangan menipis, kemampuan bisnis untuk terus beroperasi ikut terancam. Akibatnya, sebagian pelaku usaha memilih menutup bisnis sebelum kerugian menjadi lebih besar.

5. Meski banyak yang tutup, restoran baru tetap bermunculan

ilustrasi hawker, kuliner di Singapura (pexels.com/Dennise Anorico)

Di tengah banyaknya bisnis yang gulung tikar, industri kuliner Singapura ternyata masih menarik bagi investor dan pengusaha baru. Data dari Accounting and Corporate Regulatory Authority menunjukkan bahwa terdapat 1.436 bisnis makanan baru yang terdaftar selama Januari hingga April 2025. Jumlah tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar kuliner Singapura masih memiliki potensi yang menjanjikan. Banyak pelaku usaha melihat peluang untuk menghadirkan konsep baru yang sesuai dengan selera konsumen masa kini. Kehadiran pemain baru juga menjadi bukti bahwa industri ini tetap dinamis meskipun sedang menghadapi berbagai tantangan.

Beberapa merek Jepang termasuk yang aktif melakukan ekspansi ke Singapura. Restoran hamburger steak Hikiniku To Come dan jaringan yakitori Torikizoku menjadi contoh bisnis baru yang mulai meramaikan pasar. Selain itu, restoran Korea seperti Jiho Samgyetang SBCD dan Bibim Deli juga ikut memperluas pilihan kuliner bagi masyarakat setempat.

Tingginya angka penutupan restoran di Singapura menunjukkan bahwa ekonomi yang kuat gak selalu menjamin seluruh sektor bisnis berada dalam kondisi aman. Perubahan perilaku konsumen, tingginya biaya operasional, serta persaingan yang ketat menjadi kombinasi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha kuliner.

Meski demikian, peluang di industri makanan dan minuman masih tetap ada. Kehadiran ribuan bisnis baru menunjukkan bahwa banyak pengusaha masih optimistis terhadap potensi pasar kuliner Singapura. Ke depan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tren dan kondisi ekonomi kemungkinan akan menjadi kunci utama bagi restoran yang ingin bertahan lebih lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article