ilustrasi hawker, kuliner di Singapura (pexels.com/Dennise Anorico)
Di tengah banyaknya bisnis yang gulung tikar, industri kuliner Singapura ternyata masih menarik bagi investor dan pengusaha baru. Data dari Accounting and Corporate Regulatory Authority menunjukkan bahwa terdapat 1.436 bisnis makanan baru yang terdaftar selama Januari hingga April 2025. Jumlah tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar kuliner Singapura masih memiliki potensi yang menjanjikan. Banyak pelaku usaha melihat peluang untuk menghadirkan konsep baru yang sesuai dengan selera konsumen masa kini. Kehadiran pemain baru juga menjadi bukti bahwa industri ini tetap dinamis meskipun sedang menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa merek Jepang termasuk yang aktif melakukan ekspansi ke Singapura. Restoran hamburger steak Hikiniku To Come dan jaringan yakitori Torikizoku menjadi contoh bisnis baru yang mulai meramaikan pasar. Selain itu, restoran Korea seperti Jiho Samgyetang SBCD dan Bibim Deli juga ikut memperluas pilihan kuliner bagi masyarakat setempat.
Tingginya angka penutupan restoran di Singapura menunjukkan bahwa ekonomi yang kuat gak selalu menjamin seluruh sektor bisnis berada dalam kondisi aman. Perubahan perilaku konsumen, tingginya biaya operasional, serta persaingan yang ketat menjadi kombinasi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha kuliner.
Meski demikian, peluang di industri makanan dan minuman masih tetap ada. Kehadiran ribuan bisnis baru menunjukkan bahwa banyak pengusaha masih optimistis terhadap potensi pasar kuliner Singapura. Ke depan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tren dan kondisi ekonomi kemungkinan akan menjadi kunci utama bagi restoran yang ingin bertahan lebih lama.