Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ridha Wirakusumah Ungkap Jalan Panjang Menuju Kursi CEO INA

Ridha Wirakusumah Ungkap Jalan Panjang Menuju Kursi CEO INA
CEO INA Ridha Wirakusumah (YouTube IDN Times)
Intinya sih...
  • Ridha Wirakusumah memiliki pengalaman profesional hampir 40 tahun, dengan 19 tahun di luar negeri.
  • Bank Permata dijual ke Bangkok Bank setelah proses pemulihan, dengan Ridha tetap menjadi CEO.
  • Ridha ditawarkan menjadi calon CEO INA karena pengalamannya di berbagai bidang keuangan dan proses seleksi melibatkan pejabat tinggi negara.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ridha D.M Wirakusumah mengungkapkan perjalanan panjang karier profesionalnya sebelum akhirnya dipercaya memimpin Indonesia Investment Authority (INA), lembaga pengelola investasi Indonesia. Dia menyebut telah menekuni dunia profesional hampir 40 tahun, dengan sekitar 19 tahun dihabiskan bekerja di luar negeri, mulai dari Amerika Serikat (AS) hingga sejumlah negara di Asia.

Ridha menuturkan, pengalamannya di luar negeri, meliputi penugasan di beberapa kota di Amerika Serikat seperti Atlanta, New York, dan Chicago, serta penempatan jangka panjang di Bangkok, Hong Kong, Singapura, dan Thailand.

"Jadi memang kalau orang bicara mengenai diaspora yang kembali ke Indonesia tuh, saya itu udah bolak-balik dari dulu deh. Kerja di luar, balik ke Indonesia, kerja di luar lagi, balik lagi di Indonesia," ujarnya dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, dikutip Jumat (2/1/2026).

1. Pernah pimpin Bank Permata yang lagi terpuruk

Ridha Wirakusumah Ungkap Jalan Panjang Menuju Kursi CEO INA
CEO INA Ridha Wirakusumah dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis (YouTube IDN Times)

Ridha menyampaikan, saat sedang menempuh studi doktoral di Hong Kong, dia beberapa kali diminta oleh Standard Chartered dan Jardine untuk memimpin Bank Permata, yang kala itu berada dalam kondisi sulit. Dia mengingat, Bank Permata sempat mencatatkan kerugian hampir Rp7 triliun, yang disebut sebagai salah satu kerugian terbesar dalam sejarah perbankan Indonesia.

Bersama jajaran manajemen dan karyawan, dia berupaya melakukan pembenahan menyeluruh hingga kondisi bank tersebut berangsur pulih. Proses tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan profesional yang membentuk rekam jejak kepemimpinannya.

"Nah, saya waktu itu, bersama-sama dengan teman teman-teman di Permata, we turnaround the bank (kami berhasil memulihkan kinerja bank tersebut)," ujarnya.

2. Bank Permata setelah sehat dijual ke Bangkok Bank

Ridha Wirakusumah Ungkap Jalan Panjang Menuju Kursi CEO INA
Bank Permata

Setelah proses pemulihan berjalan, Ridha menyampaikan, para pemegang saham Bank Permata kemudian memutuskan untuk melepas kepemilikan bank tersebut. Bangkok Bank akhirnya menjadi pemenang dan masuk sebagai pemilik baru.

Ridha menuturkan, ketertarikan Bangkok Bank tidak lepas dari hubungan profesional yang telah terjalin sebelumnya, termasuk pengalaman bersaing di segmen pembiayaan konsumen. Dia pun melanjutkan perannya sebagai CEO setelah perubahan kepemilikan tersebut.

"Jadi pemiliknya Bangkok Bank pada saat itu masuk, salah satunya karena mereka tertarik karena pernah kenal saya dulu," kata Ridha.

3. Ditawarkan jadi calon CEO INA

Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA), Ridha Wirakusumah (IDN Times/Uni Lubis).
Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA), Ridha Wirakusumah (IDN Times/Uni Lubis).

Ridha mengatakan, pada masa kepemimpinannya di Bank Permata, pemerintah mulai membentuk INA. Dia mengaku tidak terlibat dalam tahap awal seleksi dan tidak tertarik mengikuti proses tersebut.

"Nah setelah ada shortlisted, terus tiba-tiba saya dihubungi diminta untuk jadi salah satu calon untuk CEO," ungkapnya.

Dia menjelaskan, latar belakangnya dinilai relatif lengkap karena mencakup pengalaman di private equity, investment banking, perusahaan pembiayaan, hingga perbankan.

Proses seleksi dilakukan oleh Dewan Pengawas INA yang melibatkan Menteri BUMN yang saat itu dijabat Erick Thohir dan Menteri Keuangan yang dijabat Sri Mulyani kala itu, sebelum penetapan akhir dilakukan oleh presiden yang masih dijabat oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

Ridha menambahkan, meski keputusannya meninggalkan Bank Permata sempat mengejutkan pihak Bangkok Bank, dia memandang amanah memimpin INA sebagai panggilan untuk mengabdi kepada negara.

"Tentunya sesuatu yang baik, toh fondasi banknya juga sudah baik, saya juga meninggalkan dengan baik-baik," katanya.

4. Karier dan pendidikan

IDN Times Leadership Forum X INA HYP08128.jpg
CEO Ridha Wirakusumah menyampaikan capaian-capaian INA (IDN Times/Herka Yanis)

Dikutip dari laman resmi INA, sebelum bergabung di INA, Ridha menjabat sebagai Direktur Utama Bank Permata, Head of Indonesia KKR & Co., dan Direktur Utama Bank Maybank Indonesia.

Ridha juga pernah menjabat di beberapa perusahaan multinasional, yakni CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, serta Head of Corporate Finance di Bankers Trust dan Head of Public Sector di Citibank Indonesia.

Mengenai latar pendidikannya, Ridha meraih gelar Doktor di bidang Administrasi Bisnis dari City University Hong Kong, MBA di bidang Finance and International Business dari Ohio University, dan Sarjana bidang Electrical Engineering, Electronic, and Science dari Ohio University; serta Program Manajemen Lanjutan dari University California, Berkeley.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

8 Resolusi Finansial yang Wajib Kamu Terapkan di Tahun 2026

05 Jan 2026, 00:05 WIBBusiness