ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
Rizal mengatakan, pelaku pasar juga memperhatikan pengelolaan fiskal di dalam negeri, yang dinilainya kurang kredibel. Menurutnya, belanja fiskal harus ditujukan kepada sektor-sektor produktif.
“Belanja fiskal juga harus betul-betul ke sektor-sektor produktif yang benar-benar menciptakan ekonomi produktif yang bisa membuat nilai tambah. Jadi kalau program-program katakanlah yang selama ini tidak menghasilkan, itu alangkah lebih dievaluasi,” kata Rizal.
Dia menekankan, kredibilitas dalam pengelolaan anggaran menjadi titik krusial yang dilihat pelaku pasar. Jika hal itu tidak dijalankan, sentimen negatif makin mengerubungi rupiah.
“Model tata kelola program atau belanja-belanja seperti itu harus betul-betul apakah tata kelola diperbaiki atau juga target sasarannya diperbaiki. Karena ini sangat sensitif, market melihat hal-hal yang berkaitan dengan kredibilitas fiskal. Termasuk juga kredibilitas kelembagaan juga berkaitan dengan keuangan ya,” ujar Rizal.
Dia berharap, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan entitas lain yang terkait bisa menjaga independensi dan kredbilitas saat membuat langkah untuk penguatan nilai tukar rupiah.
“Itu harus dipisahkan antara conflict of interest politik atau market, polisi itu betul-betul harus dijaga. Dan itu harus bebas dari itu. Nah itu harus dibangun,” kata Rizal.