Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Ditutup Lesu ke Rp16.905 per Dolar AS, Berpotensi Menguat Besok
Ilustrasi dolar AS (IDN Times/Holy Kartika)
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp16.905 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis, turun 13 poin atau 0,08 persen dibandingkan hari sebelumnya.
  • Beberapa mata uang Asia bergerak variatif, dengan rupee India menguat sementara bath Thailand, ringgit Malaysia, dan yen Jepang mengalami pelemahan.
  • Pengamat menilai rupiah masih berpotensi menguat seiring membaiknya sentimen pasar dan adanya upaya internasional menjaga keamanan jalur pelayaran global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (5/3/2026) sore. Mata uang Garuda parkir di level Rp16.905 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 13 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

1. Daftar mata uang yang bergerak variatif

Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif. Beberapa mata uang yang berhasil menguat, yakni:

  • Bath Thailand melemah 0,12 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,01 persen

  • Rupee India menguat 0,52 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,04 persen

  • Won Korea melemah 6,92 persen

  • Yen Jepang melemah 0,28 persen

2. Rupiah masih ada potensi menguat ke depan

Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai rupiah masih ada potensi menguat terhadap dolar AS, dipicu membaiknya sentimen pasar setelah adanya harapan de-eskalasi atau penurunan ketegangan terkait perang di Timur Tengah.

Iran memberikan sinyal atau niat untuk kembali masuk ke meja perundingan. Kabar damai tersebut membuat pelaku pasar sedikit tenang dan mulai kembali melirik mata uang negara berkembang seperti rupiah.

3. Ada upaya Internasional amankan jalur pelayaran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Angkatan Laut AS siap menyediakan pengawalan bagi kapal komersial jika dibutuhkan, menjanjikan jalur pelayaran dunia tetap aman.

"Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat," kata Ibrahim.

Editorial Team