Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.847 per Dolar AS

2 min read
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.847 per Dolar AS
ilustrasi seseorang yang memegang beberapa uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Ahsanjaya)
  • Rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp17.847 per dolar AS pada perdagangan Senin, 21 September 2026.
  • Pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran tensi geopolitik Timur Tengah yang menjaga harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, meningkatkan risiko inflasi global.
  • Tekanan juga datang dari naiknya kebutuhan valas importir dan arus keluar portofolio domestik; BI menyatakan akan menjaga stabilitas rupiah melalui strategi operasi moneter dan pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Senin (21/9/2026) sore. Rupiah parkir di level 17.847 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

  1. 1. Pergerakan mata uang di Asia variatif sore ini

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif, rinciannya:

    • Bath Thailand menguat 0,03 persen
    • Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen
    • Pesso Filipina melemah 0,04 persen
    • Won Korea menguat 13,49 persen
    • Dolar Taiwan menguat 0,07 persen
    • Yen Jepang melemah 0,36 persen

  2. 2. Ada kekhawatiran tensi geopolitik Timur Tengah naik

    Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah.

    Menurutnya, kondisi tersebut mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak kemudian meningkatkan risiko inflasi global dan memberikan tekanan terhadap outlook fiskal.

    " Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).

  3. 3. Tekanan juga berasal dari kebutuhan valas yang meningkat

    Selain faktor geopolitik dan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir serta arus keluar dana dari aset portofolio domestik. Meski demikan, Erwin menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik serta memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

    " BI melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market, serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More