Rupiah Lampaui Rp17.000, Ekonom Sebut Tidak Sama dengan Krisis 98

- Nilai tukar rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS, namun ekonom menegaskan kondisi ini berbeda dengan krisis moneter 1998 karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih kuat.
- Josua Pardede mengimbau pelaku usaha dan masyarakat agar tidak panik menghadapi pelemahan rupiah serta menyarankan penggunaan instrumen lindung nilai untuk mitigasi risiko kurs.
- Rupiah ditutup di level Rp17.524 per dolar AS, melemah 0,63 persen dibanding penutupan sebelumnya, sementara mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan serupa.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar (kurs) rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dan mencapai lebih dari Rp17.000 per dolar AS sampai hari ini. Publik pun kemudian banyak yang menyamakan kondisi tersebut dengan momen krisis moneter 1997-1998.
Meski begitu, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan momen krisis 18 tahun silam. Ada beberapa indikator yang membuat pelemahan rupiah saat ini dan pada krisis 98 berbeda.
"Kami sampaikan bahwa kondisi fundamental kita dari sisi utang luar negeri pemerintah, lalu juga dari sisi bagaimana level dari cadangan devisa, ini jauh berbeda kondisinya semuanya, sehingga kita tidak bisa membandingkan sekalipun sama level 17 ribu dan kita menyamakan dengan kondisi saat ini dengan pada saat krisis moneter 1998," kata Josua dalam media briefing di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
1. Pelaku usaha dan masyarakat tidak perlu khawatir soal kurs rupiah

Josua pun mengimbau bagi para pelaku usaha atau masyarakat untuk mengelola ekspektasi terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS.
Josua juga meminta agar mereka tidak perlu pusing memikirkan pergerakan rupiah yang masih terus melorot melawan dolar AS.
"Bagi para pelaku usaha dan juga masyarakat yang mungkin tidak terekspos atau tidak terpapar berkait dengan risiko nilai tukar, tidak perlu pusing dengan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini," kata Josua.
"Di sisi lainnya bagi para pelaku usaha dan juga masyarakat secara umum yang memiliki eksposur paparan terhadap nilai tukar tentunya diberikan jalan keluar, yakni dengan melakukan mitigasi melalui instrumen-instrumen lindung nilai," sambung dia.
2. Kurs rupiah atas dolar masih akan lama berada di level Rp17.000-an

Adapun dalam jangka pendek, Josua melihat kurs rupiah terhadap dolar AS masih akan tetap berada pada level Rp17.000-an.
Potensi menguat hanya mungkin terjadi jika sentimen yang terjadi akbiat konflik Timur Tengah berakhir.
"Kalau ini sudah berakhir, tentunya dampaknya harga minyak langsung turun di bawah 100 dolar per barel dan rambatannya kepada nilai tukar rupiah pun juga semestinya akan sedikit ada potensi penguatan," kata Josua.
3. Kurs rupiah ada di level Rp17.524 per dolar AS

Mata uang Garuda hingga penutupan perdagangan, Selasa (12/5/2026) melemah ke Rp17.524 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah hingga 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, tetapi rupiah tercatat melemah paling dalam.


















