Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Masih Drop ke Rp17.524 per Dolar AS

Rupiah Masih Drop ke Rp17.524 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS, turun 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Pelemahan rupiah terjadi seiring depresiasi mata uang Asia lain, dipicu harga minyak dunia yang masih tinggi dan menekan nilai tukar regional.
  • Investor bersikap hati-hati menunggu hasil rebalancing MSCI Indonesia Mei 2026 yang berpotensi memengaruhi arus modal asing di pasar domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda hingga penutupan perdagangan, Selasa (12/5/2026) ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS.

Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah hingga 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.

  1. 1. Rupiah melemah paling dalam hingga 115 poin

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, namun rupiah tercatat melemah paling dalam, rinciannya:

    Bath Thailand melemah 0,13 persen

    Ringgit Malaysia melemah 0,01 persen

    Rupee India melemah 0,40 persen

    Pesso Filipina melemah 0,35 persen

    Won Korea melemah 17,41 persen

    Dolar Taiwan melemah 0,09 persen

    Yen Jepang melemah 0,33 persen

  2. 2. Rupiah melemah diikuti mata uang lainnya

    Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan depresiasi mata uang regional lainnya.

    Menurut Lukman, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah tingginya harga minyak dunia yang bertahan dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut dinilai perlahan menggerus nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS.

    "Kalau dilihat, pelemahan rupiah juga diikuti oleh pelemahan mata uang regional yang tidak kalah besar. Faktor utama adalah harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi, yang secara perlahan akan terus menggerus nilai rupiah,” ujar Lukman.

  3. 3. Investor tunggu data MSCI

    Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut membebani pergerakan rupiah. Investor disebut cenderung mengambil posisi risk off menjelang pengumuman MSCI yang dinilai berpotensi mempengaruhi arus modal asing di pasar keuangan domestik.

    Pengumuman hasil rebalancing MSCI Indonesia (May 2026 Index Review) dijadwalkan pada 12 Mei 2026 (waktu Eropa/AS), dan efektif berlaku pada penutupan pasar 29 Mei 2026.

    Dia menambahkan, apabila hasil evaluasi MSCI lebih mengecewakan dari ekspektasi pasar, maka terdapat risiko arus modal keluar (capital outflow) yang lebih besar dari investor asing. Namun demikian, Lukman menilai pasar saham domestik kemungkinan sudah mengantisipasi skenario terburuk terkait pengumuman MSCI tersebut.

    “Apabila MSCI lebih mengecewakan tentunya dikhawatirkan outflow akan lebih besar. Namun melihat perkembangan terbaru, IHSG seharusnya sudah priced in worst case MSCI,” tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More