Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Loyo di Awal Juli, Dolar AS Kembali Perkasa
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah 62 poin ke level Rp17.969 per dolar AS pada awal Juli 2026, seiring penguatan dolar di pasar global.
  • Penguatan dolar dipicu data pekerjaan AS JOLTS yang lebih baik dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja masih kuat.
  • Investor menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia, sementara rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pagi ini uang rupiah jadi lemah, sedangkan uang dolar Amerika jadi kuat lagi. Katanya karena kerja orang di Amerika masih bagus, jadi banyak orang beli dolar. Sekarang satu dolar harganya hampir delapan belas ribu rupiah. Orang-orang masih tunggu kabar tentang harga barang dan jual beli Indonesia siang nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (1/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah berada di level Rp17.969 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi seiring menguatnya kembali dolar AS di pasar global.

1. Dolar menguat usai rilis data pekerjaan AS

Pengamat pasar uang Lukman Leong mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat atau rebound setelah rilis data JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) AS menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan pasar.

Menurutnya, data tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Kondisi itu mendorong pelaku pasar kembali memburu dolar AS sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mendapat tekanan.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang rebound oleh data pekerjaan AS JOLTS yang lebih kuat dari perkiraan," kata Lukman.

2. Investor tunggu sejumlah data ekonomi RI

Lukman menilai pelemahan rupiah berpotensi tidak terlalu dalam. Dalam hal ini, investor masih menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini.

Data inflasi digunakan untuk melihat perkembangan harga barang dan jasa, sedangkan neraca perdagangan menunjukkan selisih nilai ekspor dan impor Indonesia. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pelaku pasar.

"Perlemahan diperkirakan terbatas, dengan investor menantikan data inflasi dan perdagangan Indonesia yang akan dirilis siang ini," ujar dia.

3. Rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000

Lukman memperkirakan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Editorial Team

Related Article