Analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah didorong sentimen negatif pelaku pasar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketidakpastian akibat eskalasi perang di Timur Tengah memicu investor untuk tetap berhati-hati.
“Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi.
Dari sisi domestik, kekhawatiran pelaku pasar meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen.
“Dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadao pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti,” ucap Ibrahim.