Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Legislator: Ekonomi RI Tidak Berdiri di Atas Satu Kaki
Ilustrasi uang rupiah dan dampak ekonomi. (IDN Times/Putra Bali Mula)
  • Azis Subekti menegaskan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada belanja negara, melainkan juga digerakkan oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas dunia usaha.
  • Pelemahan rupiah disebut sebagai bagian dari dinamika global yang kompleks, mencerminkan interaksi antara arus modal, suku bunga internasional, serta kredibilitas kebijakan pemerintah.
  • Azis menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kepercayaan pasar dan kesejahteraan rakyat dengan memperkuat produktivitas UMKM, koperasi, petani, dan nelayan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menilai perdebatan mengenai pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah perlu dilihat secara utuh. Menurutnya, kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia saat ini hanya ditopang belanja negara tidak sepenuhnya tepat karena mengabaikan peran besar konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama ekonomi nasional.

Azis menegaskan ekonomi Indonesia tidak berdiri di atas satu kaki. Ia menyebut aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan kebijakan negara sama-sama menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, publik perlu melihat data ekonomi secara lebih utuh dan tidak hanya berfokus pada satu indikator.

1. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi

Ilustrasi pasar. IDN Times/Sunariyah

Azis menyoroti perdebatan yang muncul setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen pada Triwulan I 2026. Menurutnya, tingginya pertumbuhan tersebut tidak serta-merta menjadikan belanja negara sebagai penopang utama ekonomi nasional.

“Dalam struktur Produk Domestik Bruto Indonesia, konsumsi pemerintah hanya berada di kisaran 6,7 persen. Sementara konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 54 persen dari keseluruhan aktivitas ekonomi nasional,” kata Azis dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi harus dilihat dari pendekatan source of growth. Berdasarkan pendekatan itu, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sekitar 2,94 poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, investasi sekitar 1,79 poin, sementara konsumsi pemerintah sekitar 1,26 poin.

“Angka-angka tersebut menyampaikan pesan yang sederhana namun penting: ekonomi Indonesia tidak berdiri di atas satu kaki,” ujar Azis. “Ia bergerak karena kombinasi antara aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan kebijakan negara,” lanjutnya.

Menurut Azis, kekuatan utama Indonesia selama ini berada pada pasar domestik yang besar dan aktivitas ekonomi rakyat yang terus bergerak setiap hari.

2. Pelemahan rupiah disebut cerminan dinamika global

Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa)

Meski optimistis terhadap kekuatan pasar domestik, Azis mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tidak mengabaikan perkembangan ekonomi global. Ia menilai pelemahan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan internasional yang semakin kompleks.

“Nilai tukar rupiah, arus modal, pasar obligasi, suku bunga global, harga energi, dan sentimen investor saling terhubung dalam jaringan yang sangat kompleks,” katanya.

Menurut Azis, ketika investor global melihat peningkatan risiko, modal dapat keluar dari negara berkembang sehingga memicu tekanan terhadap mata uang dan ruang fiskal pemerintah.

“Di titik itulah pasar sedang memberikan penilaian. Bukan penilaian terhadap satu kebijakan. Melainkan terhadap kemampuan sebuah negara menjaga arah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pasar modern tidak hanya melihat angka-angka ekonomi, tetapi juga membaca kredibilitas dan konsistensi kebijakan pemerintah.

“Karena pasar modern sesungguhnya tidak hanya membaca angka. Ia membaca disiplin. Ia membaca konsistensi. Ia membaca kredibilitas. Dan sering kali, ia membaca masa depan sebelum masa depan itu benar-benar tiba,” kata Azis.

3. Negara perlu menjaga keseimbangan pasar dan rakyatpasa

Suasana Pasar Pabaeng-baeng Makassar tetap ramai jelang Idul Adha, Selasa (26/5/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Azis menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kepercayaan pasar dan kepentingan rakyat. Menurutnya, keduanya memiliki fungsi berbeda tetapi sama-sama penting bagi keberlanjutan ekonomi nasional.

“Pasar menyediakan likuiditas. Rakyat menyediakan daya tahan. Pasar menyediakan modal. Rakyat menyediakan permintaan. Pasar memberikan sinyal. Rakyat memberikan kehidupan,” ujarnya.

Ia mengingatkan negara tidak boleh hanya mengejar penilaian positif pasar, tetapi juga harus memastikan ekonomi rakyat terus berkembang melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah.

“UMKM harus naik kelas. Koperasi harus menjadi institusi ekonomi modern. Petani harus memperoleh akses teknologi dan pembiayaan yang lebih baik. Nelayan harus terhubung dengan rantai pasok yang lebih efisien,” kata Azis.

Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa pasar domestik yang luas, masyarakat yang adaptif, serta ekonomi rakyat yang berulang kali terbukti mampu menjadi bantalan saat dunia mengalami krisis.

“Karena pada akhirnya, pasar memang menilai. Tetapi rakyatlah yang menentukan,” ujar Azis.

Editorial Team

Related Article