Rupiah Tembus Rp17.035 Jelang Deadline Trump ke Iran

- Rupiah ditutup melemah ke Rp17.035 per dolar AS akibat tekanan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar Amerika Serikat.
- Tenggat waktu Presiden Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz memicu ketegangan pasar dan kekhawatiran inflasi global.
- Laporan tenaga kerja AS yang kuat memperkuat posisi dolar, sementara rupiah diprediksi masih fluktuatif dengan potensi melemah hingga sekitar Rp17.080 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (6/4/2026). Rupiah tertekan oleh tensi geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi dari Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini parkir di level Rp17.035 per dolar AS, melemah sebesar 55 poin atau 0,32 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.980 per dolar AS.
1. Trump bikin pasar tegang
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan investor saat ini tengah fokus pada tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pada Minggu (5/4/2026), Trump memperingatkan agar Iran segera mengoperasikan kembali jalur air strategis tersebut paling lambat Selasa (7/4/2026) pukul 8 malam Waktu Bagian Timur.
"Investor fokus pada tenggat waktu Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz," ujar Ibrahim.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump meningkatkan tekanan dengan mengancam akan menjadi "Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan" di Iran jika mereka tidak segera membuka selat tersebut.
Di sisi lain, pihak Iran melalui juru bicara kepresidenan, Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, menyatakan bahwa transit hanya bisa dilanjutkan jika Iran mendapat kompensasi atas kerusakan terkait perang.
"Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir," katanya.
2. Ekonomi AS masih tangguh
Keperkasaan dolar AS juga didukung oleh laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang menunjukkan penambahan 178 ribu lapangan kerja pada Maret 2026. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang hanya memprediksi kenaikan sebanyak 60 ribu, setelah sebelumnya sempat turun 133 ribu.
"Sementara itu, tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3 persen pada Maret dari 4,4 persen pada Februari, lebih baik dari perkiraan," paparnya.
3. Rupiah terancam sentuh Rp17.200
Jika melihat kinerja sejak awal tahun, rupiah saat ini mencatatkan pelemahan 2,13 persen. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 minggu, nilai tukar mata uang kita bergerak sangat fluktuatif di rentang Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah. Rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.030 hingga Rp17.080 per dolar AS.



















