Pasok BBM, KKKS Didorong Bawa Pulang Hasil Produksi Minyak Luar Negeri

- Komaidi Notonegoro mendorong KKKS nasional seperti Pertamina dan Medco membawa pulang hasil produksi minyak luar negeri untuk memenuhi kebutuhan BBM domestik melalui kilang lokal dengan harga publish rate.
- Pertamina sebelumnya telah memulangkan 1 juta barel minyak dari Aljazair, dan langkah serupa diharapkan terus dilakukan guna menjaga pasokan di tengah lonjakan harga minyak dunia serta pelemahan rupiah.
- Ketua Aspermigas Elan Biantoro menegaskan pentingnya ketahanan energi dibanding profit, menekankan prioritas pada ketersediaan pasokan minyak agar roda ekonomi nasional tetap berputar stabil.
Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) nasional seperti Pertamina dan Medco untuk mengalihkan hasil produksi minyak mereka di luar negeri ke dalam negeri.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk memenuhi kebutuhan BBM domestik dengan mengolah minyak tersebut di kilang lokal menggunakan harga publish rate.
”Saya sepakat dan mendukung perusahaan migas asal Indonesia untuk membawa pulang minyak dari luar negeri (dan mengolah di kilang di dalam negeri dengan harga publish rate). Karena dari sisi bisnis ada selisih sedikit, namun yang penting dalam negeri terpenuhi dahulu,” kata Komaidi dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Dia menilai ketersediaan stok di dalam negeri menjadi prioritas utama guna menghindari krisis energi parah seperti yang terjadi di Filipina, di mana kelangkaan pasokan memicu lonjakan harga hingga 70 persen.
1. Pertamina pernah bawa pulang 1 juta barel dari Aljazair

Skema membawa pulang hasil produksi tersebut bukan hal baru. Pada Januari 2026, Pertamina telah mengangkut 1 juta barel minyak mentah dari Blok 405 A Aljazair yang dikelola oleh Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP).
Komaidi menegaskan pasokan tersebut bukan merupakan komoditas impor, melainkan murni hasil produksi dari wilayah kerja perusahaan Indonesia di mancanegara.
Dia berharap langkah serupa dapat kembali dilakukan oleh Pertamina maupun perusahaan swasta seperti Medco. Selain itu, Komaidi juga menyarankan agar KKKS swasta yang beroperasi di Indonesia memprioritaskan penjualan minyak mentah mereka ke kilang Pertamina.
Hal tersebut dianggap krusial mengingat harga minyak dunia yang terus melonjak, pelemahan kurs rupiah, serta terbatasnya pasokan global.
2. Aspermigas sebut ketahanan energi lebih penting dari profit

Senada dengan Komaidi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro menegaskan membawa pulang minyak hasil ekspansi luar negeri sangat diperlukan untuk mencegah defisit pasokan nasional.
”Ya memang itu harus dilakukan, membawa pulang minyak hasil ekspansi ke luar negeri, agar dalam negeri tidak defisit,” kata Elan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Elan menilai semua pihak harus mencari solusi kreatif agar kebutuhan energi, terutama untuk sektor industri dan ekonomi, tetap terpenuhi.
”Kondisi seperti sekarang kita harus cari-cari akal. Kalau tidak, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi. Kalau masyarakat mungkin kita bisa imbau untuk berhemat, tapi kebutuhan industri, untuk pengembangan ekonomi, barang dan jasa di kawasan industri kan butuh BBM,” ujar Elan.
3. Fokus pada ketersediaan barang untuk roda ekonomi

Elan menekankan agar perusahaan migas Indonesia saat ini tidak sekadar mengejar keuntungan besar. Fokus utama saat ini adalah menjamin ketersediaan barang di dalam negeri demi menjaga perputaran roda ekonomi.
Dia menyatakan masalah harga bisa dibahas kemudian setelah kepastian suplai terpenuhi. Bagi Elan, tersedianya stok minyak jauh lebih penting daripada kalkulasi profit di tengah ancaman krisis global.
”Sekarang lupakan dulu harga Yang penting suplainya. Barangnya ada dulu, baru bicara harga. Jadi biar ekonomi juga berputar,” kata Elan.



















