Saudi Perbesar Jalur Pipa Minyak, Mengapa Harga Belum Tentu Turun?

Saudi Aramco menargetkan kapasitas pipa East-West naik dari 7 menjadi 10 juta barel per hari dalam dua hingga tiga tahun, untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Kapasitas pipa lebih besar tidak otomatis menurunkan harga minyak karena pasokan aktual bergantung pada produksi, ekspor, kapasitas kilang, serta kondisi pasar global.
Jalur alternatif tetap rentan terhadap serangan dan gangguan pelayaran Laut Merah, sementara kapasitas Saudi dan UEA belum mampu menggantikan seluruh volume minyak melalui Hormuz.
Arab Saudi berupaya memperbesar kapasitas jalur pipa minyak untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Saudi Aramco menargetkan kapasitas pipa East-West atau Petroline meningkat dari 7 juta menjadi 10 juta barel per hari dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Namun, penambahan kapasitas tersebut belum tentu langsung menurunkan harga minyak karena pasokan aktual, keamanan jalur, dan kemampuan pengolahan minyak juga berpengaruh.
Selat Hormuz menjadi sorotan setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu pengiriman energi dari kawasan Teluk. Jalur alternatif melalui Arab Saudi dapat membantu mengalihkan sebagian minyak menuju Laut Merah, tetapi rute tersebut juga menghadapi tantangan. Karena itu, investor dan pelaku industri energi masih perlu memperhatikan sejumlah faktor sebelum memperkirakan arah harga minyak dunia.
Table of Content
1. Arab Saudi menargetkan kapasitas pipa 10 juta barel per hari

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Александр Лич) Dikutip dari Yahoo Finance, Saudi Aramco berencana meningkatkan kapasitas pipa East-West agar lebih banyak minyak dapat dikirim dari wilayah produksi di bagian timur Arab Saudi menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer ini memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz. Pemerintah Arab Saudi menyebut peningkatan kapasitas tersebut membutuhkan perbaikan stasiun pompa dan pembangunan infrastruktur tambahan selama dua hingga tiga tahun.
Pada Oktober 2026, Menteri Energi Arab Saudi menyatakan bahwa aliran minyak melalui pipa tersebut telah mencapai sekitar 5,8 juta barel per hari setelah pemulihan dari gangguan sebelumnya. Kapasitas maksimum yang tersedia saat ini mencapai 7 juta barel per hari, sedangkan target 10 juta barel masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Artinya, target tersebut tidak menunjukkan bahwa tambahan 3 juta barel minyak sudah tersedia untuk pasar saat ini.
2. Kapasitas pipa yang lebih besar belum tentu menurunkan harga minyak

ilustrasi pipa minyak (magnific.com/aleksandarlittlewolf) Peningkatan kapasitas pipa dapat membantu menambah pasokan minyak yang tersedia bagi pasar global, terutama ketika pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Namun, kapasitas maksimum pipa berbeda dari volume minyak yang benar-benar dapat diproduksi, dialirkan, dan diekspor setiap hari. Jika produksi minyak belum mencukupi atau jalur distribusi lain mengalami hambatan, penambahan kapasitas pipa tidak otomatis menghasilkan pasokan tambahan dalam jumlah yang sama.
Gilbert Metcalf, ekonom energi dan mantan pejabat Departemen Keuangan Amerika Serikat mengatakan bahwa tambahan aliran minyak hingga 10 juta barel per hari berpotensi menambah pasokan pasar global sekitar 2 persen jika target tersebut tercapai. Tambahan pasokan itu dapat menekan harga, tetapi dampaknya kemungkinan terbatas dan bergantung pada kondisi pasar. Kapasitas kilang untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar juga menjadi faktor penting karena tidak semua tambahan minyak dapat langsung memenuhi kebutuhan konsumen.
3. Ancaman serangan dan gangguan jalur pelayaran masih membayangi

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong) Pipa East-West tidak sepenuhnya bebas dari risiko keamanan karena fasilitas minyak dan stasiun pompa dapat menjadi sasaran serangan. Pada September 2026, serangan drone menyebabkan penghentian sementara operasi pipa sebelum Arab Saudi memulihkan alirannya. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa jalur alternatif tetap rentan terhadap gangguan yang dapat membatasi pengiriman minyak.
Kapal tanker yang membawa minyak dari pelabuhan Yanbu juga harus melewati kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb untuk mencapai sejumlah pasar internasional. Ancaman terhadap pelayaran di kawasan itu dapat meningkatkan biaya asuransi, memperpanjang waktu pengiriman, dan membuat perusahaan pelayaran lebih berhati-hati. Dengan demikian, keberhasilan Arab Saudi mengalihkan minyak dari Selat Hormuz tetap bergantung pada keamanan jalur darat dan laut secara bersamaan.
4. Selat Hormuz masih memegang peran penting dalam pasokan minyak dunia

Peta Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en, free license) Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis karena sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk bergantung pada akses menuju perairan internasional melalui selat tersebut. Data Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak melalui Hormuz rata-rata berada sedikit di bawah 9 juta barel per hari pada September 2026, sekitar 44 persen dari tingkat Februari. Penurunan tersebut menggambarkan besarnya gangguan terhadap arus perdagangan minyak selama konflik berlangsung.
Jalur alternatif Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dapat mengurangi sebagian ketergantungan tersebut, tetapi kapasitasnya belum cukup untuk menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati Hormuz. Badan Energi Internasional (IEA) juga menyoroti keterbatasan kapasitas jalur alternatif dan tantangan logistik untuk mengalihkan minyak dalam jumlah besar. Karena itu, pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz masih menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan harga minyak dunia.
Rencana Arab Saudi memperbesar kapasitas pipa minyak merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pasokan energi ketika jalur pelayaran utama terganggu. Namun, harga minyak tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pipa, melainkan juga oleh produksi, keamanan infrastruktur, kemampuan kilang, dan permintaan global. Selama risiko geopolitik masih tinggi dan pengiriman melalui Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya, penambahan jalur alternatif belum tentu cukup untuk membuat harga minyak turun secara signifikan.























