Harga Minyak Tembus 115 Dolar AS, Imbas Gertakan Militer Iran

- Harga Brent mencapai 115 dolar AS per barel dan WTI melampaui 100 dolar AS, terdorong ancaman Iran serta kekhawatiran gangguan pasokan energi Timur Tengah.
- Rencana serangan lanjutan AS-Israel terhadap Iran, klaim serangan di Selat Hormuz, dan eskalasi Houthi meningkatkan risiko bagi pelayaran serta distribusi minyak internasional.
- Pasokan diesel global makin ketat akibat serangan terhadap kilang Rusia, pengiriman produk olahan terbatas, dan AS menyiapkan blokade pelabuhan Iran jangka panjang.
Jakarta, IDN Times – Harga minyak mentah Brent menyentuh 115 dolar AS per barel (setara Rp2,05 juta) pada Jumat (23/10/2026) waktu setempat, level tertinggi sejak Mei. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan hingga melampaui 100 dolar AS (sekitar Rp1,79 juta per barel).
Harga Brent naik 1 persen dalam sehari dan hampir 4 persen selama sepekan, sehingga memperpanjang kenaikan lebih dari 85 persen sepanjang 2026. Harga minyak tersebut sebelumnya berada di level 72 dolar AS (setara Rp1,2 juta) per barel pada Februari, sebelum melonjak akibat ancaman Teheran untuk menyerang instalasi minyak, kabel bawah laut, pusat data, hingga fasilitas kecerdasan buatan apabila Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah milisi Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang pelabuhan Yanbu di Laut Merah, ladang minyak, serta bandara di Arab Saudi. Ancaman terhadap berbagai fasilitas strategis tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok energi dari Timur Tengah dan tertahannya distribusi minyak mentah dalam jumlah besar.
1. AS dan Israel menyiapkan serangan baru terhadap Iran

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Menurut laporan The New York Times, AS dan Israel telah merancang serangan lanjutan terhadap Iran yang dijadwalkan setelah pemilihan sela AS pada 3 November 2026. Ketegangan meningkat ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menyerang empat kapal dagang di Selat Hormuz pada Rabu (22/10/2026), yang kemudian diikuti perintah Departemen Luar Negeri AS untuk mengevakuasi sebagian diplomat beserta keluarga pegawai pemerintah dari Arab Saudi.
Kondisi di jalur pelayaran internasional tersebut turut memperbesar risiko gangguan distribusi komoditas utama. Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter, menyebut serangan Houthi terhadap fasilitas di Arab Saudi meningkat sepanjang pekan ini, sementara pelayaran di Selat Hormuz masih menghadapi bahaya akibat proyektil yang terus diluncurkan.
Pialang Interactive Investor, Richard Hunter, turut menyoroti pengaruh perkembangan konflik terhadap pergerakan harga minyak di pasar keuangan. Ia menjelaskan bahwa laporan mengenai kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran setelah pemilihan sela, alih-alih menempuh jalur diplomasi, telah mendorong kenaikan harga minyak.
“Laporan luas bahwa AS sedang mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu daripada menempuh jalur diplomatik sudah cukup untuk membuat harga melonjak, setelah apa yang banyak dianggap akan menjadi konflik singkat kini memasuki bulan kedelapan,” katanya, dikutip The Guardian.
2. Perang memperketat pasokan diesel global

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.) Serangan Ukraina terhadap kilang diesel Rusia turut memperburuk ketersediaan bahan bakar di pasar internasional. Peningkatan ekspor dari Teluk Arab belakangan ini juga belum cukup untuk memastikan distribusi energi telah pulih secara permanen, sehingga para analis mengingatkan pelaku pasar agar tak terburu-buru menganggap kondisi sudah kembali normal.
Analis Citigroup menyoroti pertanyaan yang kerap disampaikan klien mengenai tingginya harga minyak di tengah pemulihan ekspor dari kawasan Teluk Arab. Mereka memperingatkan bahwa peningkatan arus pengiriman selama beberapa hari belum tentu mencerminkan pemulihan pasokan secara menyeluruh.
“Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul selama pertemuan kami dengan klien adalah mengapa harga minyak tetap tinggi meskipun ada pemulihan yang jelas dalam ekspor Arab Gulf. Kami akan berhati-hati terhadap ekstrapolasi beberapa hari arus yang lebih kuat menjadi normalisasi penuh ekspor, karena peningkatan sementara dapat mencerminkan penarikan inventaris atau pelepasan barel yang sebelumnya ditimbun,” tulis para analis dalam catatan tersebut, dikutip The Business Times.
3. AS menyiapkan blokade ekonomi jangka panjang terhadap Iran

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menyampaikan kepada Financial Times bahwa pemerintah AS tengah menyiapkan skenario perang berkepanjangan yang berpotensi menemui jalan buntu hingga satu tahun ke depan. Waltz juga menyebut Angkatan Laut AS siap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran dalam jangka panjang untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Dampak ketegangan turut memengaruhi operasional perusahaan energi Arab Saudi, Aramco, yang mengevakuasi kantor pusatnya di Dhahran setelah alarm keamanan berbunyi dan meminta seluruh staf bekerja dari rumah. Meski aliran minyak mentah dari Teluk Persia mulai mendekati tingkat sebelum perang, pengiriman produk olahan masih sangat terbatas sehingga harga diesel meningkat lebih cepat dan mendorong pemerintah mencairkan cadangan nasional.
Di tengah kenaikan harga tersebut, Presiden AS Donald Trump terus mendorong kesepakatan impor diesel dengan Moskow untuk menekan harga menjelang pemilu.























