Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Selat Hormuz Ditutup, Begini Data Perdagangan RI ke Iran, Oman, UEA
Ilustrasi peta Selat Hormuz dan lokasi pangkalan laut militer Iran. twitter.com/PriapusIQ
  • Selat Hormuz ditutup setelah serangan AS dan Israel ke Iran, memicu kekhawatiran atas jalur perdagangan strategis minyak, gas, dan komoditas dunia.
  • BPS mencatat impor nonmigas Indonesia dari Iran, Oman, dan UEA didominasi buah-buahan, besi baja, logam mulia, serta bahan kimia dengan nilai total miliaran dolar AS.
  • Ekspor nonmigas RI ke tiga negara tersebut mencapai miliaran dolar AS, terutama lemak nabati, kendaraan, dan perhiasan; BPS masih mengkaji dampak penutupan jalur terhadap perdagangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Jalur ini menghubungkan arus perdagangan minyak mentah, gas alam cair (LNG), serta komoditas non-energi dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara tujuan ekspor.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran di bagian utara, serta Oman dan Uni Emirat Arab di bagian selatan. Adapun saat ini, jalur pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan ditutup menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Minggu (1/3).

"Ekspor impor dari negara jalur Selat Hormuz yaitu Iran, Oman, dan UEA," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Konferensi Pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).

1. Indonesia banyak impor buah-buahan dari Iran

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Lebih lanjut, Ateng memaparkan nilai perdagangan Indonesia sepanjang 2025 dengan tiga negara yang berada di jalur Selat Hormuz, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dari sisi impor nonmigas, Indonesia mencatat impor dari Iran sebesar 8,4 juta dolar AS.

"Komoditas terbesarnya adalah buah-buahan (HS08) senilai 5,9 juta dolar AS, diikuti besi dan baja sebesar 0,8 juta dolar AS, serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS84) sebesar 0,7 juta dolar AS," jelasnya.

2. Rincian komoditas yang sering diimpor RI dari Oman dan UEA

ilustrasi ekspor (pixabay.com/michaelgaida)

Sementara itu, untuk impor nonmigas dari Oman mencapai 718,8 juta dolar AS, dengan komoditas utama besi dan baja sebesar 590,5 juta dolar AS. Selain itu terdapat bahan kimia organik (HS29) sebesar 56,7 juta dolar AS, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar 44,2 juta dolar AS.

Kemudian nilai impor nonmigas dari Uni Emirat Arab tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS. Komoditas dominannya berupa logam mulia dan perhiasan sebesar 511,1 juta dolar AS, aluminium dan barang daripadanya sebesar 181,6 juta dolar AS, serta garam, belerang, batu dan semen sebesar 43,2 juta dolar AS.

"Ternyata bukan hanya dari Australia, dari UAE juga kita mengimpor logam mulia dan perhiasan sebesar 511,1 juta dolar AS. Jadi lebih kecil dibandingkan dari Australia,” jelasnya.

3. Ekspor nonmigas ke Iran capai 249,1 juta dolar AS

Ilustrasi perdagangan ekspor. IDN Times/Istimewa

Dari sisi ekspor, kinerja perdagangan nonmigas Indonesia ke negara-negara di jalur Selat Hormuz tercatat cukup signifikan. Ekspor ke Iran mencapai 249,1 juta dolar AS, yang didominasi komoditas buah-buahan sebesar 86,4 juta dolar AS, diikuti kendaraan dan bagiannya 34,1 juta dolar AS, serta lemak dan minyak hewan/nabati 22 juta dolar AS.

Sementara itu, ekspor nonmigas ke Oman lebih tinggi, yakni 428,8 juta dolar AS. Komoditas utamanya berupa lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 227,7 juta dolar AS, kemudian kendaraan dan bagiannya 64,2 juta dolar AS, serta bahan mineral 48,1 juta dolar AS.

Adapun ekspor nonmigas ke Uni Emirat Arab (UEA) menjadi yang terbesar, menembus 4,0 miliar dolar AS. Rinciannya meliputi lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 510,3 juta dolar AS, kendaraan dan bagiannya 363,5 juta dolar AS, serta logam mulia dan perhiasan 183,6 juta dolar AS. Meski demikian, BPS belum dapat memastikan besaran potensi gangguan perdagangan akibat memanasnya situasi geopolitik di kawasan tersebut.

“Terkait berapa persen yang mungkin akan terganggu, ini tentunya perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Namun sebagai gambaran, berikut ekspor dan impor dari negara jalur Selat Hormuz,” ujar Ateng.

Editorial Team