Jakarta, IDN Times - Jaringan kedai kopi Starbucks menghentikan penggunaan program kecerdasan buatan (AI) bernama Automated Counting untuk menghitung stok barang di seluruh gerainya di Amerika Utara. Keputusan ini diambil sembilan bulan setelah penerapan awal, menyusul evaluasi bahwa sistem tersebut sering mengalami ketidakakuratan data yang pada akhirnya memengaruhi ketersediaan produk bagi pelanggan.
Penghentian program tersebut diumumkan melalui memo internal perusahaan. Meski awalnya dirancang sebagai bagian dari strategi perbaikan rantai pasok oleh CEO Brian Niccol, teknologi pemindai otomatis ini dinilai belum cukup stabil untuk diterapkan secara massal, sehingga perusahaan memutuskan untuk kembali menggunakan metode penghitungan manual.
