Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pakar HAM PBB Minta Starbucks dan AS Tanggapi Isu Antiserikat Pekerja

Pakar HAM PBB Minta Starbucks dan AS Tanggapi Isu Antiserikat Pekerja
Ilustrasi starbucks (unsplash.com/Athar Khan)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sekelompok pakar hak asasi manusia (HAM) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta Starbucks dan pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan penjelasan terkait dugaan tindakan anti-serikat pekerja. Isu penolakan terhadap serikat pekerja di jaringan kedai kopi tersebut dilaporkan sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Permintaan ini disampaikan melalui sebuah surat resmi tertanggal 10 Maret yang baru dipublikasikan oleh kantor HAM PBB pada pekan ini. Surat tersebut secara khusus menyoroti berbagai laporan mengenai dugaan tindakan balasan terhadap karyawan yang memutuskan bergabung dengan serikat pekerja.

1. Isi surat PBB terkait dugaan intimidasi pekerja

Ilustrasi bendera PBB (freepik.com/recstockfootage)
Ilustrasi bendera PBB (freepik.com/recstockfootage)

Surat yang disusun oleh empat pakar independen dari Dewan HAM PBB tersebut memuat dugaan pelanggaran terhadap karyawan Starbucks yang tergabung dalam serikat pekerja sejak 2021. Dokumen itu mencatat sejumlah insiden di beberapa negara bagian AS, seperti pemanggilan aparat kepolisian untuk membubarkan pekerja yang sedang membagikan selebaran atau menyampaikan protes.

Keempat pakar tersebut memiliki mandat resmi untuk menyelidiki dan mengangkat isu-isu HAM agar mendapat perhatian publik.

"Dugaan tindakan itu bisa menjadi pelanggaran hak atas kebebasan berekspresi, berkumpul secara damai, dan berserikat yang dilindungi hukum internasional," tulis para pakar Dewan HAM PBB dalam surat tersebut, dilansir The Straits Times.

2. Proses perundingan dan tanggapan manajemen Starbucks

Ilustrasi Starbucks (Pixabay.com/Sahin Sezer Dinçer )
Ilustrasi Starbucks (Pixabay.com/Sahin Sezer Dinçer )

Terkait teguran dari pakar PBB, manajemen Starbucks menyatakan bahwa perusahaan menanggapi hal ini dengan serius. Perusahaan menyebutkan bahwa gerai yang masuk dalam serikat pekerja berjumlah sekitar 4 persen dari total gerai mereka di AS.

"Kami terus berunding dengan serikat pekerja dengan niat baik dan telah memberikan penawaran kontrak bersama. Penawaran ini didasarkan pada gaji yang sudah bersaing dan tunjangan terbaik di industri seperti layanan kesehatan dan biaya kuliah," kata juru bicara Starbucks, Jaci Anderson.

Meski demikian, pihak Starbucks menilai serikat pekerja lebih mengutamakan publisitas daripada proses diskusi. Starbucks bahkan telah melaporkan pihak serikat kepada pengawas tenaga kerja AS dengan alasan mereka kerap meninggalkan meja perundingan.

3. Respons serikat pekerja

Ilustrasi Starbucks (unsplash.com/TR)
Ilustrasi Starbucks (unsplash.com/TR)

Menanggapi dinamika tersebut, serikat pekerja Starbucks Workers United memastikan bahwa proses perundingan dengan pihak manajemen sebenarnya masih terus berjalan. Mereka juga menyambut baik langkah dari lembaga sekelas PBB yang turut mengawasi persoalan ketenagakerjaan di perusahaan ini.

Selain dari PBB, dorongan penyelesaian masalah juga datang dari anggota parlemen AS. Sejumlah politisi Partai Demokrat meminta perusahaan untuk segera menyepakati kontrak kerja yang adil. Di sisi lain, lembaga penasihat pemegang saham sempat mengingatkan manajemen tentang adanya potensi risiko keuangan dan nama baik akibat konflik ketenagakerjaan ini. Meski begitu, pada pemungutan suara terakhir, mayoritas pemegang saham tetap memberikan dukungannya terhadap kebijakan perusahaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More

KNKT: Sinyal dan Komunikasi Jadi Pemicu Tragedi Tabrakan Kereta Bekasi

21 Mei 2026, 21:40 WIBNews