Starbucks Pangkas Tim Teknologi, Puluhan Karyawan Kena PHK

- Starbucks mem-PHK 61 pekerja divisi teknologi di kantor pusat Seattle sebagai bagian dari reorganisasi internal yang dijadwalkan berlangsung antara Juni hingga Agustus 2026.
- CEO Brian Niccol menjalankan strategi pemulihan bisnis dengan fokus pada percepatan layanan, konsistensi pelayanan, dan peningkatan kepuasan pelanggan, yang berhasil menaikkan laba bersih perusahaan sebesar 33 persen.
- Meski mengurangi tenaga kerja teknologi, Starbucks tetap mempertahankan sistem digitalnya dan berencana memperluas penggunaan otomatisasi serta kecerdasan buatan untuk efisiensi operasional di seluruh toko.
Jakarta, IDN Times - Starbucks Corporation kembali mengurangi jumlah pekerjanya di kantor pusat Seattle. Sebanyak 61 karyawan dari divisi teknologi resmi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) secara permanen.
Keputusan ini merupakan bagian dari penataan ulang internal perusahaan di bawah pimpinan CEO Brian Niccol. Langkah penghematan operasional ini tetap berjalan meskipun kinerja penjualan Starbucks tercatat mulai membaik.
1. Starbucks berhentikan 61 pekerja teknologi secara permanen

Rencana PHK ini telah dilaporkan kepada lembaga ketenagakerjaan setempat pada awal Mei 2026. Karyawan yang terdampak di Starbucks Support Center telah menerima surat pemberitahuan sejak April. Proses pemberhentian akan berjalan bertahap mulai 20 Juni hingga 28 Agustus 2026. Beberapa posisi yang dihapus meliputi analis keamanan, arsitek sistem, serta manajer produk.
Perusahaan menegaskan, keputusan ini tidak berkaitan dengan rencana pemindahan kegiatan operasional ke kantor baru di Nashville. Starbucks saat ini memang sedang menyiapkan kantor pusat regional di Nashville dengan nilai investasi 100 juta dolar AS (Rp1,75 triliun) yang ditargetkan mampu menampung 2.000 karyawan baru.
2. Strategi CEO Brian Niccol untuk perbaiki layanan dan kinerja perusahaan

Penataan jumlah karyawan ini sejalan dengan strategi pemulihan bisnis yang digagas oleh CEO Brian Niccol. Fokus utamanya adalah mempercepat waktu tunggu pesanan, menjaga pelayanan yang konsisten, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
"Strategi 'Kembali ke Starbucks' adalah langkah utama dari upaya pemulihan perusahaan, dan hal ini membuahkan hasil. Pekerjaan kami berjalan lebih cepat dari target yang ditentukan," kata Niccol, dilansir Business Insider.
Sebagai bagian dari perbaikan ini, posisi pimpinan teknologi (CTO) telah diganti sejak akhir 2025 untuk memperkuat sistem digital perusahaan. Selain mengubah susunan pekerja, Starbucks juga menutup sejumlah toko yang sepi pengunjung dan menyederhanakan pilihan menu.
Langkah ini mulai menunjukkan hasil positif. Pada awal 2026, laba bersih perusahaan naik 33 persen menjadi 510,9 juta dolar AS (Rp8,99 triliun), yang merupakan kenaikan keuntungan pertama dalam dua tahun terakhir.
3. Starbucks akan mengandalkan sistem otomatis dan teknologi AI

Meski jumlah pekerja teknologi berkurang, sistem digital seperti layanan pesan lewat ponsel dan program keanggotaan dipastikan tetap berjalan normal. Ke depan, Starbucks akan lebih mengandalkan sistem otomatis dan teknologi akal imitasi (AI) untuk memperlancar ketersediaan stok barang di ribuan tokonya.
Pengurangan pekerja kali ini menambah daftar efisiensi perusahaan. Pada 2025 lalu, Starbucks tercatat telah menghapus lebih dari 1.000 posisi di kantor pusat dan menutup puluhan toko di kawasan Amerika Utara. Saat ini, jumlah karyawan yang tersisa di kantor pusat Seattle berkisar 3.000 orang.
Kebijakan penghematan ini direspons wajar oleh pasar saham, di mana pergerakan harga saham Starbucks terpantau stabil.
"Kami terus menanamkan modal pada bagian yang paling penting untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang," jelas perwakilan resmi perusahaan.


















