Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Exxon-Chevron Kena Semprot Trump, Didesak Segera Turunkan Harga BBM

Exxon-Chevron Kena Semprot Trump, Didesak Segera Turunkan Harga BBM
ilustrasi bahan bakar minyak (BBM) (pexels.com/Engin Akyurt)
Intinya Sih
  • Trump mengkritik ExxonMobil dan Chevron, mendesak keduanya segera menurunkan harga BBM setelah lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dengan Iran membebani konsumen.
  • ExxonMobil dan Chevron mencatat laba bersih gabungan US$26,5 miliar pada kuartal kedua; Chevron meraih US$12,2 miliar dan ExxonMobil US$14,5 miliar.
  • Kedua perusahaan belum berkomentar, sementara American Petroleum Institute menyatakan harga BBM ritel dipengaruhi mekanisme pasar global, bukan keputusan satu atau dua perusahaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Presiden AS Donald Trump melayangkan kritik tajam kepada dua raksasa minyak asal negaranya, ExxonMobil dan Chevron, di Gedung Putih pada Senin (3/8/2026). Ia menilai kedua perusahaan tersebut meraup keuntungan yang terlalu besar di tengah ketegangan perang antara AS-Israel dengan Iran.

Ketegangan geopolitik tersebut sempat melambungkan harga minyak mentah dunia hingga memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi konsumen. Melalui pernyataan resminya, Trump mendesak korporasi energi itu untuk segera mengembalikan sebagian keuntungan mereka kepada masyarakat dalam bentuk penurunan harga eceran.

1. Rekor keuntungan melimpah di tengah konflik Iran

ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar
ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar (pexels.com/Derwin Edwards)

ExxonMobil dan Chevron baru saja melaporkan laporan keuangan kuartal kedua mereka yang sangat fantastis pada akhir Juli lalu. Berdasarkan laporan tersebut, kedua raksasa migas ini berhasil meraup laba bersih gabungan hingga mencapai 26,5 miliar dolar AS. Kenaikan keuntungan yang melimpah ini didorong oleh lonjakan harga minyak global akibat konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dilansir Al Jazeera, Chevron mencatatkan laba bersih sebesar 12,2 miliar dolar AS, melonjak hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ExxonMobil membukukan keuntungan sebesar 14,5 miliar dolar AS dalam tiga bulan yang berakhir Juni lalu. Keuntungan luar biasa ini terjadi saat masyarakat dunia, terutama warga Amerika Serikat, justru harus menghadapi lonjakan biaya hidup akibat harga bensin eceran yang melambung tinggi.

2. Tuntutan Trump agar harga BBM segera turun

Donald Trump
Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Melihat situasi tersebut, Trump secara terbuka mengecam kebijakan bisnis ExxonMobil dan Chevron yang dinilai kurang berempati kepada konsumen domestik. Dalam pernyataannya di Oval Office, sang presiden menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak boleh memanfaatkan kelangkaan energi global demi memperkaya diri sendiri. Ia mendesak kedua korporasi besar itu untuk segera memotong harga bahan bakar di tingkat eceran demi membantu meringankan beban ekonomi masyarakat.

Sebagaimana dilansir CBS News, Trump juga menyindir Chief Executive Officer (CEO) Chevron, Mike Wirth, melalui platform media sosial Truth Social miliknya. Ia menuding bos Chevron tersebut sengaja melupakan kontribusi kebijakan pemerintahannya yang selama ini dinilai sangat membantu industri minyak nasional berkembang. Kemarahan Trump ini semakin diperkuat oleh tekanan politik dalam negeri menjelang pemilu paruh waktu, di mana isu inflasi dan mahalnya harga energi menjadi sorotan utama publik.

3.Respons dari pihak industri minyak

ilustrasi barel minyak
ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)

Hingga saat ini, pihak ExxonMobil dan Chevron sendiri masih memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait teguran keras dari sang presiden tersebut. Sikap bungkam ini diambil di tengah upaya keras pemerintah Amerika Serikat dalam menstabilkan pasokan energi di pasar domestik. Para pelaku pasar global pun kini tengah memantau dengan cermat bagaimana dinamika hubungan antara pemerintah AS dengan para produsen minyak raksasa ini akan berkembang selanjutnya.

Sementara itu, perwakilan dari American Petroleum Institute menyatakan bahwa fluktuasi harga bahan bakar di pasar ritel sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh mekanisme pasar global yang kompleks. Kenaikan harga ini tidak serta-merta ditentukan oleh kebijakan sepihak dari satu atau dua perusahaan minyak saja. Penjelasan ilmiah tersebut dinilai kontras dengan pandangan politik Trump yang menginginkan intervensi langsung demi penurunan harga secara instan untuk meredakan kekecewaan para pemilihnya.

Teguran keras dari Trump ini menunjukkan ketegangan yang nyata antara kepentingan politik domestik dan dinamika pasar energi global di tengah konflik geopolitik. Pada akhirnya, masyarakat luas kini hanya bisa menunggu apakah tekanan politik dari Gedung Putih ini benar-benar mampu memaksa para raksasa migas tersebut untuk menurunkan harga BBM di tingkat eceran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More