5 Strategi Copywriting Ramadan yang Lebih Relatable dan Menyentuh

- Artikel menyoroti pentingnya pendekatan copywriting Ramadan yang lebih hangat, jujur, dan relevan dengan keseharian audiens agar pesan brand terasa manusiawi dan menyentuh secara emosional.
- Lima strategi utama mencakup penggunaan cerita autentik, nada reflektif, fokus pada nilai sosial, pemilihan diksi serta visual yang selaras, dan ajakan tulus tanpa kesan memaksa.
- Tujuan keseluruhan strategi ini adalah membangun koneksi emosional yang kuat antara brand dan audiens selama Ramadan melalui empati serta komunikasi yang bermakna.
Ramadan selalu punya ruang emosional yang berbeda dibanding bulan lainnya. Ada nuansa refleksi, kebersamaan, dan spiritualitas yang terasa lebih kuat dalam setiap aktivitas, termasuk dalam komunikasi brand. Karena itu, pendekatan copywriting saat Ramadan gak bisa disamakan dengan kampanye biasa yang hanya fokus pada diskon atau penawaran cepat.
Audiens cenderung lebih sensitif terhadap pesan yang terlalu agresif dan terlalu berorientasi pada penjualan. Mereka mencari pesan yang hangat, jujur, dan relevan dengan pengalaman sehari-hari selama berpuasa. Di sinilah strategi copywriting perlu disesuaikan agar terasa lebih manusiawi dan menyentuh. Yuk, pahami strategi yang bisa membuat pesan Ramadan terasa lebih dekat di hati dan lebih bermakna!
1. Angkat cerita keseharian yang autentik

Strategi pertama dalam copywriting Ramadan adalah mengangkat cerita keseharian yang autentik dan dekat dengan realitas. Ramadan identik dengan momen sahur terburu-buru, rasa kantuk di siang hari, atau momen berbuka sederhana bersama keluarga. Cerita-cerita kecil seperti ini jauh lebih kuat dibanding kalimat promosi yang terdengar formal dan kaku.
Ketika narasi terasa jujur dan apa adanya, audiens lebih mudah terhubung secara emosional. Cerita yang realistis menciptakan rasa “ini gue banget” tanpa perlu berlebihan. Pendekatan seperti ini membantu brand hadir sebagai bagian dari perjalanan Ramadan, bukan sekadar penjual produk.
2. Gunakan nada yang hangat dan reflektif

Ramadan adalah momen refleksi, sehingga nada komunikasi sebaiknya lebih lembut dan penuh empati. Hindari gaya bahasa yang terlalu keras atau terlalu hard selling karena terasa kurang selaras dengan suasana bulan suci. Nada yang hangat memberi kesan bahwa brand memahami makna Ramadan secara lebih dalam.
Pendekatan reflektif bisa diwujudkan melalui kalimat yang mengajak merenung tanpa terasa menggurui. Pesan seperti tentang syukur, kebersamaan, atau perjalanan memperbaiki diri sering terasa lebih relevan. Dengan nada yang tepat, copywriting Ramadan mampu menghadirkan kedekatan emosional yang lebih kuat.
3. Fokus pada nilai, bukan sekadar promo

Strategi berikutnya adalah menempatkan nilai di atas sekadar penawaran harga. Ramadan bukan hanya soal transaksi, tetapi tentang berbagi, kepedulian, dan kebermanfaatan. Jika komunikasi hanya berisi potongan harga, pesan akan terasa dangkal dan cepat terlupakan.
Brand bisa menonjolkan kontribusi sosial, program donasi, atau pesan tentang kebersamaan. Pendekatan ini menciptakan makna yang lebih luas dibanding sekadar ajakan membeli. Audiens cenderung lebih menghargai brand yang menunjukkan kepedulian nyata selama Ramadan.
4. Bangun koneksi emosional lewat visual dan diksi

Dalam copywriting, pilihan kata atau diksi sangat menentukan rasa yang muncul. Kata-kata yang lembut, penuh makna, dan tidak berlebihan mampu memperkuat suasana Ramadan. Dipadukan dengan visual yang hangat seperti keluarga berbuka atau suasana masjid saat senja, pesan terasa lebih utuh.
Koneksi emosional terbentuk ketika teks dan visual saling mendukung. Jangan hanya fokus pada estetika, tetapi juga keselarasan makna. Ketika pesan terasa selaras secara emosional, audiens lebih mudah mengingat dan menghargai komunikasi brand tersebut.
5. Sisipkan ajakan yang tulus dan tidak memaksa

Ajakan dalam copywriting Ramadan sebaiknya terasa tulus dan tidak agresif. Hindari kalimat yang terlalu mendesak atau memberi tekanan waktu secara berlebihan. Ramadan adalah momen ketenangan, sehingga ajakan yang terlalu keras terasa kurang sesuai dengan suasana.
Gunakan kalimat ajakan yang lebih lembut dan kontekstual. Misalnya, ajakan untuk berbagi, mempererat hubungan, atau mendukung sesama melalui produk yang ditawarkan. Pendekatan ini membuat pesan terasa lebih manusiawi dan membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.
Strategi copywriting Ramadan yang relatable dan menyentuh selalu berangkat dari empati. Bukan sekadar soal kata yang indah, tetapi tentang memahami suasana batin audiens selama bulan suci. Ketika pesan terasa jujur dan hangat, brand akan lebih mudah diterima tanpa terasa memaksa. Ramadan adalah momen penuh makna, dan komunikasi yang tepat mampu memperkuat makna tersebut secara lebih mendalam.






.jpg)





