ilustrasi komunitas (magnific.com/8photo)
Kualitas ketiga adalah compassion atau kepedulian terhadap orang lain. Dalam dunia bisnis, kamu mungkin memiliki target besar untuk meningkatkan keuntungan, memperluas pasar, dan mengembangkan perusahaan. Namun, ambisi tersebut sebaiknya gak membuatmu melupakan orang-orang yang ikut berkontribusi dalam perjalanan bisnis. Karyawan, pelanggan, mitra kerja, hingga orang-orang di sekitarmu tetap perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan yang layak.
Sebagai pemimpin, kamu perlu memahami bahwa keberhasilan perusahaan gak hanya ditentukan oleh jumlah produk yang terjual atau keuntungan yang berhasil diperoleh. Cara perusahaan mencapai target juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Misalnya, kamu memang ingin meningkatkan produktivitas tim, tapi bukan berarti harus memberikan beban kerja berlebihan tanpa mempertimbangkan kemampuan mereka. Kepedulian terhadap kondisi karyawan justru bisa membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan saling menghargai.
Compassion juga berkaitan erat dengan kemampuan membangun kepercayaan dalam tim. Ketika karyawan merasa dihormati, didukung, dan aman untuk menyampaikan pendapat, mereka cenderung lebih leluasa memberikan kontribusi. Sebaliknya, lingkungan kerja yang dipenuhi tekanan dan ketakutan melakukan kesalahan bisa membuat orang enggan menyampaikan masalah. Karena itu, kamu perlu menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata, bukan sekadar menuliskan nilai-nilai perusahaan dalam aturan internal.
Menariknya, compassion juga perlu diterapkan terhadap diri sendiri, lho. Adakalanya seorang pengusaha bisa bersikap sabar kepada karyawan, tapi terlalu keras ketika menghadapi kesalahan pribadi. Kamu mungkin terus menyalahkan diri sendiri ketika target tak tercapai atau merasa gagal hanya karena satu keputusan yang kurang tepat. Padahal, mengakui kesalahan dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar merupakan bagian penting dari proses berkembang. Dengan begitu, kamu bisa menjadi pemimpin yang lebih tangguh tanpa harus mengorbankan kesehatan emosional.
Menjadi pengusaha yang sukses membutuhkan keseimbangan antara passion, dispassion, dan compassion. Passion memberikan semangat untuk memulai dan mengembangkan bisnis, dispassion membantu menjaga kejernihan pikiran ketika menghadapi berbagai hasil, sedangkan compassion memastikan kalau kamu tetap memperhatikan orang-orang yang terlibat dalam perjalanan usaha.
Ketiga kualitas tersebut saling melengkapi dan membantu menciptakan kepemimpinan yang lebih tangguh. Jadi, kalau kamu sedang membangun bisnis, jangan hanya fokus mengejar target dan keuntungan, ya, tapi perhatikan juga bagaimana kamu menjalani prosesnya. Sebab, bisnis yang berkelanjutan membutuhkan semangat, keseimbangan, dan kepedulian secara bersamaan.