3 Cara Cek QRIS sebelum Bayar, Biar Gak Jadi Korban Penipuan Judol!

- Bank Indonesia mengingatkan risiko quishing, penipuan melalui QR code yang dapat mengarahkan pengguna ke situs berbahaya, mencuri data, atau terkait judi online.
- Sebelum memindai, pastikan QRIS berasal dari merchant yang jelas; hindari kode pada stiker, poster, atau sumber mencurigakan yang tidak terkait tempat transaksi.
- Setelah pemindaian, cek nama merchant dan nominal sebelum membayar; hentikan proses bila diminta PIN, OTP, password, atau data pribadi, lalu hubungi PJP resmi bila ada masalah.
QRIS semakin sering digunakan untuk berbagai transaksi sehari-hari, mulai dari membayar makanan, berbelanja, hingga melakukan donasi. Praktisnya pembayaran cukup dengan memindai kode QR membuat metode ini semakin dekat dengan aktivitas masyarakat. Namun, pengguna tetap perlu berhati-hati ketika menemukan QR code yang ditempel di tempat umum atau dikirim melalui pesan. Sebab, tidak semua QR code yang terlihat seperti sarana pembayaran aman untuk dipindai.
Bank Indonesia (BI) menyebut salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah quishing, yakni penipuan yang memanfaatkan QR code untuk mengarahkan korban ke situs berbahaya atau mencuri data. BI juga mengingatkan pengguna untuk memeriksa nama merchant setelah memindai QRIS sebelum melakukan pembayaran. Di tengah maraknya QR code yang dapat mengarahkan pengguna ke situs judi online (judol), berikut tiga tips yang bisa dilakukan agar transaksi menggunakan QRIS tetap aman.
1. Pastikan QR code berasal dari merchant yang jelas

ilustrasi QR code (Pexels.com/Pixabay) Jangan terburu-buru memindai QR code hanya karena melihat tulisan "Scan untuk bayar" atau "Pembayaran QRIS". Perhatikan terlebih dahulu dari mana QR code tersebut berasal. Jika sedang berada di restoran, misalnya, pastikan QR code memang disediakan oleh restoran tersebut. Jangan asal memindai QR yang ditempel pada stiker tambahan, poster, atau benda lain yang sumbernya tidak jelas. BI mengingatkan konsumen untuk menghindari QR code dari sumber mencurigakan dan memastikan QRIS yang digunakan memang berkaitan dengan merchant yang dituju.
QRIS sendiri merupakan standar QR pembayaran yang ditetapkan BI, sementara penyelenggara jasa pembayaran (PJP) yang menggunakan QRIS wajib mendapat persetujuan BI. Kewaspadaan ini penting karena QR code dapat menjadi pintu masuk quishing. Setelah dipindai, pengguna bisa saja diarahkan ke situs palsu atau halaman yang tidak berkaitan dengan transaksi yang ingin dilakukan. Jika QR code terlihat mencurigakan atau ditempatkan pada lokasi yang tidak semestinya, lebih baik jangan dipindai.
2. Cek nama merchant sebelum menekan tombol bayar

ilustrasi pembayaran menggunakan QRIS (Pexels.com/Anna Shvets) Ini merupakan langkah sederhana yang sering dilewatkan karena pengguna terbiasa langsung menekan tombol pembayaran setelah memindai QRIS. Padahal, setelah QRIS dipindai, aplikasi pembayaran akan menampilkan informasi transaksi, termasuk nama merchant. Jangan langsung memasukkan PIN atau mengonfirmasi pembayaran sebelum memastikan nama merchant tersebut sesuai dengan tempat yang dituju.
BI secara khusus meminta masyarakat memastikan nama pedagang yang muncul di aplikasi memang sesuai dengan merchant yang menerima pembayaran. Jika terdapat kejanggalan atau informasi tidak sesuai dengan tujuan transaksi, masyarakat diminta tidak melanjutkan pembayaran. Misalnya, kamu sedang makan di sebuah kedai bernama "Kedai A", tetapi setelah memindai QRIS justru muncul nama merchant yang sama sekali berbeda.
Jangan menganggapnya sebagai hal sepele. Batalkan transaksi dan tanyakan kepada kasir mengenai QRIS yang benar. Selain nama merchant, periksa juga nominal pembayaran sebelum memasukkan PIN. Dengan begitu, pengguna dapat memastikan uang dikirim kepada penerima dan dengan jumlah yang memang diinginkan.
3. Jangan ikuti QR yang meminta data pribadi atau mengarahkan ke situs mencurigakan

ilustrasi pembayaran menggunakan QRIS (Pexels.com/Anna Shvets) QR code untuk pembayaran seharusnya tidak menjadi alasan bagi pengguna untuk memberikan PIN, password, OTP, atau data rahasia lainnya kepada pihak lain. Jika setelah memindai QR code kamu justru diarahkan ke sebuah situs yang meminta login, nomor kartu, PIN, OTP, atau data pribadi, jangan lanjutkan. Patut dicurigai ketika QR code mengarahkan pengguna ke situs yang menawarkan hadiah, promo fantastis, atau konten yang tidak ada hubungannya dengan pembayaran. Jika ternyata halaman tersebut mengarah ke situs judi online, jangan berinteraksi lebih lanjut dengan halaman tersebut.
Jangan memasukkan data apa pun dan jangan mengunduh aplikasi yang ditawarkan halaman tersebut. Jika sudah telanjur memasukkan data rahasia atau menemukan transaksi yang tidak diotorisasi, segera hubungi penyelenggara layanan pembayaran melalui kanal resminya. Segera menghubungi PJP terkait jika menemukan masalah atau dugaan penipuan.
Pada dasarnya, QRIS merupakan sistem pembayaran yang dirancang agar transaksi QR dapat dilakukan secara cepat, mudah, aman, dan andal. Namun, keamanan transaksi tetap membutuhkan kewaspadaan pengguna. Karena itu, jangan membiasakan diri scan lalu bayar tanpa mengecek. Luangkan beberapa detik untuk memastikan sumber QR, nama merchant, dan nominal transaksi sudah benar. Tiga langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban penipuan berbasis QR code.




















