Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suku Bunga KPR Jadi Tantangan, Pengembang Siapkan Strategi Ini

3 min read
Suku Bunga KPR Jadi Tantangan, Pengembang Siapkan Strategi Ini
ilustrasi rumah subsidi (freepik.com/freepik)
  • Daya beli yang melandai dan suku bunga KPR menjadi tantangan pasar properti Depok, sehingga pengembang menyiapkan program penjualan serta skema pembiayaan bersama perbankan.
  • Di Cimanggis Golf Estate, 80 persen pembeli memilih rumah di atas Rp2 miliar dan mayoritas merupakan pengguna akhir; pengembang menargetkan penjualan 200 unit hingga akhir 2026.
  • REI menilai properti sangat sensitif terhadap suku bunga, sementara kenaikan biaya konstruksi dan pembiayaan mendorong pengembang menahan ekspansi serta meningkatkan risiko kredit bermasalah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Mitra Bangun Prasada Adam Prakoso mengungkapkan daya beli masyarakat yang masih cenderung melandai dan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi tantangan bagi pasar properti di Depok, Jawa Barat. Pengembang pun mengandalkan strategi penjualan dan kerja sama dengan perbankan untuk menjaga permintaan hunian.

Direktur PT Mitra Bangun Prasada Adam Prakoso mengatakan, perubahan suku bunga Bank Indonesia (BI) tetap memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli properti. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi hambatan bagi pengembang.

“Kalau dibilang tidak memengaruhi sama sekali sih itu tidak pas ya, hal itu masih memengaruhi pertimbangan konsumen dalam membeli properti. Tapi kami melihat bukan sebuah hambatan, tetapi sebuah challenge,” kata Adam dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

  1. 1. Pengembang berkolaborasi dengann perbankan untuk siapkan skema pembiayaan

    Ilustrasi rumah subsidi (IDN Times/Dhana Kencana)
    Ilustrasi rumah subsidi (IDN Times/Dhana Kencana)

    Menurut dia, pengembang berkolaborasi dengan perbankan untuk menyiapkan berbagai skema pembiayaan dan program penjualan yang menyesuaikan kondisi kredit saat ini. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga akses konsumen terhadap pembelian rumah di tengah perubahan biaya pembiayaan.

    Di kawasan Cimanggis Golf Estate (CGE), harga rumah yang ditawarkan berada di kisaran Rp1,3 miliar hingga sekitar Rp4 miliar. Sementara itu, harga rumah di Cluster Omnara dipasarkan mulai sekitar Rp2 miliar.

    Adam menyebut, permintaan rumah dengan harga di atas Rp2 miliar masih mendominasi penjualan di CGE. Sekitar 80 persen pembeli rumah di kawasan tersebut membeli produk dengan harga Rp2 miliar ke atas. Mayoritas pembeli juga merupakan pengguna akhir atau end-user.

    “Kalau bisa dibilang, justru demand yang banyak kami dapat itu yang Rp2 miliar ke atas,” ujarnya.

  2. 2. Faktor suku bunga menjadi salah satu pertimbangan konsumen

    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

    Dengan dominannya permintaan pada segmen tersebut, faktor suku bunga menjadi salah satu pertimbangan konsumen sebelum memutuskan pembelian. Besaran cicilan KPR turut menentukan kemampuan konsumen dalam mengakses hunian.

    Head of Sales Cimanggis Golf Estate Ricky Suwandi mengatakan, perusahaan menargetkan penjualan sekitar 200 unit hingga akhir 2026. Produk yang ditawarkan memiliki rentang harga sekitar Rp1,3 miliar hingga Rp4 miliar.

    Saat ini, kawasan Cimanggis Golf Estate telah memiliki hampir 1.200 unit properti. Sementara itu, Cluster Omnara direncanakan memiliki 268 unit yang dikembangkan secara bertahap.

    Pada tahap pertama, pengembang membangun 41 unit dan seluruhnya telah terjual. Pengembang kemudian memasuki tahap kedua dengan menawarkan sejumlah tipe rumah dengan lebar bangunan 6 meter, 8 meter, dan 10 meter. Adam mengatakan, harga rumah berpotensi mengalami penyesuaian pada setiap tahap pembangunan.

  3. 3. Sektor properti sangat terpengaruh dengan suku bunga

    ilustrasi rumah subsidi (freepik.com/freepik)
    ilustrasi rumah subsidi (freepik.com/freepik)

    Wakil Ketua Umum Realestat Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, mengatakan sektor properti merupakan salah satu industri yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga. Dampaknya terutama dirasakan pada segmen rumah yang menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) komersial atau non-subsidi.

    Oleh karena itu,perlambatan permintaan properti saat ini terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya konstruksi dan meningkatnya beban pembiayaan. Kondisi tersebut mendorong banyak pelaku usaha mengambil sikap lebih hati-hati. Sejumlah pengembang diperkirakan akan menunda ekspansi sambil menunggu arah pemulihan ekonomi dan stabilitas suku bunga.

    “Dalam kondisi seperti ini, banyak pelaku usaha akan bersikap wait and see, menahan rencana ekspansi sambil melihat arah pemulihan ekonomi ke depan,” ujarnya.

    Ia mengingatkan, apabila tekanan terhadap industri properti terus berlanjut, dampaknya tidak hanya berupa perlambatan bisnis. Risiko kredit bermasalah dan potensi gagal bayar proyek juga dapat meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More