Swasembada Terganjal Lahan, Kementan Jaga Harga Kedelai di Rp13 Ribu

- Kementan menghadapi tantangan besar mencapai swasembada kedelai karena keterbatasan lahan dan harga kedelai impor yang lebih murah dibanding produksi lokal.
- Produktivitas kedelai nasional masih rendah, hanya 1–1,5 ton per hektare, membuat petani kalah saing dengan jagung; Kementan dorong HET Rp13.000 per kilogram agar petani tetap untung.
- Sebagai solusi, Kementan mendorong rotasi tanaman legum seperti kedelai untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pupuk di tengah keterbatasan lahan pertanian.
Bogor, IDN Times – Kementerian Pertanian (Kementan) RI buka suara mengenai beratnya tantangan untuk mencapai target swasembada kedelai nasional. Selain harus menghadapi kendala keterbatasan lahan pertanian, pemerintah saat ini tengah berjuang menyelamatkan para petani lokal dari gempuran harga kedelai impor yang jauh lebih murah.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementan, Ladiyani Retno Widowati, mengungkapkan bahwa realitas ketersediaan benih kedelai di tingkat nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat minim akibat minimnya minat tanam dari para penangkar lokal.
"Terkait target Bapak Menteri untuk swasembada kedelai, realita saat ini ketersediaan benih kedelai memang sangat minimalis dan rendah sekali. Pertama, karena para petani atau penangkar benih kedelai ini masih sangat tergantung pada program pengadaan dari pemerintah. Kedua, benih atau kedelai produksi dalam negeri kita harganya masih kalah saing dengan kedelai impor," ujar Ladiyani Retno Widowati usai menghadiri pertemuan di gedung ICC Botani Square, Kota Bogor, Rabu (1/7/2026).
1. Kalah telak dari jagung, Kementan dorong HET kedelai lokal Rp13.000 per kilogram

Ladiyani menjelaskan, rendahnya minat petani menanam kedelai dipicu oleh produktivitas yang masih rendah, yakni rata-rata hanya 1 hingga 1,5 ton per hektare. Menurut Ladiyani ondisi ini membuat pendapatan kotor petani kedelai kalah jauh jika dibandingkan dengan komoditas jagung yang mampu menghasilkan di atas 5 ton per hektare.
Ladiyani mengatakan harga kedelai impor berada di kisaran Rp8 ribu per kilogram, sedangkan harga ideal agar petani lokal bisa untung adalah Rp13 ribu per kilogram.
"Saat ini sedang kita perjuangkan agar harga di tingkat petani paling tidak minimal berada di angka Rp13.000 per kilogram melalui penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan menjaga stabilitas harga kedelai yang masuk. Bagi saya, petani yang sampai hari ini masih setia menanam kedelai itu luar biasa. Padahal dari segi kualitas, kedelai lokal kita sebenarnya sangat bagus dan unggul untuk pembuatan tempe maupun tahu. Masalah utamanya murni karena persaingan harga," tuturnya.
2. Dilema lahan pertanian bak "kain sarung", kedelai terjepit komoditas lain

Tantangan swasembada semakin kompleks akibat keterbatasan lahan baku sawah. Ladiyani menjelaskan melalui analogi sederhana. Jika kebutuhan kedelai nasional mencapai 390 ribu ton per tahun dengan produktivitas 1 ton per hektare, maka Indonesia membutuhkan sedikitnya 390 ribu hektare lahan murni kedelai. Namun kenyataannya, terjadi perebutan wilayah tanam yang sengit di lapangan.
"Masalahnya lahan kita ini ibarat kain sarung. Kalau kita tarik ke atas untuk menutupi bagian atas, bagian bawahnya akan kelihatan terbuka. Artinya apa? Terjadi perebutan lahan antara komoditas kedelai dengan padi, jagung, hortikultura, hingga tanaman perkebunan. Saat ini, wilayah yang masih banyak dan setia menanam kedelai hanya daerah tertentu seperti Grobogan dan beberapa provinsi di Jawa Timur," jelas dia.
3. Manfaatkan pola rotasi tanaman legum demi dongkrak kesuburan tanah

Sebagai solusi alternatif di tengah jepitan lahan, Kementan mendorong petani menerapkan sistem tanaman selingan (antara) melalui rotasi berkala. Ladiyani menyebut bahwa pola ini telah dibuktikan oleh para petani di Nganjuk, Jawa Timur, yang memanfaatkan tanaman kedelai untuk memotong siklus hama sekaligus menyuburkan tanah sebelum ditanami bawang merah.
Ia menegaskan bahwa secara ilmiah, karakteristik tanaman kacang-kacangan memiliki keunggulan biologis yang mampu memangkas biaya pupuk kimia pada masa tanam berikutnya.
"Secara ilmiah, kedelai adalah tanaman legum yang memiliki bintil akar yang mampu mengikat dan menyumbangkan unsur nitrogen langsung ke dalam tanah, sehingga kesuburan tanah otomatis meningkat. Sayangnya, belum semua petani memiliki pemahaman mendalam mengenai manfaat rotasi tanaman kedelai ini," pungkas Ladiyani.


















