Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi warung madura (Pexels.com/Minol Song)
  • Tren downgrade membuat konsumen tetap berbelanja, tetapi memilih produk lebih terjangkau, ukuran kecil, atau frekuensi lebih rendah; 77 persen responden PwC mengutamakan manfaat sepadan biaya.
  • Pelaku usaha dapat menyediakan alternatif berharga lebih mudah dijangkau tanpa menghilangkan fungsi utama, dengan menyederhanakan aspek tertentu sambil menjaga kualitas yang terasa sepadan.
  • Peluang juga muncul pada kebutuhan yang tetap dibeli, seperti kebutuhan harian, perawatan dasar, makanan terjangkau, dan jasa reparasi, melalui penawaran value for money yang lebih kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika daya beli melemah, perubahan yang terjadi pada konsumen bukan selalu berhenti berbelanja. Sebagian justru tetap membeli, tetapi mulai lebih berhati-hati dalam menentukan produk yang dipilih. Fenomena ini dikenal sebagai downgrade, yaitu ketika konsumen beralih ke pilihan yang lebih murah, mengurangi frekuensi pembelian, memilih ukuran yang lebih kecil, atau mencari produk yang dianggap memberikan nilai lebih sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

Di Indonesia, perubahan tersebut mulai terlihat dalam berbagai kategori. Konsumen semakin memerhatikan value for money, sementara sebagian lainnya beralih ke produk yang lebih terjangkau. Survei PwC Indonesia 2026, misalnya, menunjukkan 77 persen konsumen Indonesia mengutamakan manfaat yang sepadan dengan biaya dalam memilih produk atau layanan kesehatan dan kebugaran.

Kondisi ini memang menjadi tantangan bagi bisnis yang selama ini mengandalkan konsumen kelas menengah dan atas. Namun, di sisi lain, perubahan perilaku tersebut juga bisa menciptakan peluang bagi pengusaha. Lantas, bagaimana cara menangkap peluang usaha di tengah tren downgrade? Simak dalam artikel berikut!

1. Sediakan alternatif yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan fungsi utama

ilustrasi pedagang (Pexels.com/Markus Winkler)

Ketika konsumen mulai meninggalkan produk premium, bukan berarti mereka tidak lagi membutuhkan produk tersebut. Mereka mungkin hanya mencari alternatif yang harganya lebih sesuai dengan kondisi keuangan. Misalnya, konsumen yang sebelumnya rutin membeli kopi dari merek premium mulai memilih kopi lokal dengan harga lebih terjangkau. Orang yang sebelumnya membeli pakaian dari merek internasional dapat beralih ke merek lokal. Begitu pula konsumen yang sebelumnya memilih produk kecantikan premium bisa mulai mencoba merek lokal dengan harga yang lebih ramah di kantong.

Perubahan semacam ini menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk yang memiliki fungsi utama serupa, tetapi dengan harga yang lebih mudah dijangkau.

Data Worldpanel by Numerator menunjukkan konsumen Indonesia semakin berorientasi pada nilai. Di tengah tekanan anggaran, mereka menjadi lebih pragmatis dan mencari cara untuk mendapatkan manfaat maksimal dari pengeluaran. Namun, jangan sekadar membuat produk "murah". Tantangannya adalah menciptakan produk yang membuat konsumen merasa harga yang dibayar sepadan dengan kualitas yang diperoleh. Artinya, pengusaha perlu menentukan bagian mana yang bisa dibuat lebih sederhana agar harga turun tanpa menghilangkan fungsi utama produk.

2. Cari kebutuhan yang tetap dibeli meski konsumen mengurangi pengeluaran

ilustrasi warung (Pexels.com/Paolo Sanchez)

Downgrade tidak membuat semua kategori mengalami penurunan yang sama. Ketika anggaran terbatas, konsumen biasanya akan memilah mana pengeluaran yang tetap dianggap penting dan mana yang bisa ditunda. Data Jakpat pada paruh pertama 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran bulanan untuk belanja e-commerce turun 13 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp470.516. Namun, belanja untuk kebutuhan sehari-hari justru menunjukkan peningkatan penggunaan pada kanal quick commerce.

Bagi pengusaha, perubahan tersebut bisa menjadi petunjuk untuk mencari kebutuhan yang tetap memiliki permintaan meski konsumen sedang berhemat. Misalnya, daripada hanya menjual produk yang sifatnya discretionary, pelaku usaha dapat melihat peluang pada makanan, kebutuhan rumah tangga, perawatan dasar, jasa perbaikan, atau produk yang membantu konsumen menghemat pengeluaran.

Contohnya, ketika orang menunda membeli sofa baru, jasa reparasi atau upholstery bisa mendapat peluang. Ketika konsumen mengurangi makan di restoran mahal, usaha makanan dengan harga terjangkau bisa mendapatkan pelanggan baru.

3. Buat produk yang terasa lebih bernilai, bukan sekadar lebih murah

ilustrasi restoran (Pexels.com/Rama Febryan)

Menangkap peluang dari fenomena downgrade bukan berarti semua bisnis harus berlomba menjadi yang termurah. Justru, salah satu peluang terbesar adalah menawarkan value for money yang lebih baik. Misalnya, sebuah bisnis makanan tidak harus menjual makanan dengan harga paling rendah. Bisnis tersebut bisa menawarkan porsi yang lebih sesuai, bahan yang berkualitas, kemasan praktis, atau paket yang membuat pelanggan merasa lebih hemat.

Konsumen tidak selalu mencari harga paling murah. Mereka mencari alasan mengapa uang yang dikeluarkan terasa layak. Ini menjadi peluang bagi pengusaha untuk membangun posisi sebagai produk yang "lebih masuk akal untuk dibeli" dibandingkan sekadar "produk murah". Fenomena downgrade memang dapat menjadi tantangan bagi bisnis. Namun, perubahan perilaku konsumen juga membuka ruang bagi pemain baru yang mampu menawarkan produk sesuai kondisi dompet konsumen.

Kuncinya bukan sekadar memangkas harga. Pelaku usaha perlu membaca ke mana konsumen berpindah, kebutuhan apa yang tetap mereka pertahankan, dan nilai seperti apa yang mereka cari. Konsumen yang meninggalkan produk premium bukan berarti kehilangan daya beli sepenuhnya. Bisa jadi mereka hanya sedang mencari pilihan yang terasa lebih masuk akal. Di situlah peluang usaha bisa muncul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article