Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tom Lembong: Pesatnya AI Bisa Picu Financial Bubble, Suatu Hari Akan Pecah

Tom Lembong: Pesatnya AI Bisa Picu Financial Bubble, Suatu Hari Akan Pecah
Tom Lembong dalam Acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Tom Lembong menilai perkembangan pesat AI berpotensi memicu gelembung ekonomi karena euforia investor yang berlebihan terhadap sektor teknologi.
  • Ia membandingkan fenomena ini dengan dotcom bubble tahun 1997, ketika saham-saham teknologi melonjak drastis sebelum akhirnya anjlok.
  • Meski gelembung bisa pecah, Tom menegaskan teknologi seperti AI tetap riil dan akan terus menjadi fondasi transformasi ekonomi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Thomas Trikasih Lembong berpandangan, pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) dalam beberapa tahun terakhir bisa memicu terjadinya gelembung ekonomi (financial bubble).

Tom berpandangan, fenomena AI saat ini memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, AI merupakan teknologi riil yang akan membawa transformasi besar dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di sisi lain, antusiasme investor yang berlebihan terhadap sektor teknologi, khususnya AI juga memicu pembentukan gelembung aset (bubble) di pasar.

Hal ini disampaikan Tom Lembong dalam talk show Indonesia Summit 2026 by IDN Times bertajuk The Price of Tomorrow: Gen Z, Cost of Living, And Tge Fight For Financial Security, di Jakarta, Kamis (18/6/2026),

"Jadi ini riil, ya, bener-bener teknologi yang akan mentransformasi semua aspek kehidupan kita, tapi juga sebuah financial bubble. Jelas ya, karena banyak gejala-gejala bubble, kelihatan sekali. Dan bubble itu selalu akan ambruk. Selalu akan jatuh," kata Tom.

Menurut Tom, fenomena serupa juga terjadi pada era 1997, di mana internet mulai tumbuh secara signifikan sehingga muncul dotcom bubble. Ia mengatakan, saat itu harga saham-saham tekonologi melejit gila-gilaan, hingga gelembung itu pecah, dan sehingga harga semua saham emiten di sektor teknologi rontok, misalnya Amazon, Yahoo, AOL, dan Cisco.

Kendati demikian, Tom menegaskan, pecahnya gelembung finansial tidak berarti teknologi yang mendasarinya gagal. Misalnya, dalam kasus internet, teknologi tersebut justru berkembang dan menjadi fondasi ekonomi digital modern.

Pada akhirnya muncul berbagai platform baru, seperti Facebook, Google, WiFi, dan smartphone yang bertransformasi menjadi iPhone.

Namun, pecahnya gelembung ekonomi akibat pesatnya perkembangan AI tersebut justru akan berdampak bagi perkonomian, baik di Amerika Serikat (AS) maupun secara global.

"Jadi teknologi internet itu riil, tapi memang saat pasar modal antusias dan kemudian kayak demam, kayak fever, ya kan euforia, ya harga-harga saham dan instrumen lainnya udah mulai nggak masuk akal dan suatu hari itu akan pecah," kata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.

IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More