Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Siapkan Perang Ekonomi Besar-besaran untuk Menghantam Iran

Trump Siapkan Perang Ekonomi Besar-besaran untuk Menghantam Iran
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Shealeah Craighead)
  • Trump mengumumkan perang ekonomi dan isolasi besar-besaran terhadap Iran, mengancam negara atau entitas yang membantu Teheran setelah serangan militer gagal mendorong perundingan.
  • AS memperketat Operation Economic Fury melalui sanksi sektor minyak, pelayaran, dan keuangan serta blokade pelabuhan; Iran menolak ancaman itu dan menyatakan tetap terbuka berdialog tanpa menyerah.
  • Tekanan AS turut menyasar mitra dagang Iran seperti UEA, China, Irak, dan Turkiye, tetapi analis menilai penerapannya sulit serta belum tentu cepat mengubah posisi Teheran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan operasi ekonomi yang disebutnya sebagai yang paling menghancurkan terhadap Iran, setelah serangan militer gagal membawa pejabat Teheran kembali ke meja perundingan. Pernyataan itu disampaikan ketika upaya mengakhiri konflik yang hampir memasuki bulan keenam masih menemui kebuntuan dan Trump menghadapi tekanan terkait biaya perang menjelang pemilihan tengah masa jabatan di AS.

Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu (19/8/2026), Trump menyebut Iran telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dan kini akan menghadapi perang ekonomi serta isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga memperingatkan negara mana pun yang memberikan dukungan kepada Iran akan menerima hukuman berat.

“NEGARA MANA PUN yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan semacam tali penyelamat kepada Iran akan menghadapi KONSEQUENSI EKONOMI YANG BESAR,” tulisnya, dikutip Al Jazeera.

Trump juga menyatakan, penyelundupan minyak, jalur swap, transfer uang tunai, rumah penukaran, registrasi kapal, hingga perusahaan boneka harus dihentikan. Ia meminta seluruh sekutu AS berdiri bersama Washington untuk mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran.

  1. 1. AS memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi

    ilustrasi kapal pengangkut minyak
    ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

    Menurut laporan The Guardian, Gedung Putih memberi sinyal perubahan strategi menuju tekanan ekonomi yang lebih ketat terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, pemerintah akan meningkatkan upaya mengisolasi Iran secara ekonomi, sekaligus memperkuat kampanye yang telah berjalan dengan nama Operation Economic Fury.

    AS telah menjatuhkan sanksi luas terhadap sektor minyak, pelayaran, dan keuangan Iran, serta memberlakukan blokade angkatan laut di sejumlah pelabuhan negara tersebut. Perusahaan, broker, dan kapal tanker yang dituding membantu penjualan minyak Iran ke luar negeri juga menjadi sasaran, sementara para ahli mencatat Iran selama bertahun-tahun telah beradaptasi dengan sanksi melalui jaringan kapal tanker bayangan untuk mempertahankan ekspor minyak.

  2. 2. Iran menolak ancaman ekonomi Trump melalui pernyataan resmi

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Ini adalah file dari situs web Ali Khamenei, yang menyatakan di footernya, "Semua Konten oleh Khamenei.ir dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4.0." Via Wikimedia Commons)

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak ancaman tersebut dan menyebutnya sebagai upaya mengalihkan perhatian dari krisis domestik AS berupa utang yang belum pernah terjadi sebelumnya serta kenaikan biaya bunga.

    “Menggandakan kebijakan yang sudah gagal hanya akan membawa kekalahan lebih lanjut—dan permusuhan dari orang-orang Iran. Terorisme ekonomi AS mengancam ekonomi global dan kedaulatan di seluruh dunia,” tulisnya di X, dikutip The Guardian.

    Media pemerintah Iran sebagian besar menilai pengumuman itu sebagai hal biasa, dengan IRIB mengaitkannya dengan kegagalan agresi militer dan Tasnim menyebutnya bukan perkembangan baru. Kantor berita semi-resmi tersebut menyatakan AS telah bertahun-tahun berupaya memutus hubungan keuangan dan ekonomi Iran, sedangkan Teheran telah belajar menyiasati pembatasan hingga menjadi sangat mahir melakukannya.

    Kantor berita semi-resmi Fars menyebut klaim Trump sebagai khayalan dan merujuk pada sejumlah prediksi AS tentang keruntuhan Iran yang segera terjadi tetapi tak pernah terwujud. Penasihat pemimpin tertinggi Iran Mohammad Mokhber juga menyatakan tekanan militer dan sanksi tak akan mematahkan tekad Iran.

    Mokhber menyatakan Iran tetap terbuka untuk berdialog dengan AS, tetapi perundingan tak akan dicampuradukkan dengan penyerahan.

  3. 3. AS mengincar mitra dagang Iran melalui tekanan ekonomi

    Bendera Uni Emirat Arab
    Bendera Uni Emirat Arab (pexels.com/Suji Su)

    Pengumuman Trump muncul setelah Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya menjadi salah satu mitra dagang terbesar Iran dan memasok lebih dari 30 persen impornya, memutuskan menangguhkan seluruh hubungan keuangan, pertukaran komersial, serta transaksi dengan Iran. UEA menuduh Teheran meluncurkan dua rudal balistik ke arah perairannya, sedangkan Iran menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi bendera palsu.

    Profesor ekonomi Timur Tengah di Brandeis University Nader Habibi menilai AS sangat mendorong keputusan UEA tersebut dan merujuk pada kontak tingkat tinggi, termasuk percakapan telepon Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan Penasihat Keamanan Nasional Emirat Syeikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan. Analis menyoroti keterbatasan praktis dari tekanan ekonomi tambahan.

    Habibi mengidentifikasi China, Irak, dan Turkiye sebagai target potensial, termasuk lembaga keuangan yang melayani kilang minyak mandiri jenis teapot yang masih membeli minyak Iran. Ia mengingatkan pemerintah China telah memperingatkan entitas di negaranya agar tak bekerja sama dengan sanksi AS, sementara penerapan penuh pembatasan perdagangan darat Iran dengan negara-negara tetangga akan sulit dilakukan.

    Analis senior di Eurasia Group Gregory Brew menyebut setiap langkah ekonomi baru yang efektif perlu diarahkan kepada mitra dagang Iran, tetapi AS akan kesulitan melakukan tindakan semacam itu terhadap China sebagai negara paling penting bagi masa depan ekonomi Iran. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan rencana kunjungan pemimpin China Xi Jinping ke AS.

    Managing principal di Obsidian Risk Advisor Brett Erickson menyebut langkah ekonomi yang kini diancam Trump sebelumnya belum digunakan karena memiliki risiko. Menurutnya, jika tindakan tersebut menawarkan profil risiko-imbalan yang menguntungkan bagi pemerintahan Trump, langkah itu seharusnya sudah diterapkan.

    Erickson menilai tindakan terhadap bank-bank China yang berbisnis dengan Iran menjadi tuas paling berdampak yang dapat digunakan Trump. Jika digabungkan dengan penerapan nyata keputusan UEA untuk memutus hubungan, langkah tersebut dapat menjadi sangat kuat.

    Erickson menyebut kendala terbesar adalah waktu karena perang ekonomi terhadap Iran tak hanya perlu menghasilkan hasil, tetapi juga harus mencapainya dengan cepat. Wartawan Al Jazeera Mike Hanna yang melaporkan dari Washington, menggambarkan pengumuman itu sebagai cerminan tingkat frustrasi atas kebuntuan yang berkepanjangan.

    Hanna mempertanyakan alat ekonomi tambahan yang masih tersedia di luar langkah yang telah diterapkan dan menilai pernyataan tersebut mungkin terdengar seperti ancaman berulang bagi pejabat Iran. Ia menambahkan target audiensnya mungkin publik Amerika yang terus menentang konflik, sementara Trump mengambil sikap yang diharapkannya terlihat sangat tegas di ruang publik meski belum ada detail spesifik untuk menilai kemungkinan efektivitas langkah tersebut dalam memperkuat aksi ekonomi terhadap Iran.

    Trump juga menyatakan kapal-kapal dari negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS terus melintasi Selat Hormuz dengan bantuan militer AS dan menyebut banyak kapal saat ini melintas. Axios melaporkan pasukan AS telah memfasilitasi 15-20 kapal setiap malam, yang mengangkut sekitar separuh volume pengiriman minyak harian sebelum perang, sambil tetap mempertahankan blokade terhadap ekspor Iran.

    Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan volume transit secara keseluruhan tetap rendah. Mantan kepala cabang Iran di intelijen militer Israel Danny Citrinowicz menyebut fasilitasi tersebut sebagai perkembangan operasional penting, tetapi mempertanyakan berapa lama AS mampu mempertahankannya.

    Citrinowicz menambahkan, langkah tersebut tak akan memaksa Iran menyerah atau secara mendasar mengubah posisi perundingannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More