Jakarta, IDN Times - Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin luas di berbagai sektor membuka peluang besar bagi transformasi digital Indonesia. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, keamanan data menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Menurut perusahaan penyedia layanan identitas digital, VIDA, hampir 95 persen kasus pelanggaran keamanan data dan keamanan siber secara global berakar dari sistem autentikasi yang lemah.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menilai keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keamanan teknologi yang digunakan. Oleh karena itu, perlindungan data tidak cukup hanya berfokus pada pencegahan kebocoran, tetapi juga memastikan data tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang.
"Transformasi digital tidak harus mengorbankan keamanan demi kenyamanan, maupun sebaliknya. Dengan desain dan arsitektur sistem yang tepat, keduanya justru dapat berjalan beriringan," ujar Niki dalam diskusi panel AI for Digital Public Services pada Garuda AI Impact Summit 2026, dikutip melalui pertanyaan tertulis yang diterima IDN Times, Rabu (24/6/2026).
