ilustrasi pekerja di Filipina, perkotaan, pejalan kaki (pexels.com/Mico Medel)
Meski menghadapi tantangan besar, prospek ekonomi kedua negara masih cukup positif. ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan ekonomi Vietnam akan tumbuh sekitar 7,4% pada tahun ini, sedangkan Filipina diproyeksikan mencapai 5,3%. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN secara keseluruhan yang berada di level 4,6%. Artinya, kedua negara masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila mampu menjaga stabilitas ekonominya.
Di sisi lain, Vietnam masih harus mengejar target pertumbuhan nasional sebesar 10% yang dipatok pemerintah. Sementara itu, Filipina juga menghadapi tantangan karena sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonominya pada kuartal kedua akan lebih rendah dibanding sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa status baru memang menjadi pencapaian membanggakan, tapi mempertahankan momentum pertumbuhan akan menjadi ujian sesungguhnya. Keberhasilan mereka pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan menciptakan inovasi dan meningkatkan produktivitas ekonomi.
Naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas menjadi pencapaian penting yang menunjukkan keberhasilan pembangunan ekonomi keduanya. Namun, status tersebut bukan garis akhir, melainkan awal dari tantangan yang lebih kompleks.
Agar bisa benar-benar menjadi negara maju, keduanya harus mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat inovasi, serta menciptakan industri bernilai tambah tinggi. Dengan strategi yang tepat, Vietnam dan Filipina memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan kelas menengah dan melanjutkan perjalanan menuju negara berpendapatan tinggi.