Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wansus CEO Lorena: Bisnis Transportasi Ibarat Darah Selalu Dibutuhkan
CEO LORENA Group & Founder BIG (Bawa Indonesia Global), Eka S Lorena Subakti di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Jakarta, IDN Times - Menjadi pengusaha transportasi angkutan penumpang dan barang di tengah situasi perekonomian yang menantang memang tidak mudah. Apalagi kebijakan pemerintah yang baru-baru ini menaikkan harga BBM nonsubsidi, diakui turut memengaruhi operasional mereka.

CEO Lorena Group, Eka S Lorena Surbakti bahkan menyebut pelemahan rupiah menyebabkan adanya kenaikan harga suku cadang dan oli hingga 40 persen. Ia juga mengakui adanya pelemahan daya beli masyarakat sejak dua tahun terakhir. Indikatornya terlihat ketika mereka tak memutuskan untuk pulang kampung di hari raya sejak jauh-jauh hari.

"Ini sampai detik-detik terakhir, barulah orang mulai bepergian. Ini di momen Idul Adha tahun ini ya. Biasanya, dua minggu atau satu minggu sebelumnya sudah heboh," ungkap Eka ketika diwawancarai IDN Times usai mengikuti acara Indonesia Summit di The Tribrata, Jakarta Selatan pada pertengahan Juni 2026.

Melihat situasi itu, Lorena Group tidak serta merta memilih menaikkan harga. Mereka berupaya mengakali agar operasional tetap berjalan dan mengoptimalkan keuntungan.

"Kami tidak menaikkan tarif," tutur dia.

Di sisi lain, Eka juga menceritakan usaha lainnya untuk mengenalkan produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) ke tingkat global di bawah lewat platform bernama BIG (Bring Indonesia Global). Perusahaan teknologi itu dibangun sejak 2021.

Bagaimana cara Eka membawa produk UMKM Indonesia agar lebih dikenal dunia? Apa strateginya supaya perusahaan utama yakni bisnis transportasi dan logistik tetap bisa bertahan? Simak wawancara IDN Times selengkapnya dengan CEO Lorena Group.

Bagaimana usaha transportasi di situasi ekonomi saat ini?

CEO LORENA Group & Founder BIG (Bawa Indonesia Global), Eka S Lorena Subakti di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Santi Dewi)

Saya selalu mengatakan transportasi seperti darah. Jadi, terutama transportasi di Indonesia ini ya, pasti krusial seperti darah. Saat ini dengan tentunya kenaikan ya harga BBM yang juga mengakibatkan kenaikan banyak sekali komponen, termasuk spare parts dan juga harga oli ya.

Harga oli ini sekarang naiknya sampai 40 persen. Sedangkan, kita melihat keadaan di masyarakat ini tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas seandainya tarif dinaikan. Kita lihat saja kemarin perayaan Idul Adha yang biasanya itu ramai begitu ya.

Ini sampai detik-detik terakhir, barulah orang mulai bepergian. Biasanya, dua minggu atau 1 minggu sebelumnya sudah heboh. Dan kami pun nanti penyesuaian tarif tidak kami lakukan seperti tahun lalu. Padahal, biaya pasti sudah lebih naik karena biasanya terjadi kemacetan.

Jadi, lucu. Tahun dan bebannya bertambah. Tapi, kita juga mesti memahami kebutuhan masyarakat seperti apa. Dan kami juga belum melihat ya apa sih langkah-langkah yang mungkin dari regulator (bisa lakukan supaya masyarakat Indonesia ini bisa melakukan mobilisasi secara efektif mudah dan tidak menekan harganya.

Karena daerah itu kalau kita lihat apabila transportasi, pergerakan orang dan barangnya bagus, pasti daerah itu maju. Daerah-daerah yang tidak terjadi pergerakan transportasinya, mobilitasnya rata-rata mereka akan terbelakang.

Jadi, saya selalu mengatakan waktu saya jadi Ketua Umum Organda Indonesia, saya mengatakan bahwa ini darahnya kita.

Kita belajar saja dari seperti Thailand, Malaysia, juga China. Mereka itu mampu bersaing produknya ke mana-mana dan itu diberikan fasilitas khusus sehingga bagaimana orang dan barang itu bisa bergerak.

Bahan dasarnya pun bisa bergerak dengan harga yang memang memampukan mereka berkompetisi. Memang di tahun 2025 juga masih ada tantangannya karena bounce back dari yang sebelumnya. Itu belum bisa langsung seperti membalikkan tangan.

Tapi saya yakin sih, tahun ini kami berpikir dan kerjakan banyak hal baru. Tentu, kami juga bergerak ke bidang lain. Justru lucu karena bisnis kami yang lain malah lebih sukses dibandingkan bisnis transportasi antar kota antar provinsinya.

Tapi, kami tetap mempertahankan bisnis pertama Lorena. Saya pun di saat seperti ini yakin karena begitu banyak penumpang Lorena di tahun 70-an menggunakan layanan kami sehingga kami bisa membangun begitu banyak bisnis barunya saat ini.

Seberapa jauh penurunan jumlah penumpang dibandingkan perayaan hari raya 2025?

Kalau dibandingkan tahun lalu penurunan itu sekitar hampir 30 persen dibandingkan hari raya sebelumnya. Namun kami percaya bahwa lama-lama itu biasanya orang akan ada adjustment. Karena setiap orang tetap harus bepergian, apapun yang terjadi.

Harga tiket pesawat itu juga sebenarnya tidak bisa dibilang murah ya. Jadi, tetap transportasi antar kota antar provinsi di jalur darat, itu yang paling bisa mendekati tujuan terakhir dan tetap menjadi pilihan.

Di daerah tertentu, untuk menuju ke airport-nya saja memakan waktu kurang lebih 3 hingga 5 jam. Jadi, lebih mudah bagi mereka untuk bepergian menggunakan bus antar kota antar provinsi.

Yang kedua, saya tetap melihat bahwa peluang untuk bisnis usaha AKAP itu tetap besar, kenapa? Karena orang memerlukan kegiatan mobilisasi. Ini tetap merupakan suatu bisnis yang menurut saya itu krusial dan kami sudah melakukan ini lebih dari 25 tahun. Tentunya, kami akan mempersiapkan kiat-kiat yang lainnya bagaimana bus antar kota antar provinsi ini tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang.

Apa unit bisnis terbaru yang dimiliki Lorena Group?

Ayah saya mengatakan, never put all of your eggs in one basket. Jangan letakkan telur kamu itu pada satu keranjang yang sama.

Karena kalau satu keranjang itu rusak atau jatuh, telur-telur itu semuanya akan pecah. Jadi, bisnis kami dari dulu sudah melakukan diversifikasi termasuk ke perkebunan, termasuk ke trading, termasuk juga property.

Yang terakhir itu kami properti sih. Sekarang berjalan dengan sangat baik ya. Rencananya akan membangun lebih banyak hotel lagi.

Mungkin berikutnya juga harus masuk ke wilayah Jawa Barat karena hotel kami yang pertama adanya di Bogor. Sementara, terakhir ini adalah kami tengah membangun perusahaan teknologi. Namanya BIG, Bawa Indonesia Global.

Kalau di luar negeri kami register namanya BIG, Bring Indonesia Global dan ini tujuannya adalah perusahaan teknologi yang membantu pelaku UMKM. Bagaimana mereka lebih mengadopsi teknologi. Bagaimana produk-produk mereka bisa kami kurasi lalu kami bantu produk mereka bisa melanglang buana. Paling tidak meraih pangsa pasar masyarakat yang lebih besar.

Dengan cara apa Lorena Group mengakali agar tetap bisa bertahan? Apakah menaikkan tarif?

Bus double decker Mercedes-Benz 2542 yang dibeli oleh Lorena sebagai bus AKAP. (ANTARA FOTO)

Kami tidak menaikkan tarif. Kami menciptakan rute-rute yang kami lihat penumpangnya memang lebih membutuhkan dari jalur dan izin-izin yang kami miliki.

Jadi, biasanya kami menggunakan creativity in routing system. Untungnya kami juga kan mengombinasikan dengan angkutan barang atau logistik. Jadi, bisa saling melengkapi.

Di antara 60 kota yang dilayani Lorena, daerah mana yang paling ramai penumpang?

Tetap Jawa, Sumatra. Itu rute tetap yang terbaik. Kami tetap bisa main di load factor 60 hingga 70 persen.

Ketika terjadi pelemahan rupiah, justru menarik turis dari negara tetangga untuk belanja dan memboyong produk Indonesia. Apakah ini peluang baru?

Sebenarnya sekarang ini, dari BIG sendiri kami mendapatkan tawaran lebih banyak memasukkan barang-barang kita ke negara-negara lain. Karena kursus ini menjadi nilai lebih buat mereka ya untuk belajar lebih dari kita

Seperti tas saya ini saja, ini kan juga semua made in Indonesia yang saya pakai ini. Kami punya kerjasama sekarang BIG dengan Alleira. Jadi, kami mulai masuk ke negara-negara ASEAN.

Kami mengadopsi UMKM-UMKM yang memang berpotensi untuk dinaikkan ke level premium menjadi bagian dari ekosistem bisnis kita.

Jadi saya percaya bahwa kegiatan adopsi under entrepreneur yang memiliki potensi tapi membutuhkan network, support dan mentor dari perusahaan yang lebih besar, itu merupakan hal yang sangat positif dan perlu kami lakukan.

Misalnya kami memperbesar investasi ke perusahaan kami sendiri dengan mengadopsi perusahaan-perusahaan atau usaha-usaha yang ada di UMKM ini menjadi ekosistem perusahaan kami.

Apa tantangan yang dihadapi oleh UMKM Indonesia untuk jadi global?

Yang pertama kalau kita mau membandingkan dengan Thailand ya, mereka bisa membuka restoran di luar negeri, karena difasilitasi oleh regulator atau pemerintah. Harga-harga barang yang mau keluar negeri itu dibantu sehingga mereka bisa membuka usahanya di mana saja. Itu merupakan perbedaan.

Kalau terjadi pengembangan secara cepat dan aman, itu pasti sangat wajar. Seperti China, mau buka usaha di Indonesia, mereka akan tanya berapa yang bisa direkrut lewat usaha baru ini, bahkan Anda akan difasilitasi. Prinsip mereka itu seperti Vini Vidi Vici, saya lihat, saya datang, saya menang.

Kita lihat di produk-produk China itu terjadi karena difasilitasi agar mereka kalau keluar dari China keluar dari negara asal mereka, mereka harus berhasil dan sukses. Karena itu memberikan nilai tambah kepada negara asalnya.

Saya juga berharap sih sebenarnya Indonesia bisa melakukan hal tersebut sehingga produk-produk kita bisa lebih dikenal. Namun saya sih bersyukur saat ini, kami kan fokusnya di 3F ya yaitu furniture (kebutuhan hidup sehari-hari), makanan siap saji (food) dan fashion. Di tiga hal itu kan Indonesia sangat kuat. Sampai saat ini sih potensi berkembangnya lebih besar lagi. Kami juga sedang fokus untuk bisa masuk ke pasar di Timur Tengah.

Ada pesan khusus yang ingin Anda sampaikan kepada pemerintah terkait dengan misi Bring Indonesia Global?

Saya yakin Pak Prabowo selaku presiden ingin bangsa ini tidak hanya menjadi bangsa yang mandiri dan kuat dan hebat di negaranya, namun juga menjadi bangsa yang dikenal. Selain itu, masyarakatnya bisa mengembangkan dirinya di negara-negara lain. Saya yakin Pak Presiden pasti memiliki visi seperti itu.

Maka saya percaya semoga ada namanya sebuah fasilitas yang dikedepankan untuk mereka bisa melakukan pemasaran produk-produk ke luar negeri. Setidaknya ada kolaborasi dari Kementerian Perdagangan, Kementerian UMKM dengan bagian perpajakan hingga imigrasi sehingga barang-barang kita ini bisa masuk ke tempat lain dengan biaya lebih efektif. Sehingga, kita mampu bersaing dengan banyak negara lain.

Sebenarnya, Indonesia itu punya semuanya. Tidak ada yang mustahil bahwa Indonesia bisa menjadi juara di Indonesia atau di negara-negara lain. Maju terus Indonesia!

Editorial Team

Related Article