Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Beli Mobil Baru Bisa Jadi Investasi Terburuk, Ini Alasannya
Ilustrasi membeli mobil (magnific.com)
  • Pakar keuangan Rachel Cruze menilai mobil baru cepat kehilangan nilai, bahkan sekitar 9% saat keluar dealer dan berpotensi 60% dalam lima tahun.
  • Membeli mobil bekas dinilai lebih masuk akal karena depresiasi awal telah ditanggung pemilik sebelumnya, sehingga harga lebih mendekati nilai kendaraan sebenarnya.
  • Untuk menjaga nilai jual mobil bekas, pembeli perlu memeriksa riwayat kendaraan, menjalankan perawatan rutin, serta mengontrol jarak tempuh dan kondisi kendaraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang menganggap membeli mobil baru sebagai salah satu pencapaian finansial. Namun, jika dilihat dari sisi keuangan, mobil justru bisa menjadi salah satu pengeluaran yang paling cepat kehilangan nilainya.

Dikutip dari MoneyLion, pakar keuangan Rachel Cruze mengingatkan bahwa keputusan membeli mobil baru tanpa mempertimbangkan depresiasi dapat membuat seseorang kehilangan banyak uang dalam beberapa tahun.

Melalui gaya penyampaiannya yang lugas dan mudah dipahami, Cruze kerap membahas kebiasaan finansial yang terlihat normal, tetapi sebenarnya bisa membuat kondisi keuangan semakin berat. Salah satunya adalah keputusan membeli mobil baru.

1. Mengapa mobil baru bukan investasi yang menguntungkan?

Ilustrasi jual beli mobil (magnific.com)

Dalam sebuah video di Instagram, Cruze mengajak audiens membayangkan sebuah investasi yang berpotensi kehilangan 60 persen nilainya hanya dalam lima tahun. Tentu, hampir tidak ada orang yang mau memasukkan uang ke dalam investasi seperti itu. Namun, menurut Cruze, banyak orang justru melakukan hal tersebut ketika membeli mobil baru—bahkan ada yang mengulanginya setiap beberapa tahun.

Mobil memang bukan instrumen investasi seperti saham atau obligasi. Namun, kendaraan merupakan salah satu pengeluaran besar dalam kehidupan sehari-hari. Data U.S. Bureau of Labor Statistics bahkan menunjukkan bahwa transportasi menyerap sekitar 17 persen dari rata-rata anggaran masyarakat Amerika.

Karena itu, memperlakukan mobil sebagai aset yang perlu dipertimbangkan nilainya dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijak, mulai dari memilih kendaraan hingga menentukan kapan waktu yang tepat untuk menjualnya.

Masalah utamanya: Depresiasi mobil

Ilustrasi mobil (magnific.com)

Salah satu kelemahan terbesar mobil baru adalah depresiasi atau penurunan nilai. Cruze menyebut bahwa dalam banyak kasus, sebuah mobil baru bisa kehilangan sekitar 9% nilainya begitu keluar dari dealer.

Sebagai contoh, mobil yang dibeli seharga Rp532,7 juta bisa saja langsung kehilangan sekitar Rp53,3 juta dari nilainya hanya dalam perjalanan pulang dari dealer.

Inilah salah satu alasan Cruze lebih menyarankan membeli mobil bekas. Ketika membeli mobil yang sudah pernah dimiliki orang lain, sebagian besar penurunan nilai awal sudah ditanggung oleh pemilik sebelumnya. Dengan begitu, harga yang kamu bayarkan bisa lebih dekat dengan nilai kendaraan sebenarnya.

3 cara mengurangi dampak depresiasi saat membeli mobil bekas

Ilustrasi orang mengendarai mobil (magnific.com)

Usia, jarak tempuh, dan kondisi kendaraan menjadi faktor yang memengaruhi harga jual mobil. Meski usia tidak bisa dihentikan, kamu tetap bisa menjaga mileage dan kondisi kendaraan agar nilainya tidak turun terlalu cepat.

  • Cek riwayat kendaraan

Salah satu risiko membeli mobil bekas adalah tidak mengetahui bagaimana pemilik sebelumnya merawat kendaraan.

Mobil yang rutin diservis, bebas dari kecelakaan serius, dan memiliki riwayat servis jelas tentu lebih aman dibandingkan kendaraan dengan riwayat yang tidak diketahui.

Sebelum membeli, periksa laporan kendaraan untuk mengetahui riwayat kecelakaan, perbaikan, hingga pergantian kepemilikan.

  • Jangan abaikan perawatan rutin

Jangan menunggu mobil bermasalah baru melakukan servis. Ikuti jadwal perawatan yang direkomendasikan produsen, termasuk ganti oli, rotasi ban, dan pemeriksaan komponen penting.

Perawatan rutin membantu menjaga performa sekaligus mendeteksi masalah kecil sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih mahal.

  • Kurangi jarak tempuh

Selain kondisi kendaraan, mileage juga berpengaruh terhadap nilai jual mobil.

Progressive Insurance merekomendasikan penggunaan kendaraan kurang dari 10.000 mil per tahun untuk membantu mengurangi risiko kerusakan akibat pemakaian.

Semakin terjaga jarak tempuh dan kondisi mobil, semakin besar peluang nilainya tetap bertahan saat dijual kembali.

Membeli mobil bukan hanya soal apakah kamu mampu membayar cicilan atau harga kendaraan saat ini. Kamu juga perlu memikirkan seberapa cepat nilainya turun, berapa biaya perawatannya, dan berapa banyak nilai yang masih bisa kamu dapatkan ketika menjualnya kembali.

Jadi, jika tujuanmu adalah membuat keputusan finansial yang lebih sehat, mobil bekas dengan riwayat yang jelas, perawatan teratur, dan penggunaan yang terkontrol bisa menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal dibandingkan terus membeli mobil baru setiap beberapa tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article