Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Bangun Dana Darurat untuk Pekerja dengan Penghasilan Gak Tetap

5 Cara Bangun Dana Darurat untuk Pekerja dengan Penghasilan Gak Tetap
ilustrasi tabungan (pexels.com/Joslyn Pickens)
Intinya Sih
  • Dana darurat penting bagi pekerja berpenghasilan tidak tetap karena bisa jadi penyelamat saat pemasukan menurun, asal dibangun dengan strategi dan konsistensi.
  • Langkah utama mencakup menghitung rata-rata penghasilan, memprioritaskan kebutuhan dasar, serta menyisihkan dana berdasarkan persentase dari setiap pemasukan.
  • Gunakan momen penghasilan tinggi untuk menambah tabungan dan tetapkan target realistis agar proses membangun dana darurat terasa ringan namun tetap efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagi pekerja dengan penghasilan tetap setiap bulan, menyisihkan uang untuk dana darurat mungkin terasa lebih mudah. Namun, bagi freelancer, pekerja proyek, pedagang, atau pekerja dengan penghasilan tidak menentu, membangun dana darurat sering terasa jauh lebih menantang. Kadang pemasukan besar, tapi di bulan lain justru sangat minim.

Padahal, bagi orang dengan penghasilan tidak tetap, dana darurat itu jauh lebih penting. Karena ketika pemasukan tiba-tiba sepi, dana inilah yang bisa menjadi penyelamat agar kebutuhan sehari-hari tetap berjalan tanpa harus berutang. Kabar baiknya, dana darurat tetap bisa dibangun meski penghasilan tidak stabil. Kuncinya ada pada strategi dan konsistensi.

1. Hitung rata-rata penghasilan bulanan

ilustrasi pembayaran gaji
ilustrasi pembayaran gaji (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Langkah pertama yang penting dilakukan adalah mengetahui rata-rata penghasilan. Caranya, catat penghasilan selama beberapa bulan terakhir, lalu ambil nilai rata-ratanya. Misalnya, dalam enam bulan terakhir kamu mendapatkan penghasilan yang berbeda-beda. Ada bulan yang tinggi, ada juga yang rendah.

Dengan menghitung rata-rata, kamu bisa memiliki gambaran angka yang lebih realistis untuk dijadikan dasar perencanaan keuangan. Angka ini nantinya bisa menjadi patokan untuk menentukan berapa besar dana darurat yang perlu dikumpulkan.

2. Prioritaskan kebutuhan dasar terlebih dulu

ilustrasi menyusun skala prioritas (freepik.com/wayhomestudio)
ilustrasi menyusun skala prioritas (freepik.com/wayhomestudio)

Saat penghasilan tidak tetap, penting sekali untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Fokuskan dulu pengeluaran pada kebutuhan utama, seperti makanan, tempat tinggal, listrik, dan kebutuhan keluarga. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah sisa uang bisa dialokasikan untuk dana darurat. Dengan cara ini, kamu tetap bisa menabung tanpa harus mengganggu kebutuhan sehari-hari. Pendekatan ini juga membantu menghindari kebiasaan menghabiskan uang saat sedang mendapat pemasukan besar.

3. Sisihkan persentase, bukan nominal tetap

ilustrasi menabung (pexels.com/Dany Kurniawan)
ilustrasi menabung (pexels.com/Dany Kurniawan)

Banyak orang gagal membangun dana darurat karena menetapkan nominal tabungan yang terlalu kaku. Padahal, untuk pekerja dengan penghasilan tidak tetap, cara ini justru bisa menyulitkan. Sebagai gantinya, gunakan sistem persentase. Misalnya, menyisihkan 10–20 persen dari setiap pemasukan yang diterima.

Dengan metode ini, jumlah yang disisihkan akan menyesuaikan kondisi keuangan. Saat penghasilan besar, tabungan juga ikut besar. Saat penghasilan kecil, tetap ada yang disisihkan meski jumlahnya lebih sedikit.

4. Manfaatkan bulan dengan penghasilan tinggi

ilustrasi uang (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi uang (unsplash.com/Mufid Majnun)

Dalam pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap, biasanya ada masa “panen”. Misalnya, ketika proyek sedang banyak atau penjualan sedang bagus. Di saat seperti ini, godaan untuk meningkatkan gaya hidup sering kali muncul. Padahal justru momen tersebut adalah kesempatan terbaik untuk mempercepat pengumpulan dana darurat.

Sebisa mungkin, alokasikan porsi lebih besar untuk tabungan ketika penghasilan sedang tinggi. Dengan begitu, ketika nanti pemasukan menurun, kamu sudah memiliki bantalan finansial yang cukup. Jadi, saat musim "sepi" kamu tidak terlalu panik karena sudah ada simpanan.

5. Tetapkan target yang realistis

ilustrasi uang (vecteezy.com/Ivan Ahmad Jauhari)
ilustrasi uang (vecteezy.com/Ivan Ahmad Jauhari)

Banyak orang merasa dana darurat sulit dicapai karena langsung menargetkan jumlah yang sangat besar. Padahal, untuk pekerja dengan penghasilan tidak tetap, lebih baik memulai dari target kecil terlebih dulu. Misalnya, menargetkan dana darurat setara satu bulan pengeluaran. Setelah tercapai, baru ditingkatkan menjadi tiga bulan, lalu enam bulan.

Pendekatan bertahap seperti ini membuat proses menabung terasa lebih ringan dan tidak terlalu membebani keuangan. Pada akhirnya, membangun dana darurat bagi pekerja dengan penghasilan tidak tetap memang membutuhkan disiplin ekstra. Namun, bukan berarti hal itu mustahil dilakukan. Dengan strategi yang tepat, kebiasaan menabung sedikit demi sedikit bisa berubah menjadi perlindungan finansial yang sangat penting di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Business

See More