ilustrasi pembatasan akses penuh terhadap dana darurat (pexels.com/www.kaboompics.com)
Mengetahui nominal target saja gak akan mengubah keadaan kalau kamu gak segera mengambil aksi nyata untuk menyisihkannya dari rekening utamamu. Kunci utama dari keberhasilan membangun dana darurat ini tentu dengan menerapkan sistem potong langsung begitu kamu menerima pembayaran dari klien. Kamu bisa memanfaatkan rekening bank terpisah tanpa fasilitas kartu ATM atau mobile banking aktif agar uang daruratmu gak gampang terusik untuk kebutuhan impulsif. Konsistensi dalam menyisihkan dana jauh lebih penting daripada nominal besar yang hanya disetor sekali lalu macet berbulan-bulan.
Ada baiknya kamu menyisihkan sekitar 20 persen dari rata-rata penghasilan bulananmu khusus untuk pos keselamatan ini. Jika merujuk kembali pada kasus Andi yang memiliki rata-rata pemasukan Rp9 juta, maka alokasi tabungan darurat bulanan yang ideal adalah sebesar Rp9 juta × 20 persen = Rp1,8 juta.
Namun, perlu diingat bahwa persentase ini wajib disesuaikan dengan kapasitas budget yang memang realistis bagi dompetmu, lho. Jangan memaksakan diri terlalu ekstrem sampai kebutuhan pokokmu telantar, ya. Itulah mengapa kamu tetap perlu berusaha semaksimal mungkin agar tabungan ini terus terisi secara berkala.
Apapun keputusan karier yang kamu pilih, baik bertahan menjadi freelancer penuh waktu maupun beralih menjadi karyawan kantoran tetap, semuanya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, kok. Hal yang paling esensial adalah kamu benar-benar menguasai cara menghitung dana darurat bagi pekerja freelance agar masa depan finansial serta kariermu berjalan sukses, tenang, dan bahagia. Yuk, siapkan kalkulatormu untuk menghitung pemasukan dan pengeluaranmu saat ini juga!