Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri Orang Kecanduan Pinjol dan Cara Mengatasinya Menurut Psikologi

Ciri Orang Kecanduan Pinjol dan Cara Mengatasinya Menurut Psikologi
ilustrasi pinjaman online (freepik.com/tirachardz)
Intinya Sih
  • Penggunaan pinjol meningkat di kalangan milenial dan Gen Z karena tekanan ekonomi, namun kemudahan aksesnya berisiko menimbulkan kecanduan finansial jika tidak disertai perencanaan matang.
  • Kecanduan pinjol ditandai kecemasan saat tak bisa meminjam, pola gali lubang tutup lubang, hingga menyembunyikan utang dari orang terdekat yang memperburuk kondisi mental dan sosial.
  • Psikolog menyarankan pengendalian diri, dukungan sosial, serta pendampingan profesional untuk membantu individu keluar dari siklus ketergantungan pinjol dan memperbaiki keseimbangan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pinjaman online atau pinjol kini menjadi solusi finansial yang semakin mudah diakses oleh masyarakat karena prosesnya cepat dan tidak memerlukan jaminan. Dalam kondisi tertentu, layanan ini memang terasa membantu, terutama saat seseorang menghadapi kebutuhan mendesak dan tidak memiliki cadangan dana yang cukup.

Namun, kemudahan tersebut juga menyimpan risiko besar apabila digunakan secara berulang tanpa perencanaan keuangan yang matang dan realistis. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, penggunaan pinjol mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan mayoritas pengguna berasal dari generasi milenial dan generasi Z.

Kelompok usia ini umumnya berada pada fase hidup dengan tekanan ekonomi yang tinggi, sehingga pinjol kerap dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah keuangan. Agar tidak terjebak lebih jauh, penting bagi setiap orang untuk mengenali ciri orang sudah kecanduan pinjol dan memahami cara mengatasinya melalui penjelasan berikut ini.

1. Merasa cemas berlebihan saat tidak bisa mengakses pinjol

ilustrasi cemas (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi cemas (pexels.com/Timur Weber)

Salah satu ciri orang sudah kecanduan pinjol adalah munculnya rasa cemas yang berlebihan ketika tidak dapat mengakses layanan pinjaman online. Kecemasan ini bisa muncul saat pengajuan pinjaman ditolak, limit pinjaman sudah habis, atau aplikasi pinjol mengalami gangguan teknis. Reaksi emosional yang muncul sering kali tidak sebanding dengan situasi yang sebenarnya.

Dalam kondisi ini, pinjol tidak lagi diposisikan sebagai alat bantu finansial semata. Pinjol berubah menjadi sumber rasa aman secara psikologis yang memberi ketenangan sementara. Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi, menjelaskan bahwa ketika akses tersebut terhambat, individu akan merasa kehilangan pegangan yang selama ini diandalkan untuk meredakan stres.

Cara mengatasinya adalah dengan mulai mengenali pemicu kecemasan yang muncul. Individu perlu belajar mencari alternatif pengelolaan stres yang lebih sehat, seperti aktivitas fisik ringan, latihan pernapasan, atau menyalurkan emosi melalui tulisan. Jika kecemasan terus berulang dan mengganggu aktivitas harian, pendampingan psikolog sangat disarankan.

2. Terjebak pola gali lubang tutup lubang

ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)
ilustrasi utang (freepik.com/rawpixel.com)

Ciri orang sudah kecanduan pinjol berikutnya terlihat dari kebiasaan menggunakan pinjaman baru untuk membayar utang lama. Pola ini kerap dianggap sebagai solusi cepat karena mampu meredakan tekanan dalam waktu singkat. Namun, kenyamanan sementara tersebut justru menjerumuskan individu ke dalam lingkaran utang yang semakin sulit dikendalikan.

Perilaku gali lubang tutup lubang menunjukkan bahwa fokus seseorang hanya tertuju pada rasa lega sesaat. Dampak jangka panjang, seperti bunga yang terus bertambah dan tenggat pembayaran yang menumpuk, sering kali diabaikan. Akibatnya, kondisi keuangan menjadi semakin rapuh tanpa disadari.

Untuk mengatasi hal ini, langkah awal yang penting dilakukan adalah menghentikan kebiasaan mengambil pinjaman baru. Setelah itu, individu perlu menyusun daftar utang secara menyeluruh agar kondisi finansial terlihat lebih realistis. Psikolog juga menyarankan agar individu tidak ragu meminta bantuan dari orang tepercaya atau konsultan keuangan agar memiliki strategi penyelesaian yang lebih terarah.

3. Tetap meminjam meski sadar risikonya besar

ilustrasi pinjam uang
ilustrasi pinjam uang (freepik.com/jcomp)

Seseorang yang sudah kecanduan pinjol biasanya tetap melakukan pinjaman meski menyadari bunga yang tinggi dan risiko penagihan yang menyertai. Informasi mengenai dampak negatif pinjol sebenarnya sudah dipahami, tetapi tidak cukup kuat untuk menghentikan perilaku tersebut. Dorongan emosional untuk merasa aman dan lega menjadi lebih dominan daripada pertimbangan rasional.

Menurut Meity, pola ini mirip dengan perilaku adiktif lainnya. Otak cenderung mengingat rasa nyaman sesaat yang muncul setelah dana cair, sementara konsekuensi jangka panjang dianggap sebagai masalah yang bisa dipikirkan nanti. Pola pikir seperti ini membuat seseorang terus mengulang kebiasaan yang merugikan dirinya sendiri.

Cara mengatasinya adalah dengan melatih kontrol diri terhadap impuls. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah menunda keputusan meminjam selama 24 jam. Jeda waktu ini membantu individu berpikir lebih jernih dan menimbang dampak jangka panjang sebelum mengambil keputusan finansial.

4. Menyembunyikan penggunaan pinjol dari orang terdekat

ilustrasi cemas karena hutang
ilustrasi cemas karena hutang (freepik.com/tirachardz)

Ciri orang sudah kecanduan pinjol juga dapat dilihat dari kecenderungan menyembunyikan kebiasaan meminjam dari keluarga atau pasangan. Rasa malu, takut dihakimi, atau khawatir menimbulkan konflik membuat individu memilih memendam masalahnya sendiri. Padahal, sikap tertutup justru memperparah kondisi psikologis.

Ketika seseorang menyimpan masalah sendirian, beban mental akan terasa semakin berat. Individu merasa terisolasi dan tidak memiliki tempat aman untuk meminta bantuan. Dalam jangka panjang, tekanan emosional ini dapat memicu stres berkepanjangan dan memperburuk pengambilan keputusan.

Psikolog menekankan pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan. Membuka diri kepada orang tepercaya dapat membantu meringankan beban emosional sekaligus membuka peluang solusi bersama. Transparansi menjadi langkah awal yang penting untuk keluar dari siklus kecanduan pinjol.

5. Mengalami gangguan tidur dan perubahan suasana hati

ilustrasi cemas (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi cemas (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tekanan akibat utang pinjol sering berdampak langsung pada kondisi fisik dan mental seseorang. Gangguan tidur, mudah marah, serta kesulitan berkonsentrasi menjadi keluhan yang umum dialami. Perubahan suasana hati yang drastis juga dapat muncul meski tanpa pemicu yang jelas.

Kondisi ini terjadi karena pikiran terus-menerus dipenuhi kekhawatiran terkait tagihan dan penagihan. Tubuh berada dalam keadaan siaga berkepanjangan sehingga sulit beristirahat secara optimal. Jika dibiarkan, kualitas hidup dan produktivitas sehari-hari akan menurun secara signifikan.

Cara mengatasinya adalah dengan mulai memperbaiki pola hidup secara bertahap. Menjaga jadwal tidur, mengurangi konsumsi kafein, dan menyediakan waktu khusus untuk relaksasi sangat dianjurkan. Apabila gangguan ini terus berlanjut, bantuan profesional diperlukan agar kondisi mental tidak semakin memburuk.

6. Menganggap pinjol sebagai satu-satunya jalan keluar

ilustrasi pinjaman online
ilustrasi pinjaman online (freepik.com/freepik)

Ciri paling serius dari kecanduan pinjol adalah keyakinan bahwa pinjaman online merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah keuangan. Pola pikir ini mencerminkan perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan terhadap alternatif lain. Individu merasa terjebak dalam situasi yang dianggap tidak memiliki jalan keluar.

Dalam kondisi ini, tekanan emosional biasanya sangat kuat dan mendominasi cara berpikir. Rasa takut, cemas, dan panik membuat seseorang sulit melihat pilihan lain secara objektif. Akibatnya, pinjol terus dijadikan andalan meski masalah finansial tidak benar-benar terselesaikan.

Psikolog menyarankan pendekatan pemulihan yang berfokus pada penguatan rasa kontrol diri. Individu perlu dibantu untuk mengenali opsi lain, seperti penyesuaian gaya hidup, restrukturisasi utang, atau mencari sumber pendapatan tambahan. Dengan pendampingan yang tepat, pola pikir ini dapat diubah secara perlahan.

Ciri orang sudah kecanduan pinjol tidak hanya tercermin dari jumlah utang, tetapi juga dari perubahan perilaku, emosi, dan cara berpikir. Mengenali tanda-tanda ini sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih besar. Dengan kesadaran, dukungan sosial, dan bantuan profesional yang tepat, kecanduan pinjol masih bisa diatasi sebelum benar-benar merusak kualitas hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More