Kelas Menengah Paling Kesepian, Ini Alasannya Menurut Pakar Keuangan

- Pakar keuangan Lyn Allure menilai kelas menengah rentan kesepian karena berada di antara komunitas berpenghasilan rendah yang erat dan kelompok kaya yang memiliki sumber daya mandiri.
- Kelompok berpenghasilan rendah membangun kebersamaan melalui saling membantu, sedangkan kelompok kaya dapat memakai tenaga profesional namun tetap memiliki jaringan sosial dengan aturan bersama.
- Kelas menengah kerap bingung memilih bantuan komunitas atau sumber daya pribadi; penguatan hubungan keluarga, teman, tetangga, dan komunitas lokal dapat memberi dukungan emosional serta jaringan.
Selama ini kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang hidupnya paling aman secara finansial. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi belum tentu punya kebebasan finansial seperti kelompok kaya.
Di sisi lain, ada persoalan berbeda yang ternyata bisa dirasakan kelompok ini, yaitu kesepian dan sulitnya menemukan rasa kebersamaan. Kondisi tersebut disoroti oleh pakar keuangan Lyn Allure berdasarkan pengalamannya hidup di lingkungan dengan kondisi ekonomi yang berbeda. Menurutnya, posisi kelas menengah membuat seseorang berada di antara dua dunia yang memiliki pola hubungan sosial gak sama.
1. Berada di tengah dua pola kehidupan

ilustrasi memandang jendela (pexels.com/Pixabay) Menurut Lyn Allure, pengalaman hidup di tiga lingkungan sosial ekonomi membuatnya melihat perbedaan yang cukup jelas dalam cara orang membangun hubungan. Ia pernah tumbuh di lingkungan berpenghasilan rendah, kemudian pindah ke kawasan kelas menengah saat berusia 11 tahun. Ketika memasuki usia dewasa, ia berhasil mengumpulkan kekayaan hingga dapat menjalani gaya hidup kelas atas.
Dari pengalaman tersebut, Lyn melihat bahwa lingkungan dengan kondisi ekonomi lebih rendah cenderung memiliki hubungan sosial yang erat. Sementara itu, kelompok kaya memiliki sumber daya dan koneksi untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa selalu bergantung pada tetangga atau keluarga. Kelas menengah justru berada di antara keduanya sehingga pola hidup dan hubungan sosialnya gak selalu memiliki aturan bersama yang jelas.
2. Komunitas terasa lebih kuat di kalangan berpenghasilan rendah

ilustrasi komunitas, teamwork (magnific.com/8photo) Menurut Lyn, masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas sering mengandalkan hubungan saling membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan tersebut bisa terlihat sederhana, misalnya keluarga atau tetangga bergantian menjaga anak. Makan bersama, potluck, hingga tinggal bersama anggota keluarga dalam satu rumah juga dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Pola seperti ini membuat setiap orang memiliki peran dalam komunitasnya. Ketika satu keluarga sedang mengalami kesulitan, orang-orang di sekitarnya bisa ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing. Menurut Lyn, ketergantungan satu sama lain tersebut akhirnya menciptakan rasa kebersamaan karena setiap anggota komunitas memahami bahwa mereka saling membutuhkan.
3. Orang kaya punya sumber daya untuk menggantikan peran komunitas

ilustrasi mobil mewah, kaya raya (pexels.com/ata ataer) Situasinya berbeda pada kelompok kelas atas karena banyak kebutuhan dapat dipenuhi dengan bantuan sumber daya yang mereka miliki. Menurut Lyn, kebutuhan seperti pengasuhan anak, penyediaan makanan untuk acara keluarga, hingga berbagai pekerjaan rumah tangga dapat dialihkan kepada tenaga profesional. Kondisi tersebut membuat seseorang gak selalu perlu meminta bantuan keluarga atau tetangga ketika menghadapi kebutuhan tertentu.
Meski begitu, Lyn menilai kelompok kelas atas tetap memiliki bentuk kebersamaan tersendiri. Mereka biasanya memiliki jaringan sosial dengan aturan dan ekspektasi tertentu yang dipahami bersama. Perbedaannya, hubungan tersebut gak selalu muncul karena kebutuhan dasar sehingga ketergantungan antarindividu dapat terlihat lebih kecil dibandingkan kelompok dengan kondisi ekonomi terbatas.
4. Kelas menengah sering bingung harus bergantung pada siapa

ilustrasi kereta api, komuter, transportasi umum, Jakarta, Indonesia, kelas menengah, pekerja (unsplash.com/Reyhan Aviseno) Menurut Lyn, persoalan utama kelas menengah terletak pada gak adanya aturan bersama mengenai kapan seseorang harus mengandalkan komunitas dan kapan harus menggunakan sumber daya pribadi. Sebagian orang mungkin masih sangat mengandalkan keluarga atau tetangga, sementara sebagian lainnya memilih menyelesaikan hampir semua persoalan dengan uang. Kondisi tersebut dapat membuat batas antara mandiri dan membutuhkan bantuan terasa semakin samar.
Kamu mungkin pernah mengalami situasi seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada masalah, kamu punya cukup uang untuk membayar layanan profesional, tapi pada saat yang sama gak selalu merasa nyaman mengeluarkan uang untuk semuanya. Di sisi lain, meminta bantuan orang lain juga bisa terasa canggung karena muncul anggapan bahwa kamu seharusnya mampu menyelesaikan persoalan sendiri.
5. Membangun komunitas bisa menjadi bagian dari ketahanan finansial

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/@fauxels) Persoalan kesepian pada kelas menengah akhirnya bukan hanya berkaitan dengan kehidupan sosial. Dalam pembahasannya mengenai kondisi kelas menengah, Brookings Institution juga menyoroti pentingnya memperkuat hubungan dan keterlibatan dalam komunitas lokal di tengah berbagai tekanan yang dihadapi kelompok ini. Hubungan yang lebih kuat dapat memberikan dukungan emosional sekaligus membantu seseorang memiliki jaringan ketika menghadapi persoalan tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa memiliki kondisi finansial yang relatif stabil tetap gak bikin seseorang bisa mengabaikan peran komunitas. Kamu mungkin mampu membayar berbagai kebutuhan sendiri, tapi dukungan dari keluarga, teman, tetangga, atau kelompok lokal tetap punya nilai tersendiri. Karena itu, membangun hubungan sosial yang sehat bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapi tekanan hidup tanpa harus selalu mengandalkan uang.
Kesepian pada kelas menengah ternyata bisa muncul dari posisi sosial yang serba tanggung. Kamu mungkin sudah cukup mandiri secara finansial sehingga tak terbiasa bergantung pada komunitas, tapi belum tentu memiliki sumber daya sebesar kelompok kaya untuk menyelesaikan semua kebutuhan sendiri.
Pada akhirnya, membangun hubungan dengan keluarga, teman, tetangga, atau komunitas lokal tetap penting meski kondisi finansialmu sudah cukup stabil. Pendapatan memang bisa membantu memenuhi banyak kebutuhan, tapi rasa memiliki dan dukungan sosial tetap membutuhkan hubungan dengan orang lain.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















