Trump Keliru Sebut Iran sebagai Republik Islam Jepang Saat KTT NATO

- Donald Trump salah menyebut Iran sebagai 'Republik Islam Jepang' saat KTT NATO di Ankara, memicu sorotan publik atas kekeliruannya dalam membahas isu Timur Tengah.
- Dalam sesi yang sama, Trump juga keliru memanggil Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai Vladimir Putin sebelum segera mengoreksi ucapannya di depan media.
- Selain dua kesalahan itu, Trump sempat salah melafalkan TikTok menjadi 'Tic Tac' dan menyebut Erdogan sebagai pemimpin perusahaan, menambah daftar blunder verbalnya di forum internasional tersebut.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi sorotan setelah melakukan serangkaian kekeliruan verbal dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026). Momen itu terjadi ketika presiden berusia 80 tahun tersebut tampil dalam sesi media bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan salah menyebut Iran sebagai “Republik Islam Jepang” saat membahas ketegangan di Timur Tengah.
Trump awalnya membahas lisensi produksi rudal Patriot untuk Ukraina serta memuji kemampuan sistem pertahanan tersebut. Ia kemudian mengingat kembali klaim insiden serangan rudal pada bulan Maret yang mengarah ke kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, insiden yang sebenarnya telah dibantah oleh Pentagon.
“Kami mendapat 111 rudal yang ditembakkan oleh Republik Islam Jepang. Dan setiap rudal itu ditembak jatuh, sebagian besar oleh Patriot, tetapi juga dengan cara lain,” kata Trump, dikutip The National.
Padahal, Jepang merupakan negara yang mayoritas penduduknya menganut Shinto dan Buddha dengan penganut Islam hanya sekitar 0,3 persen, sementara Iran memiliki nama resmi Republik Islam Iran.
1. Klaim kekuatan militer AS terhadap Iran

Meski sempat salah menyebut nama negara di awal, Trump dalam sesi yang sama kemudian merujuk Iran secara langsung saat membahas teknologi militer Washington. Ia menyatakan bahwa kekuatan angkatan laut dan udara Iran telah dilumpuhkan.
Pernyataan tersebut dilontarkan Trump untuk menegaskan kembali dominasi kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah.
2. Salah memanggil Zelenskyy sebagai Putin

Kekeliruan Trump tidak berhenti di situ. Dilansir dari People, ia juga sempat mencampuradukkan Zelenskyy yang duduk tepat di sampingnya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Di depan awak media, Trump tiba-tiba menanyakan apakah terdapat pertanyaan yang ingin diajukan kepada "Presiden Putin".
Setelah menyadari kesalahan tersebut karena para jurnalis tertawa, Trump langsung mencoba memperbaiki ucapannya. Ia berseloroh menawarkan diri untuk meneruskan pertanyaan wartawan kepada Presiden Rusia yang sebenarnya.
3. Rentetan blunder verbal lain yang mencuri perhatian

Dalam rangkaian KTT tersebut, Trump juga kedapatan salah melafalkan aplikasi video TikTok menjadi "Tic Tac"—merek permen kecil yang diketahui amat disukainya. Selain itu, ia sempat menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai pemimpin dari sebuah "perusahaan" hebat, sebelum akhirnya mengoreksi kata tersebut menjadi "negara".
Rentetan kesalahan ini menjadi ironi karena Trump selama ini sangat vokal mengkritik verbal stumbles atau kekeliruan berbicara yang sering dialami eks Presiden AS, Joe Biden. Dua tahun lalu dalam forum NATO yang sama, Biden yang saat itu berusia 81 tahun juga pernah melakukan blunder serupa dengan memperkenalkan Zelenskyy sebagai "Presiden Putin".















